Macro Economy: Apakah Kita Sedang Mengulang Siklus Imperial Circle AS pada Tahun 1980-an?
Kekuatan ekonomi AS yang terus bertahan di kala banyak negara mengalami pelemahan, memang tak dapat dipungkiri menjadi pendorong utama bagi pertumbuhan ekonomi global saat ini. Namun, apakah kondisi ini dapat berlanjut di masa depan? Pertanyaan ini masih menjadi perdebatan di kalangan ekonom dan praktisi pasar keuangan global.
Menariknya, fenomena serupa juga pernah terjadi pada dekade 1980-an. Meski tidak identik, terdapat kemiripan antara periode tersebut dengan situasi sekarang. Seperti yang sering kita dengar, "history doesn’t repeat, but it rhymes."
Pada era tersebut, kebijakan ekonomi Presiden Ronald Reagan—atau yang dikenal dengan sebutan Reaganomics— meningkatkan inflasi dan kegiatan ekonomi domestik. Akibatnya, The Fed harus merespon tingginya inflasi dengan menjaga suku bunga di level tinggi. Kuatnya pertumbuhan ekonomi + suku bunga yang tinggi juga mengundang arus investasi asing yang besar ke dalam aset keuangan AS. Hal ini menyebabkan USD, serta indeks saham AS mengalami lonjakan signifikan, bahkan mencapai titik tertinggi sepanjang masa (ATH). Pada saat itu, AS menjadi motor penggerak (growth engine) bagi ekonomi dunia sepanjang tahun 1980-an, meski akhirnya mengalami resesi kecil pada 1990-1991. Setelah resesi tersebut, ekonomi AS kembali bangkit hingga meledaknya dot-com bubble pada tahun 2000.
Kembali ke periode saat ini. Walaupun tidak persis sama dengan keadaan ekonomi di tahun 1980, tapi terdapat beberapa persamaan yang saya highlight. Pasca global inflasi tinggi tahun 2022, AS kembali menjadi growth engine bagi ekonomi global di saat negara lain masih struggle untuk pulih dari lonjakan inflasi di tahun sebelumnya. Pertumbuhan yang juga didorong oleh defisit neraca fiskal yang tinggi, memicu aktivitas domestik dan mempersulit usaha The Fed untuk menjinakan inflasi. Sebagai respons, bank sentral AS terpaksa mempertahankan suku bunga tinggi untuk mengembalikan inflasi ke level target.
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan suku bunga yang tinggi diatas kembali mendorong masuknya arus investasi spekulatif, seperti investasi portofolio, investasi langsung, dan investasi lainnya. Kondisi ini menyebabkan penguatan USD, sehingga AS menjadi relatif "lebih kaya" dibandingkan negara lain. Hal ini membuat AS menjadi target pasar seluruh dunia, sehingga impor melonjak dibandingkan dengan ekspor, memperlebar defisit pada neraca dagang AS. Namun, defisit yang melebar ini tidak juga melemahkan USD, dikarenakan arus masuk (inflow) yang masif dari arus investasi spekulatif. Siklus ini terus mengulang dan saling memperkuat satu sama lain.
Meski penguatan USD terlihat positif, ada efek samping yang perlu diperhatikan. USD yang terlalu kuat membuat barang-barang domestik AS menjadi kurang kompetitif di pasar domestik maupun internasional. Akibatnya, konsumen dan produsen AS lebih memilih untuk mengimpor barang yang lebih murah. Jika tren ini berlanjut, defisit neraca dagang AS akan semakin membengkak hingga pada suatu titik, arus kas keluar -dari neraca berjalan- melebihi arus kas masuk pada transaksi modal. Hal ini akan menyebabkan pelemahan dari USD dan ekonomi AS dengan potensi terjadinya cost push inflation. Tapi masalahnya bukan dari situ. Jika USD melemah secara perlahan, sedikit inflasi dari kenaikan harga barang & jasa (cost push inflation) tidak akan menyebabkan resesi. Masalahnya ada pada neraca modal, dimana sedikit saja pembalikan arah pada neraca ini (mungkin karena ekonomi tidak sebaik yang diperkirakan/valuasi yang terlalu tinggi pada saham, atau lainnya) dapat menyebabkan penurunan yang signifikan pada USD dan menimbulkan inflasi yang tiba-tiba dari kenaikan harga barang (cost push), sehingga melemahkan ekonomi AS dengan cepat. Pelemahan pada ekonomi AS akan membuat menarik outflow lebih besar, melemahkan USD dan ekonomi AS. Hal ini akan terus memperkuat diri hingga ekses pada perekonomian AS mereda. Pada saat itu, bukan tidak mungkin pelemahan pada ekonomi AS akan menyebar ke negara lain di seluruh dunia.
Lebih jauh lagi, jika pelemahan ekonomi AS ternyata tidak sekuat yang diekspektasikan pasar, bukan tidak mungkin terjadi outflow pada neraca modal lebih cepat dari titik yang sudah saya tuliskan di paragraf sebelumnya. Hal ini akan memperburuk neraca pembayaran AS, menyebabkan inflasi, memperburuk ekonomi AS lebih jauh, menarik lebih banyak outflow dan terus berlanjut. Intinya, hal yang harus dihindari adalah penurunan USD secara tiba2 yang berpotensi mentrigger pelemahan pada ekonomi AS dan outflow pada neraca pembayaran. Tanpa adanya penurunan USD secara tiba-tiba, saya rasa AS akan berhasil menstabilkan ekonominya tanpa resesi (soft landing).
Hal yang saya tuliskan ini tampaknya juga sudah disadari oleh pemerintahan Donald Trump (at least at the surface level). Beberapa kebijakan yang telah diambil menunjukkan upaya untuk melemahkan USD secara perlahan sembari memperkuat perekonomian domestik.
Setelah mencapai puncaknya pada 14 Januari 2025 -seminggu sebelum pelantikan Donald Trump- DXY mulai menunjukkan pelemahan. Setelah pelantikan, beberapa kebijakan langsung diterapkan, seperti:
- Deportasi imigran gelap dan efisiensi lembaga pemerintahan melalui kebijakan D.O.G.E — Untuk mengurangi ketatnya pasar tenaga kerja AS, dan defisit neraca fiskal terhadap GDP. Selama pemerintahan Joe Biden, kekuatan pasar tenaga kerja sebagian besar didorong oleh peningkatan jumlah imigran dan penciptaan lapangan kerja dari sektor pemerintahan.
- Pengenaan tarif - Walaupun bersifat inflationary pada jangka pendek, pengenaan tarif berpotensi memperbaiki neraca dagang mereka dalam jangka panjang dan memperkuat neraca pembayaran dari risiko outflow pada neraca modal.
- Melegalkan cryptocurrency - Meskipun Donald Trump dikenal sebagai pendukung cryptocurrency, saya yakin kebijakan ini lebih dari sekadar mendukung aset digital. Mungkin, ada niat untuk memberikan alternatif aset bagi investor dan trader. Dengan lemahnya ekonomi global, tentu pilihan aset keuangan yang menarik di pasar global menjadi lebih terbatas. Apalagi, aset-aset yang tergolong menarik tersebut sudah cenderung memiliki valuasi yang tinggi. Dengan dilegalkannya crypto currency -yang valuasinya masih sulit untuk di determinasi- US dapat menawarkan opsi bagi investor untuk mendiversifikasikan asetnya. Ujungnya, memperkuat neraca pembayaran dari risiko outflow dari transaksi modal.
Cuma, memang caranya ini agak beda dengan tahun 1980. Kalo di 1980 semua keputusan ini dinego dengan negara2 yang berkepentingan, tapi kalo sekarang lebih ke ngancem via trade war. Apakah akan berhasil? yaa we'll see lah ya...
Bottomline, kekuatan ekonomi AS yang berasal dari defisit neraca fiskal dan suku bunga tinggi ini menyulitkan banyak negara dalam upaya memperbaiki ekonomi dalam negeri mereka. Kalau mereka tidak mau mengikuti gaya AS, ekonomi mereka bisa terpukul karena potensi arus keluar pada transaksi modal akan melemahkan mata uang mereka, menyebabkan cost push inflation, dan memperlambat ekonomi. Hal ini bisa dilihat dari statement dan tindakan dari beberapa bank sentral yang sudah menurunkan suku bunga mereka, dan sebenarnya ingin menurunkan suku bunga lebih jauh, tapi terhalang oleh suku bunga AS yang tinggi. Dari sisi AS, kekuatan ekonomi yang seperti ini menurut saya akan sulit dipertahankan. Jika AS keras kepala tidak mau mengalah dan berbagi growth dengan negara lain, pada satu titik, industri AS akan kalah saing, menjadi kurang produktif dan menjadi target market dari seluruh dunia (negara konsumen terbesar yang tidak dapat menghasilkan barang/jasa secara efisien). Semakin lama AS mempertahankan postur ekonomi seperti ini, semakin cepat dan besar pula potensi kejatuhan pada saatnya nanti.
Sebagai penutup, ada 1 hal lagi yang saya rasa bisa membuat keadaan saat ini lebih sulit dari tahun 1980an, yaitu terkait level hutang yang sudah terlanjut tinggi. Tapi berhubung artikel ini sudah panjang, hal ini akan saya bahas jika ada kesempatan lainnya. See you on another article!
Visual: https://cutt.ly/orwQ9lOk