imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Dengan dividend investing, selama 20 tahun bisa seberapa besar return-nya?

Walaupun umumnya lebih rendah daripada capital gain, kita tidak bisa begitu saja mengabaikan return dari dividen karena dalam jangka panjang bisa berkontribusi besar terhadap keseluruhan return dari suatu saham.

Kata kuncinya adalah jangka panjang.

Kali ini saya akan coba mengulik bagaimana kinerja saham-saham dividen selama 20 tahun terakhir. Sebisa mungkin saya mengambil emiten dari industri yang berbeda-beda.

Beberapa rule:
1. Dividen direinvestasikan
2. Sejak tahun 2021, dividen yang direinvestasikan tidak terkena PPh.
3. Perhitungan pembelian saham berdasarkan jumlah lot maksimum. Artinya, bisa jadi akan ada cash yang tersisa dan bersama dengan dividen akan digunakan untuk pembelian saham selanjutnya.

Mari kita cek kinerja beberapa saham yang selama ini dikenal rutin membagikan dividen.

$ASII

Tercatat ASII rutin membagikan dividen selama 22 tahun terakhir.

Selama 20 tahun terakhir (2005-2024), harga saham ASII hanya naik 8,9% per tahun.

Namun jika dividen direinvestasikan, nilai investasi akan tumbuh sebesar 12,6% per tahun. Hal ini tidak terlepas dari pertumbuhan DPS yang mencapai 14,0% per tahun dengan dividend yield rata-rata sebesar 4,3% sehingga dividen yang diterima secara nominal tumbuh sebesar 17,9% per tahun.

Sebagai gambaran, jika dividen direinvestasikan, dengan modal Rp 10 juta pada awal tahun 2005, dividen yang awalnya hanya Rp 443 rb pada tahun tersebut meningkat menjadi Rp 10,2 juta pada tahun 2024.
Artinya, dividend yield on cost dalam 20 tahun adalah sekitar 102%.

Secara keseluruhan, modal Rp 10 juta pada awal investasi, dalam 20 tahun tumbuh menjadi Rp 107 juta (CAGR 12,6%).

ASII memang dikenal sebagai raksasa otomotif. Namun belakangan ini dihadapkan pada tantangan yang muncul dari maraknya perkembangan EV. Sebagai catatan, segmen otomotif ASII menyumbang sekitar 40,5% dari total pendapatannya. Namun karena marjin yang lebih rendah, segmen otomotif hanya menyumbang sekitar 20,1% dari laba bruto ASII.

Apakah ASII akan bisa bertahan?
Apakah ekspansi ke lini bisnis baru seperti kesehatan akan berhasil?
Apakah kinerjanya akan sebagus sebelumnya?

$BBRI

Sejak IPO pada tahun 2003, BBRI tidak pernah absen membagikan dividen.

Harga sahamnya juga naik dengan CAGR 14,2% selama 20 tahun terakhir. Jika dividen direinvestasikan,nilai investasi akan tumbuh sekitar 17,2% per tahun.

Bagus gak ya? Tergantung ekspekstasimu sih.

Tentang dividennya bagaimana?

Dengan investasi sebesar Rp 10 juta pada awal tahun 2005, dividen awal sebesar Rp 418 rb akan meningkat menjadi Rp 17,2 juta pada tahun 2024 atau meningkat 41x lipat.

Artinya, dividen yield on cost setelah 20 tahun adalah sekitar 172%.

Itu jika dividennya direinvestasikan ya.

Belakangan ini memang ada concern terkait tertekannya bisnis UMKM yang merupakan salah satu segmen pasar dari BBRI. Apakah BBRI akan bisa mengatasinya?

INDF

Tercatat emiten ini tidak pernah absen membagikan dividen selama 24 tahun terakhir.

Tapi memang walaupun DPS tumbuh sekitar 15,6% per tahun selama 20 tahun terakhir, dividend yield rata-ratanya tidak terlalu tinggi, yaitu 3,1%.

Apa dampaknya?

Dengan modal Rp 10 juta pada awal tahun 2005, dividen yang awalnya sebesar Rp 212 rb meningkat menjadi Rp 5,4 juta pada tahun 2024.

Itu artinya, walaupun tidak sebesar ASII atau BBRI, dividen yield on cost INDF mencapai 54% dalam 20 tahun.

Sementara itu, harga sahamnya rata-rata meningkat sebesar 12% per tahun. Jika dividen direinvestasikan, modal awal investasi sebesar Rp 10 jt dalam 20 tahun akan meningkat menjadi Rp 162,4 jt (CAGR 15%).

Apakah bisnis INDF akan bisa tumbuh secepat sebelumnya? Ini yang perlu kita cari tahu lebih lanjut.

$PTBA

Seperti halnya BBRI, sejak IPO pada tahun 2002, PTBA rutin membagikan dividen setiap tahunnya.

Tapi memang dividennya naik turun sih karena memang jualannya adalah batubara yang harganya bersifat siklikal. Namun pengamatan dalam time frame yang panjang (20 tahun) akan bisa memberikan gambaran bagaimana sebuah emiten coal melewati beberapa siklus ekonomi.

Sebagai catatan (penting), pengukuran dimulai pada tahun 2005 ketika harga Australian Thermal Coal (saya lihat di Index Mundi) adalah USD 38,23 per ton di akhir tahun tersebut. Murah banget sih memang waktu itu. Jadi, sangat mungkin hasil backtrack akan berbeda jika dimulai saat harga coal lebih tinggi.

Selama 20 tahun terakhir, DPS PTBA tumbuh 18,0% per tahun dengan dividend yield rata-rata 7,9%.
Jika dividen direinvestasikan, dengan modal Rp 10 jt, dividen sebesar Rp 562 ribu pada tahun 2005 akan meningkat menjadi Rp 44,4 jt pada tahun 2024 (CAGR 25,9%).

Sementara itu, nilai investasi tersebut akan meningkat menjadi Rp 352 juta atau tumbuh sekitar 19,5% per tahun.

Tapi ingat, simulasinya dimulai ketika harga coal rendah. Hasilnya bisa beda (banget) jika dimulai ketika harga coal tinggi.

SMSM
Sejak IPO pada akhir tahun 1996, SMSM mulai membagikan dividen pada tahun 1997 dan tidak pernah absen hingga tahun 2024 (28 tahun).

Selama kurun waktu 20 tahun, DPS SMSM tumbuh sekitar 16,7% per tahun dengan median dividend yield 5,1%.

Harga sahamnya sendiri tumbuh sekitar 17,7% per tahun selama kurun waktu tersebut.

Jika dihitung, dengan reinvestasi dividen, nilai investasi sebesar Rp 10 juta pada awal tahun 2005 akan tumbuh menjadi Rp 724 juta pada tahun 2024 (CAGR 23,9%).

Lumayan besar memang.

Tapi tantangannya adalah apakah bisnisnya masih bisa tumbuh sekencang sebelumnya? Dan seperti halnya ASII, apakah SMSM akan bisa mengantisipasi cepatnya pertumbuhan EV yang tidak banyak membutuhkan suku cadang seperti mobil ICE?

Apakah manajemennya akan bisa mengambil langkah yang strategis agar pertumbuhannya tetap berkelanjutan?

Hanya waktu yang bisa menjawabnya.

Catatan akhir:

1. Setelah 20 tahun, bisa jadi akan ada emiten yang mulai mature dan berpotensi melambat pertumbuhannya. Oleh karena itu, kita harus benar-benar mempertimbangkan apakah perusahaan masih memiliki ruang untuk tumbuh yang besar atau tidak.

2. Terkait dengan poin 1, ada baiknya kita juga melihat saham-saham yang relatif masih baru dengan potensi pertumbuhan yang tinggi.

3. Yang saya sampaikan itu bagus-bagusnya saja. Banyak (pakai banget) juga saham yang selama 20 tahun tidak bisa memberikan returun memuaskan. Itu makanya saya tidak berani menggantungkan portfolio pada 1-2 saham saja.

4. Dividend payout ratio memang tidak saya bahas. Namun umumnya perusahaan dengan payout ratio yang lebih rendah masih akan memiliki ruang untuk meningkatkannya (agar dividen tetap meningkat) di masa mendatang. Jika payout ratio terlalu tinggi, ruang tersebut akan sangat terbatas, terlebih jika bisnisnya sudah mulai melambat pertumbuhannya.

5. Sekali lagi, masa depan bisa beda banget. Jangan hanya pakai data historis untuk analisis.

Segitu dulu aja ya. Yuk ngopi dulu biar lebh fresh.

Disclaimer: Tulisan ini adalah media edukasi dan bukan ajakan untuk membeli atau menjual saham. Segala kerugian sebagai akibat dari penggunaan informasi pada tulisan ini bukan menjadi tanggung jawab penulis.

Read more...
2013-2025 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy