Agak flashback liat kebijakan hilirisasi, jadi dari gambar ini kelihatan ya, ada perbedaan besar antara ekspor produk turunan nikel tahun 2017 sama 2022. Di tahun 2017, ekspornya cuma USD 3,3 miliar, tapi setelah ada larangan ekspor nikel mentah tahun 2020, kayaknya dampaknya positif banget. Di tahun 2022, ekspor produk turunannya melesat jadi USD 33,8 miliar. Ini peningkatan yang signifikan, mungkin karena industri nikel mulai fokus bikin produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi, seperti sel baterai dan komponen lainnya.
Nah, mestinya, sektor-sektor yang bakal kena dampak positif dari hilirisasi nikel ini antara lain industri pertambangan, khususnya yang terlibat dalam pemrosesan nikel jadi produk turunan. Emiten yang kayaknya diuntungkan dari kondisi ini:
1. $INCO - Emiten ini fokus di produksi nikel, terutama nikel kelas tinggi yang penting buat baterai EV. Dengan adanya hilirisasi, mestinya INCO bisa tingkatin nilai ekspor mereka.
2. $ANTM - Kayaknya ini juga untung besar karena ANTM terlibat di sektor pertambangan dan pemurnian nikel, apalagi setelah ekspor nikel mentah dilarang.
3. $TINS - Selain fokus di timah, TINS juga punya portofolio nikel yang bisa diolah jadi produk dengan nilai tambah.
4. $MDKA - Walaupun fokus utama mereka di tembaga dan emas, MDKA juga punya aset yang bisa dieksplorasi lebih jauh dalam jangka panjang.
5. $NICL - Emiten ini spesialis dalam produk turunan nikel dan sangat diuntungkan oleh kebijakan hilirisasi. Mereka bisa masuk ke rantai pasokan baterai dan produk teknologi.
Nah, harusnya data ekspor USD 33,8 miliar ini bisa jadi tolak ukur kalau hilirisasi benar-benar bisa tingkatin daya saing produk-produk nikel kita di pasar global.
