Tahun ini angin sedang berpihak kepada emiten poultry keliatannya. Tahun lalu, harga ayam pedaging (broiler) yang sempat jebol angka Rp20.000/kg (gambar 1) sangat berpengaruh terhadap profitabilitas segmen commercial farm, belum lagi harga DOC yang buruk sama-sama membuat kinerja $JPFA merugi pada Q1 2023, padahal porsi pendapatan segmen commercial farm hampir mencakup 50% pendapatan JPFA (gambar 2).

Tahun ini, harga ayam broiler sudah jauh lebih baik dibandingkan tahun lalu. Dari awal Q2 (1 April) sampai sekarang, harga ayam broiler selalu di atas angka Rp22.500/kg. Harga DOC juga berdasarkan sumber yang saya tanyakan sudah jauh membaik: normalnya hanya 6-7 ribu, bahkan kadang di bawah harga itu karena kondisi oversupply. Sekarang, di website https://cutt.ly/AeuZBH9g , harga DOC sudah menyentuh Rp.9000/ekor, di mana harga ini tergolong tinggi. Di toko hijau juga saya cek harga DOC kisaran >Rp.8000/ekor. Ini sudah tercermin dari performa Q1 kemarin yang ciamik.

Terakhir adalah input cost, yaitu jagung. For some reasons, Q1 kemarin harga jagung begitu tinggi (gambar 3), sama seperti Q4 tahun lalu, tetapi hebatnya JPFA, pendapatan segmen pakan ternak malah bertambah 25% secara YoY, walaupun marginnya menipis (gambar 4). Q2 ini ada panen raya jagung yang membuat harga jagung drop begitu tajam dari hampir Rp8.000/kg, sekarang tersisa hanya Rp4.000-an/kg. Ini akan menjadi apa yang saya sebut DOUBLE PENETRATION untuk JPFA dan emiten poultry lainnya: input cost yang menurun (ingat, jagung menurut management memuat 70% dari input cost; gambar 5) dan output yang meningkat (harga DOC dan harga ayam broiler) akan membuat profitabilitas JPFA akan semakin meroket.

Ingat, dari sekian perusahaan yang terdapat pada IHSG, beberapa perusahaan yang dapat terus mencatat kenaikan pendapatan setiap tahunnya selain banking adalah emiten poultry. Lets go 馃槑

$CPIN $MAIN $BBCA $BBRI

Read more...

1/5

testestestestes
2013-2026 Stockbit 路AboutContactHelpHouse RulesTermsPrivacy