Rumah Jagal Saham
Ketika sebuah saham harganya sudah naik >100% dalam setahun maka ibarat sapi, itu adalah sapi yang sangat gemuk, yang siap disembelih kapan pun. Kalau lihat riwayat harga saham SP500, indeks saham bluechip di Amerika Serikat, sejak tahun 1920 itu, return saham rata - rata include dividend reinvesting adalah 10,32%/tahun. Sedangkan kalau tidak ada dividend reinvesting maka returns nya hanya 7,45% (gambar 1). https://bit.ly/3TeFxdc
Jadi ketika harga saham sudah naik >100% dalam setahun, itu sudah masuk kategori return tidak normal. Dan ketika return sudah tidak normal maka ekspektasi wajar nya adalah orang-orang akan take profit. Siapa tahu mereka pengen beli Kaos Pintar Nyangkut sehingga ngebet take profit https://bit.ly/3QtahWa
Investor yang beli saham di harga bawah pasti pengen take profit. Kan tidak mungkin itu floating profit hanya di screenshot saja. Kalau dikasi pilihan dapat dividend yield 10%/tahun selama 10 tahun vs dapat capital gain >100% dalam setahun, saya rasa akan banyak investor yang memilih capital gain >100% dalam setahun karena kaya mendadak itu enak banget. Apalagi kalau kaya dan pakai Kaos Pintar Nyangkut, makin maksimal tampannya https://bit.ly/46sqO23
Jika take profit dilakukan secara bertahap dan pelan - pelan maka harga saham tidak akan langsung anjlok mendadak. Tapi kalau take profit dilakukan secara mendadak dan massive maka harga saham bisa anjlok berat. Apalagi jika kapasitas tampungan market tidak bisa menampung semua lot yang di-dump. Hal ini akan menimbulkan chain reaction:
1. Boss grup jualan massive
2. Member panik dan ikutan jualan massive
3. Harga saham anjlok memicu auto cutloss para Trader non-member yang ikutan beli dengan harapan buy on breakout
4. Semua trader yang kena cutloss otomatis langsung membuat harga saham makin anjlok >25% yang membuat para investor yang beli saham pakai margin langsung kena margin call dan langsung forced sell dipaksa jual sama sekuritas
5. Hal ini memicu anjloknya Harga saham lebih dalam
6. Ditambah lagi para shortseller ikutan masuk untuk yang melakukan dumping saham demi meraih lebih banyak cuan.
7. Dengan banyaknya tekanan jual seperti itu maka itu ibarat pintu masuk hanya satu sedangkan ribuan lot saham pengen exit. Endingnya adalah ada yang kena injak, ada yang kena pukul dan mungkin juga ada yang pensiun karena beli saham all in full margin plus pinjol plus duit mertua.
https://bit.ly/3XE87VB
Ini mirip kisah masuk gratis, keluar bayar
Alkisah, ada seorang yang membuka bisnis kebun binatang dengan berbagai macam hewan di dalamnya, termasuk hewan-hewan buas.
Kemudian si pemilik kebun binatang menulis tariff masuk di pintu masuk kebun binatang miliknya. Satu orang dikenakan tarif 200 ribu rupiah. Tapi tak ada seorang pun yang berminat untuk masuk ke kebun binatang tersebut.
Karena beberapa lama kebun binatang sepi pengunjung, maka terpaksa si pemilik kebun binatang menurunkan tariff menjadi 150 ribu per orang. Tapi sayangnya, walaupun tariff masuk sudah dipotong, tetap saja tak ada orang yang berminat masuk ke kebun binatang tersebut.
Dikarenakan masih tidak tidak ada juga pengunjung akhirnya ia kembali turunkan tarif tiket menjadi 100 ribu dan tetap tidak ada pengunjung yang masuk.
Pada akhirnya, si pemilik kebun binatang menyerah. Dia menulis pengumuman di gerbang dengan tulisan ‘masuk gratis.’
Melihat kebun binatang digratiskan, banyak orang yang masuk dan tidak menyia-nyiakan kesempatan. Mereka bisa puas menjelajahi semua kebun binatang dan kandang-kandang binatang tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun.
Ketika pengunjung di dalam penuh, si pemilik kebun binatang mengunci pintu keluar kebun binatang. Setelah itu dia membuka semua pintu kandang binatang buas. Singa, Harimau, Serigala, Ular, semua keluar.
Melihat hal itu semua pengunjung panic dan berebut berlari ke pintu keluar. Tapi di pintu tersebut sudah tertulis sebuah pengumuman berbunyi, “KELUAR BAYAR 500 RIBU RUPIAH”
Anehnya, kali ini banyak orang yang berebut bayar dan mereka berdesak-desakan. Berharap mereka yang pertama kali bayar dan keluar dari kebun binatang tersebut.
Waktu harga saham masih di pucuk, banyak investor yang keep hold dan berharap harga saham makin terbang. Tapi begitu harga saham anjlok, langsung berbondong - bondong orang pengen exit. Malah banyak yang rela menjagal orang lain agar bisa exit duluan.
Sebagai investor, kita harus bersikap realistis dan set low expectations. Cuan 7-10% per tahun di saham itu sudah decent banget. Jadi ketika harga saham $WIIM dan $ADRO sudah naik >100% dalam jangka waktu kurang dari 1 tahun maka wajar saja orang-orang pengen take profit. Sebagus apapun fundamental sebuah perusahaan pada akhirnya para investor yang beli di harga bawah pasti akan merealisasikan keuntungan karena mereka juga pengen liburan ke Eropa, mereka juga pengen beli rumah baru, mereka juga pengen beli Lamborghini, dan berbagai keinginan manusiawi lainnya. Sudah $CUAN lalu pesta pora dan foya - foya adalah hal yang wajar dan manusiawi. Dan ketika mereka merealisasikan keuntungan, akan ada fase nya harga saham anjlok. Apalagi jika saham tersebut tidak ada bandar yang melakukan maintenance harga saham. Naik turunnya harga saham itu adalah hal yang wajar. Marah pada orang yang melakukan take profit ini adalah bentuk dari iri hati dan dengki. Toh kalau kita berada di posisi cuan seperti mereka, kita pun bakal take profit. Posisi menentukan opini. Harus disadari bahwa beginilah cara kerja dunia saham, yang bisa konsisten take profit lewat dividend dan capital gain serta mampu melakukan manajemen uang adalah yang akan bertahan hidup lebih lama di bursa.
Begitu masuk dunia saham, kita itu masuk hutan rimba. Akan ada yang berusaha memakan kita dan kita pun mau tak mau harus memakan binatang lain atau minimal makan rumput untuk bisa bertahan hidup. Antara saya yang take profit duluan atau kamu yang cutloss terakhir. Yang bisa bertahan hidup di hutan rimba bukan yang terbesar karena dinosaurus yang besar saja bisa punah di hutan dan sudah banyak trader gede modal besar bangkrut di saham seperti Melvin Capital, Bentjok, Heru, Edward, dan Betty.
Menghujat boss grup saham yang take profit duluan tidak akan mengembalikan loss yang ada. Jadikan sebagai pembelajaran masa depan, kalau sudah cuan, jangan cuma di screenshot. Take profit lah biarpun cuma selot.
Bisa lihat itu para founder dan CEO saham gede seperti Mark Zuckerberg, Elon Musk, Sundar, William, mereka aja take profit dari saham perusahaan mereka sendiri dengan berbagai alasan seperti mau liburan atau mau bayar kredit (gambar 2). Jadi take profit dari saham itu lagi - lagi hal yang manusiawi.
Di saham ada 2 pilihan, yaitu
1. Hold forever harap dividen
2. Jual beli, jual beli yang penting cuan
Tinggal pilih jalan mana yang kamu mau ambil.
Kalau kamu pilih jalan pertama maka jangan marah kalau boss penganjur all in WIIM dan all in ADRO jualan. Kan katanya mau hold forever.
Kalau kamu pilih jalan kedua maka jangan marah juga kalau $BOSS penganjur all in WIIM dan ADRO jualan. Kan tinggal jual beli aja seperti biasa yang penting cuan. Kalau loss, itu artinya ada hikmah yang bisa diambil. Lagian dalam dagang, mustahil bisa cuan terus. Coba tanya ke penjual durian atau penjual ayam, apakah dalam satu tahun mereka bisa untung terus atau ada periode loss juga? Kalau tiba-tiba pembeli sepi waktu seperti zaman Covid-19 maka bisa loss juga.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
(caranya cek gambar terakhir)
Link Panduan
https://stockbit.com/post/13223345
Dan jangan lupa kunjungi Pintarsaham di sini
https://bit.ly/3QtahWa
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://bit.ly/3YGX6Dc
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
https://bit.ly/44osZSV
https://bit.ly/47hnUgG
https://bit.ly/47eBu4b
https://bit.ly/3LsxlQJ
1/3


