Saat tulisan ini dibuat, netijen masih ribut ribut soal pemenang dari MasterChef Indonesia season 11 yang baru baru ini digelar.
Banyak yang merasa kesal karena pemenangnya (lagi lagi) berasal dari etnis tertentu. Apalagi situasinya sejak awal digelar, MasterChef disini secara kebetulan atau tidak, pemenangnya adalah dari etnis tertentu. Namun, terjadi pembelahan opini. Ada yang hanya menyoroti skill pemenang season kali ini, dan tidak mempermasalahkan pemenang season sebelum-sebelumnya yang menang, meski sepengetahuan saya sudah 2 season berturut turut mempermasalahkannya.
Namun tentu saya tak akan membahas soal program ini secara spesifik, namun tentang genre program yang menaungi program program dari MasterChef, Indonesian Idol hingga program program seperti Bedah Rumah, Uang Kaget, Rumah Uya, Termehek Mehek dsb. Kita menyebutnya, reality show. Bagaimana genre program ini menghasilkan peluang bisnis?
=====
Reality show bisa disebut sebagai program yang unscripted (tidak ada skenarionya), dimana cerita dan situasinya digambarkan sesuai dengan situasi realitas/kenyataan di kehidupan.
Program reality show di televisi Indonesia itu setahu saya menjamur sejak masuk era 2000an. Secara bersamaan, muncul 2 tipe program reality show sekaligus. Yang pertama, reality show murni, dimana mengupas kegiatan dan masalah manusia. Misalnya, program seperti Playboy Kabel, Uang Kaget, Bedah Rumah dan Termehek Mehek. Ini semua program program era pertama reality show, yang membuat reality show menjadi satu genre yang mulai dilirik oleh stasiun TV. Berikutnya baru muncul seperti Rumah Uya, Katakan Putus, Mikrofon Pelunas Utang, Jika Aku Menjadi dsb.
Yang kedua, reality show searching. Nah, genre inilah yang melahirkan Indonesian Idol, D’ Academy, Indonesia Mencari Bakat, Penghuni Terakhir, MasterChef dan Take Me Out. Bahasa lainnya, talent search. Dalam penggolongan acara TV di Indonesia, ini dianggap bukan reality show, meski di TV luar negeri seperti Amerika Serikat justru sebaliknya. Seperti namanya, genre ini isinya adalah kompetisi mencari bakat, yang kemudian berkembang ke mencari jodoh dan mencari siapa yang “survive”. Dari dua jenis reality show ini, yang relatif bertahan dan cukup selalu ngetren adalah jenis yang kedua ini.
Genre program ini dengan cepat menarik penonton, dan juga menarik sponsor/iklan. Sifatnya yang mendekat pada realitas dan kadangkala spontan menghasilkan rasa kedekatan kita dengan peristiwa di dalamnya. Bisa jadi ada diantara kita yang pernah mengalami peristiwanya, sehingga yang teringat macam lagu aja gitu, “Lupa Namanya, Ingat Rasanya” wkwkwkw. Selain itu, adanya kompetisi yang terjadi pun juga menghasilkan adrenalin tersendiri, karena pada dasarnya, siapa sih yang mau kalah? Disinilah yang memicu fans fans fanatik/militan, yang biasanya akan selalu menjadi haters militan dari orang lain/peserta yang tidak didukung. Hal ini jugalah yang menjadi bumbu menarik dari program reality show. Keributan inilah yang “dijual”, yang dianggap membuktikan engagement terhadap program yang tinggi.
Namun demikian, ada nada sumbang dari kehadiran program ini. Untuk jenis reality show murni, nada sumbangnya seringkali antara eksploitasi kisah sedih/kemiskinan dan ranah privasi (katakanlah aib) yang diumbar umbar. Hal yang agak mirip terjadi di reality show searching. Apalagi memang ada program talent search yang sengaja panjang panjangin durasi tayangan biar banyak omongan, eksploitasi dan banyak gimmick. Namun yang sama dari kedua jenis program ini adalah dugaan settingan. Inilah yang juga dituduhkan ke MasterChef. Benarkah demikian?
Sebenernya pertanyaan ini sudah ada dari jaman kapan sih. Jawaban pastinya, selalu ada kemungkinan settingan. Porsinya tergantung jenis dan topiknya, serta seberapa sering tayangan (stripping atau bukan, misalnya). Ada kondisi dimana awalnya programnya genah (bener) dan minim settingan, namun semakin ramainya respon, makin sering tayangnya dan tentunya makin ketat persaingan, maka mulai ada trik trik, gimmick dan settingan lebih dikeluarkan. Namun ada juga yang memang dari awal sudah banyak settingan.
Nah, saya menduga MasterChef mengalami kondisi yang pertama. Awalnya bener, namun kebelakang mulai kacau. Situasi ini untuk merespon minat yang tinggi, dimana kita bisa melihat beberapa tahun terakhir MasterChef hampir tanpa jeda (katakanlah 1 tahun), karena selalu laku di jam tayangnya. Minat yang tinggi, tentu perlu dipertahankan dan terkadang cara itulah yang digunakan. Apakah ini berpengaruh pada pilihan yang dimenangkan juri? Entahlah. Namun yang pasti, juri pun juga bisa subjektif, sehingga belum tentu penilaian mereka cocok dengan keinginan penonton.
Program TV tidak dapat lepas 100% dari apa yang disebut settingan, karena satu hal. Settingan, harus diakui, adalah bagian dari treatment alias bumbu dari program. Ini cara agar program tersebut kelihatan menarik dan rapi. Menarik, karena jika kita hanya disajikan adu memasak atau adu suara, tentu akan menjadi sangat biasa saja dan kurang engagementnya. Perlu diciptakan semacam militansi dan “konflik” agar engagementnya kelihatan.
Lebih rapi, karena kita harus sadari bahwa ini reality show, dimana potensi spontanitas pelaku si dalamnya tinggi dan kadang kadang ngga sesuai dengan alur yang dipersiapkan dari konten tersebut. Apalagi jika si talent atau peserta yang umumnya tidak terbiasa dengan kamera. Meski spontan atau apa adanya bisa menjadi menarik juga, namun pembuat konten tentu punya analisis dan data lain terkait treatment yang dianggap sesuai serta disukai. Ini belum termasuk masalah sensor, yang juga membuat faktor kerapian menjadi penting. Memainkan keseimbangan menjadi lebih penting daripada sepenuhnya spontan.
Itulah yang menyebabkan bisnis konten reality show ini gampang gampang susah. Ini memerlukan pemahaman mendalam tentang hal hal tersebut. Makanya ngga banyak pemain di bisnis seperti ini yang sukses. Yang paling sukses dan leader adalah grup Triwarsana/Asia Media Production. Bisnis yang dilahirkan dari tangan Helmy Yahya ini, yang kemudian diwariskan ke anaknya sekarang, sukses dalam membuat beragam reality show terkenal seperti Uang Kaget dan Bedah Rumah. Berikutnya, ada Fremantle, Rumah produksi dan pemegang lisensi program TV terkenal seperti Idol, Got Talent, X Factor, Take Me Out hingga beragam program non reality show lainnya.
Begitu lika liku reality show.
Bacaan menarik lain soal saham, investasi dan bisnis lainnya bisa cek dan follow Instagram, Tiktok dan Threads @plbk.investasi. Baca juga tulisan saya di s titik id / plbkrinaliando
$IHSG $MNCN $SCMA $NETV $VIVA
1/2

