AKU INGIN BEGINI, AKU INGIN BEGITU
Ingin-ingin ini banyak sekali. Semua… semua… semua… dapat di kabulkan.
Dapat dikabulkan dengan kantong Ajaib.
Begitulah potongan lirik lagu tema film kartun jepang/anime Doraemon yang sudah pasti rekan-rekan cuan disini kenal dari sejak kecil. Anime ini menceritakan tentang petualangan seorang anak jepang yang pemalas dan bodoh Bernama Nobita Nobi yang bertemu dengan sosok robot kucing Bernama Doraemon yang dikirim oleh keturunan Nobita dari abad ke-22 yang ingin merubah nasib kakek buyutna tersebut. Dengan bantuan kantong Ajaib nya, doraemon sering sekali membantu kesulitan dan kesusahan yang dimiliki Nobita selama masa kecilnya. Namun, bukannnya membantu agar Nobita menjadi lebih pintar atau rajin, malahan ada banyak cerita yang menjelaskan bahwa alat-alat yang dipinjamkan oleh doraemon menjadi rusak ataupun digunakan tidak semestinya.
Salah satu alat-alat Doraemon yang ingin sekali aku pakai/miliki yaitu Mesin Waktu. Dengan mesin waktu, Nobita bisa maju ke masa depan atau bahkan mundur ke masa lalu untuk keperluan tertentu. Seandainya aku bisa memiliki mesin waktu, aku ingin Kembali ke bulan Maret – Mei 2020 pada saat market crash terjun bebas dari sekitar IHSG turun mendekati 4000. Pada saat itu banyak saham-saham berfundamental baik yang jatuh bebas di harga tertingginya di tahun 2019.
Ada banyak juga saham-saham fenomenal yang naik kencang seperti saham-saham farmasi yaitu KAEF, INAF, & IRRA atau saham BRIS yang naik dari 150-300 sampai puncaknya di sekitar 3700 – 3800 atau saham ANTM yang naik dari sekitar 600-700 sampai puncaknya di 3300-3400. Atau masuk kesaham-saham bank digital seperti ARTO, BBYB, BBHI. Lalu ada juga saham-saham teknologi yang sedang hype di tahun 2021 seperti DMMX, DCII atau membeli saham-saham teknologi di Amerika seperti TESLA, AMAZON, NETFLIX, ZOOM dan lain-lain sebelum mereka naik kencang kemudian menjualnya sebelum mereka jatuh terperosok seperti saat ini.
Kalau ada seseorang yang bisa memprediksi masa depan, maka niscaya orang tersebut adalah orang yang paling kaya raya di seluruh dunia. Namun hal ini tidak selamanya berlaku, dikarenakan beberapa orang-orang terkaya di Indonesia maupun dunia bisa mendapatkan kekayaannya bukan hanya memiliki visi yang bagus di masa depan, namun beberapa dari mereka bisa mendapatkan kekayaan berdasarkan momentum saja. Sebut saja yang sedang viral pada saat ini, yaitu Pak Low Tuck Kwong.
Mengutip data Forbes Real-Time Billionaire List pada Rabu (28/12/2022) pagi, Low Tuck Kwong kini menjadi orang terkaya ke-41 di dunia. Sehari sebelumnya, Selasa (27/12/2022), mengutip data yang sama posisinya masih di rangking 43, dengan kata lain dalam sehari naik dua anak tangga di daftar orang paling tajir sejagat.
Forbes mencatat, kekayaan Low Tuck Kwong sebesar US$ 31,5 miliar atau setara Rp 491 triliun (kurs Rp 15.600 per US$). Jumlah itu meningkat US$ 1,1 miliar dari sehari sebelumnya yang tercatat US$ 30,4 miliar atau Rp 474 triliun.
Bertambahnya harta Low Tuck Kwong itu tak lepas dari kinerja saham BYAN yang makin kinclong di penghujung tahun 2022 ini. Pada perdagangan Selasa (27/12/2022), saham BYAN naik 13% menjadi Rp 23.400 per lembar.
Kenaikan harga tersebut tentu berbuntut pada kenaikan kekayaan Low Tuck Kwong. Pasalnya, dia kini menguasai 60,94% saham BYAN, atau sebanyak 20,31 miliar lembar saham.
Dengan kekayaan sebesar itu semakin memantapkan posisi Low Tuck Kwong sebagai orang paling tajir di Indonesia. Pekan lalu, dia berhasil menggusur Budi Hartono dan Michael Hartono. Duo Hartono yang dikenal sebagai pendiri dan bos Djarum Group juga masuk di jajaran 100 orang terkaya dunia versi Forbes.
Budi Hartono di ranking 67 dengan harta US$ 22,4 miliar (Rp 349 triliun). Sedangkan, saudara kandungnya, Michael Hartono di posisi ke-72 dengan kekayaan US$ 21,5 miliar (Rp 335 triliun).
Kekayaan Low Tuck Kwong juga mengalahkan pendiri Alibaba, Jack Ma asal Tiongkok. Kekayaan Jack Ma oleh Forbes dicatat sebesar US$ 23,3 miliar dan menempatkannnya di ranking 64 daftar orang paling tajir sejagat.
Posisi teratas orang terkaya di dunia masih diduduki Bernard Arnault dari Prancis dengan kekayaan US$ 180,8 miliar (setara Rp 2.820 triliun). Di ranking kedua diduduki Elon Musk dengan harta US$ 137,6 miliar (Rp 2.146 triliun). Oppa Warren Buffet sebagai investor kelas kakap pun masih ada di 10 besar orang terkaya di dunia dengan kekayaan sebanyak US$ 106 Milyar (Setara Rp. 1.653 triliun).
Penggemar fashion pasti mengenal brand Louis Vuitton, Dior, Sephora, Fendi, dan Marc Jacobs. Betul sekali, pemilik brand-brand tersebut merupakan salah satu asset dari konsorsium LVMH yang dimiliki oleh Bernad Arnault. Bernard Arnault adalah kolektor sekaligus CEO asal Prancis di balik perusahaan produk ternama di dunia, LVMH Moët Hennessy Louis Vuitton. Salah satu sumber kekayaan Arnault berasal dari kenaikan harga saham LVMH yang cukup signifikan yang disebabkan kenaikan penjualan dan pendapatan bersih perusahaan tersebut bahkan pada saat pandemi.
Masih segar dalam ingatan kita, bahwa boss facebook Mark Zuckerberg masuk ke dalam salah satu 10 orang terkaya di dunia di tahun 2021, namun hancurnya harga saham facebook dari puncaknya di September 2021 seharga 370an US$, kemudian anjlok hingga 110an hingga hari ini, jauh lebih dalam daripada pada saat awal-awal pandemi di sekitar 150an US$. Hal ini disebabkan kebijakan baru Mark dalam mengelola Facebook company (kemudian sekarang menjadi Meta Platform Inc) yang berupaya merubah arah bisnis perusahaan namun ternyata hasilnya tidak sesuai dengan ekpektasi sehingga alhasil saham Meta terus terperosok.
Lantas, apa yang bisa kita ambil hikmah dari sosok-sosok tersebut? Setiap orang-orang tersebut memiliki momentum untuk meraup kekayaan mereka. Ada yang berusaha dengan kerja keras dari titik paling rendah hingga tingkatan paling tinggi. Ada juga yang memang meraup keuntungan di waktu yang tepat, seperti contohnya kenaikan harga coal/batubara yang menaikan harga saham-saham komoditas batubara termasuk Pak Low Tuck Kwong.
Dalam berinvestasi, bisa saja kita memilih menjadi investor sejati seperti Oppa Warren Buffet ataupun menjadi seorang trader saham-saham komoditas pada saat comodity supercycle pada saat ini. Namun setiap sektor/emiten ada siklusnya masing-masing, kita tidak bisa selamanya mengandalkan saham-saham komoditas dalam meraup keuntungan. Sama dengan saham-saham teknologi di tahun 2021, suatu saat saham-saham komoditas tersebut bakalan mencapai puncaknya dan kemudian turun. Namun waktu kapan?! Well, seperti sudah disebutkan. Kita tidak dapat meramal masa depan kecuali memiliki mesin waktu dari Doraemon.
Hal-hal yang bisa kita lakukan hanya bereaksi terhadap keadaan. Walaupun kita mengetahui masa depan namun jika kita tidak memiliki manajemen yang baik dalam hal waktu, asset, keuntungan, ego dan gengsi, Hal ini malah tidak bisa menjadikan kita menjadi manusia yang lebih baik. Sama seperti hal nya Nobita yang walaupun sudah memiliki privilige Doraemon sebagai sahabat yang mampu memecahkan masalah Nobita namun tidak bisa menjadikan Nobita menjadi lebih pintar, rajin dan lebih hebat.
Semoga kita semua bisa mengambil hikmah dari kisah-kisah serta pengalaman orang-orang tersebut agar kehidupan kita menjadi lebih baik di masa depan.
Happy trading dan happy investing rekan-rekan cuan
$IHSG $BRIS $ANTM $DMMX $ARTO
1/2

