


Volume
Avg volume
PT Tirta Mahakam Resources Tbk (Perusahaan) didirikan berdasarkan pada akta No. 245 tanggal 22 April 1981 jo. Akta perubahan No. 14 tanggal 11 Januari 1982, keduanya dibuat dihadapan Notaris Kartini Muljadi, SH. Akta pendirian Perusahaan dan perubahannya telah disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dalam Surat Keputusan No. Y.A 5/48/2 tanggal 8 Mei 1982. Anggaran Dasar Perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan, terakhir dengan Akta Pernyataan Keputusan Rapat No. 58 tanggal 16 Juli 2019 tentang perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris Perusahaan serta Perubahan pasal 3 Anggaran Dasar Perusahaan tentang m... Read More
$TIRT mau tanya untuk holder tirt semisal suspend sudah ke buka terus Ara lagi apakah akan disuspend lagi?
$TIRT
Emiten gila ini
desember masih hrga 40 susah masuk , skarang udah 400 gerakannya mirip $RLCO
sempat di katain prusahaan penjual galon air minum padahal calon multibagger
bnyak yg blum tau ini juga milik konglomerat
Chance nya masih 50:50, kalo akuisisi nya jadi ritel ga bakal dikasih masuk sama sekali kaya di $PACK $UDNG $TIRT, tapi kalo batal atau dibantah bakal tidur nyenyak lagi di harga belasan
$CANI lihat $TIRT , salah 1 alasan dari pada kena suspend, wajar hijau mau masuk aja susah di kasih masuk takut? siapkan uang kategori salju dingin dan beku
nanti kalo IHSG tenang juga pasti naik lagi, kalo belum pernah berkecimpung di dunia FCA ya mundur dulu aja, semua yang terbang ratusan persen rerata berangkat dari FCA dengan kepemilikan masyarakat kecil
INGAT , BUKAN AJAKAN JUAL BELI
keknya MG lepas barang, gara2 bisa kena Suspen ini $CANI gara gara liat $TIRT Suspend hari ini š¤£, soalnya open Suspen dulu gak beda jauh sama $TIRT
ya semoga bisa segitu ya melihat chart harusnya dalam wkt dekat seenggaknya kayak $TIRT dlu dech kalau dikasih",..Disc on",..
saham apaan ni $TIRT dari unsuspend ke FCA blm pernah koreksi,padahal kejar"an kmren ma $BNBR malah skrng Arb dalam sudah wkwkkwk
Perang Kayu IHSG
Lanjutan diskusi saham kayu-kayu di External Comunity Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community menggunakan kode: A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Saham kayu sering dianggap cerita lama dan kuno. Di sektor ini, yang menang bukan yang paling banyak aset, tapi yang paling rapi mengubah penjualan menjadi uang tunai, lalu menjaga utang tetap jinak saat kurs bergerak liar. Itu sebabnya emiten seperti PT Wijaya Cahaya Timber Tbk ($FWCT) terasa menonjol, karena memilih jalur ekspansi dan integrasi hulu-hilir yang berani, bukan sekadar bertahan hidup. Di sisi lain ada PT Tirta Mahakam Resources Tbk ($TIRT) yang praktis sudah keluar dari bisnis kayu, dan PT Boston Furniture Industries Tbk (SOFA) yang hidup dari ceruk dengan ruang gerak sempit. Jadi, menarik atau tidaknya saham kayu itu bukan soal romantisme industri, tapi soal siapa yang punya mesin kas dan disiplin risiko paling kuat. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Kalau disusun dari pendapatan terbesar ke terkecil, terlihat jelas ada beberapa kasta yang jaraknya jauh. PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) melaju dengan pendapatan konsolidasian Rp8,94 triliun, tetapi perlu dicatat kayu hanya Rp948,7 miliar atau sekitar 10,6% dari total, jadi ini lebih tepat dibaca sebagai emiten sawit dengan bonus kayu. Di lapis berikutnya ada FWCT Rp1,14 triliun dengan lompatan 26,4%, lalu PT Indonesia Fibreboard Industry Tbk ($IFII) Rp1,01 triliun dengan kenaikan 11,7%. Setelah itu jurangnya ekstrem, SOFA hanya Rp23,05 miliar dan turun tipis, sementara TIRT praktis nol secara bisnis kayu dengan pendapatan Rp33 juta karena operasional kayu lapis berhenti sejak 2020. Pola ini penting buat investor karena pendekatan analisisnya beda, DSNG lebih cocok dibaca sebagai konglomerasi agro, FWCT dan IFII sebagai manufaktur kayu yang masih berputar, SOFA sebagai butik furnitur, TIRT sebagai cerita restrukturisasi hidup-mati.
Di laba-rugi dan arus kas, perbedaan wataknya makin kelihatan. FWCT mampu membesarkan omzet, tetapi efisiensinya belum setajam IFII, laba bersih FWCT Rp45,9 miliar membuat margin laba bersih (net profit margin, NPM) sekitar 4,0%, sedangkan IFII laba bersih Rp154,5 miliar dengan NPM sekitar 15,3%. DSNG tetap solid dengan laba bersih Rp1,31 triliun, tetapi karena basisnya konsolidasian sawit, angka ini tidak bisa dibandingkan mentah-mentah dengan spesialis kayu. Di arus kas operasi (cash flow from operations, CFO), FWCT Rp74,9 miliar dan IFII Rp310,9 miliar sama-sama menunjukkan kualitas laba yang ditopang uang tunai, sementara SOFA CFO negatif Rp3,12 miliar dan TIRT CFO negatif Rp8,3 miliar menandakan napas operasionalnya tersengal. Bagian yang paling menarik adalah transformasi logistik dan risiko kurs, FWCT membangun dukungan pelayaran dengan capex kapal tunda dan tongkang Rp37,5 miliar, TIRT malah ingin membeli 20 kapal Rp162 miliar sebagai pivot total, dan IFII memilih jalur efisiensi pabrik dengan pembangunan ADR Tower serta upgrade lini mesin. Dari sisi kurs, FWCT dan IFII punya posisi yang cenderung diuntungkan saat dolar menguat, FWCT memegang aset moneter neto USD 5,8 juta dan mencatat laba kurs Rp4,69 miliar per September 2025, IFII memiliki aset bersih valas Rp92,2 miliar, sedangkan DSNG terkena rugi kurs neto Rp24,05 miliar karena utang dolar lebih dominan. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Revenue
DSNG Rp8,94 triliun, tetapi kayu Rp948,7 miliar atau sekitar 10,6% dari total, pembacaannya lebih ke sawit plus kayu.
FWCT Rp1,14 triliun, naik 26,4%, ini akselerasi paling mencolok di antara spesialis kayu.
IFII Rp1,01 triliun, naik 11,7%, tumbuh lebih stabil dan rapi.
SOFA Rp23,05 miliar, turun tipis, ukuran kecil membuat sedikit gangguan biaya saja langsung terasa.
TIRT Rp33 juta, ini level yang secara praktis menegaskan bisnis kayunya sudah berhenti.
Laba bersih
IFII laba Rp154,5 miliar, NPM sekitar 15,3%, mesin profitabilitasnya paling efisien.
DSNG laba Rp1,31 triliun, NPM sekitar 14,7%, tetapi ini campuran sawit dan kayu, jadi jangan dibandingkan satu garis dengan murni kayu.
FWCT laba Rp45,9 miliar, NPM sekitar 4,0%, omzet kencang tetapi biaya masih menekan.
SOFA laba Rp561 juta, NPM sekitar 2,4%, masih untung, tapi ruang aman tipis karena skala kecil.
TIRT rugi Rp33,1 miliar, dengan pendapatan nyaris nol ini lebih mirip beban bertahan hidup.
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Kualitas Laba
FWCT CFO Rp74,9 miliar lebih besar dari laba Rp45,9 miliar, ini sinyal laba ditopang kas nyata, bukan sekadar angka akuntansi.
IFII CFO Rp310,9 miliar jauh di atas laba Rp154,5 miliar, ini biasanya menandakan penagihan dan modal kerja terkendali.
SOFA CFO negatif Rp3,12 miliar meski laba positif, umumnya berarti kas nyangkut di persediaan atau piutang.
TIRT CFO negatif Rp8,3 miliar plus rugi, kombinasi yang biasanya membuat perusahaan bergantung pada pendanaan eksternal.
Utang
FWCT utang bank Rp184,4 miliar, dibanding CFO Rp74,9 miliar itu setara sekitar 2,5 tahun CFO, dibanding laba Rp45,9 miliar setara sekitar 4,0 tahun laba, jadi aman atau tidaknya tergantung disiplin belanja dan stabilitas permintaan.
IFII utang bank jangka panjang Rp261,4 miliar, CFO Rp310,9 miliar sudah lebih besar dari angka itu, ruang napasnya lebar.
SOFA karena CFO negatif, utang kecil pun bisa terasa berat kalau modal kerja terus mengembang.
TIRT sangat bergantung pada dukungan pemegang saham, ada suntikan dana dari PT Harita Jayaraya mencapai Rp997 miliar, ini menegaskan model bertahannya bukan dari operasi.
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Ekspor
FWCT posisi aset moneter neto USD 5,8 juta dan laba kurs Rp4,69 miliar per September 2025, ini bantalan alami saat dolar menguat.
IFII aset bersih valas Rp92,2 miliar, juga cenderung terlindungi saat rupiah melemah.
DSNG rugi kurs neto Rp24,05 miliar karena eksposur utang dolar lebih besar daripada aset dolarnya, sehingga pelemahan rupiah langsung menekan.
Persediaan, piutang, dan sinyal permintaan pasar
FWCT persediaan barang jadi turun 11,4% saat penjualan naik, ini biasanya sinyal barang bergerak cepat, bukan numpuk di gudang.
FWCT piutang usaha seluruhnya belum jatuh tempo, ini menunjukkan disiplin kredit dan penagihan yang rapi.
SOFA CFO negatif karena persediaan menahan kas, lalu perusahaan bergantung pada uang muka pelanggan sebagai napas operasional, ini pola yang riskan kalau permintaan melambat.
Arah belanja modal dan logistik
FWCT menambah dimensi pelayaran lewat PT Marina Andalan Jaya Utama dan capex kapal tunda serta tongkang Rp37,5 miliar, tujuannya menekan biaya angkut dan mengamankan rantai pasok.
TIRT memilih pivot ekstrem ke angkutan laut dengan rencana pembelian 20 kapal Rp162 miliar, ini lebih mirip upaya mengganti jantung bisnis yang sudah berhenti.
IFII fokus mengasah produktivitas pabrik, termasuk ADR Tower serta peningkatan kapasitas mesin sanding dan cutting, ini biasanya berujung pada margin yang lebih konsisten.
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/2

