605

+30

(5.22%)

Today

49,000

Volume

218,918

Avg volume

Company Background

PT Suryamas Dutamakmur Tbk merupakan perusahaan properti yang bergerak di bidang pembangunan real estat dan juga penjualan tanah serta rumah. Proyeknya berada di Bodetabek. Selain itu perusahaan juga mengelola lapangan golf, hotel, dan fasilitas-fasilitas resort lainnya di kawasan Rancamaya, Bogor, Jawa Barat.

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Suryamas Dutamakmur Tbk (SMDM) mencatat penurunan tajam kinerja keuangan sepanjang tahun buku 2025. Laba bersih perseroan turun signifikan seiring merosotnya pendapatan usaha.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian yang berakhir 31 Desember 2025, yang dipublikasika...

stockwatch.id

stockwatch.id

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$SMDM kalo YoY si turun, tapi kalo dari q3 ke q4 naiknya lumayan, dari mines ke profit 36M woooww

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$SMDM

Halo rekan investor! Mari kita bedah bersama laporan keuangan konsolidasian tahun 2025 dari PT Suryamas Dutamakmur Tbk (SMDM), yang merupakan perusahaan di sektor properti dan pengembangan real estat.

Sebagai mentor sahammu, saya melihat ada beberapa poin krusial dari laporan ini yang harus kamu pahami betul sebelum mengambil keputusan investasi. Mari kita analisis faktanya:

**1. Kinerja Pendapatan dan Laba: Sedang Lesu Berdarah**
Ini adalah alarm pertama yang harus kita perhatikan. Penjualan dan pendapatan usaha SMDM di tahun 2025 anjlok tajam menjadi Rp 386,08 miliar, merosot drastis dibandingkan tahun 2024 yang mencapai Rp 694,04 miliar.

Penyebab utamanya adalah macetnya mesin utama mereka, yaitu pendapatan dari penjualan produk properti (tanah, rumah tinggal, dan ruko) yang drop ke angka Rp 264,21 miliar dari sebelumnya Rp 566,29 miliar. Sementara itu, pendapatan berulang (*recurring income*) dari jasa seperti hotel dan sewa relatif stagnan di kisaran Rp 121,86 miliar.

Akibat dari merosotnya penjualan ini sangat fatal ke baris paling bawah (*bottom-line*). Laba tahun berjalan perusahaan terjun bebas dari Rp 162,60 miliar di tahun lalu menjadi hanya Rp 26,55 miliar. Laba bersih yang diatribusikan ke entitas induk juga sisa Rp 22,11 miliar (dibanding Rp 123,77 miliar di 2024). Laba per saham (EPS) dasar menipis dari 25,87 menjadi hanya 4,63.

**2. Neraca Keuangan (Balance Sheet): Sangat Sehat dan "Kaya Aset"**
Meski labanya babak belur, jangan buru-buru panik. SMDM memiliki "benteng" pelindung yang sangat luar biasa di neracanya. Total aset perusahaan naik tipis menjadi Rp 3,53 triliun dibandingkan tahun 2024 sebesar Rp 3,46 triliun.

Menariknya, total liabilitas (utang) mereka sangat kecil untuk ukuran perusahaan properti, yakni hanya Rp 269,51 miliar. Jika dibandingkan dengan total ekuitasnya yang mencapai Rp 3,26 triliun, *Debt to Equity Ratio* (DER) SMDM berada di level yang luar biasa rendah (di bawah 0,1x). Artinya, risiko kebangkrutan dari tumpukan utang dan beban bunga bank nyaris tidak ada. Aset kekayaan mereka banyak tertanam di persediaan real estat (lancar dan tidak lancar) yang nilainya mencapai sekitar Rp 2,97 triliun. Mereka punya banyak cadangan tanah/properti (seperti di area Rancamaya, Harvest City, dll) yang menunggu untuk dijual.

**3. Arus Kas (Cash Flow): Perlu Diwaspadai**
Sebagai investor, kita tahu bahwa *cash is king*. Di tahun 2025, arus kas bersih dari aktivitas operasi SMDM tercatat negatif Rp 134,79 miliar, memburuk dari tahun 2024 yang juga defisit Rp 88,43 miliar. Perusahaan lebih banyak membakar uang untuk operasional (terutama pembayaran ke kontraktor yang mencapai Rp 262,73 miliar) dibandingkan kas yang masuk dari pelanggan (Rp 418,47 miliar).

Kondisi arus kas yang "berdarah" ini mengakibatkan saldo kas dan setara kas perusahaan menyusut lumayan tajam dari Rp 276,10 miliar menjadi Rp 151,79 miliar pada akhir tahun 2025.

**Arahan Strategi Mentor:**
Untuk SMDM, kondisinya saat ini bisa dikategorikan sebagai **"Deep Value Play"** tapi juga rawan menjadi **"Value Trap"**.

Kekuatannya ada pada fundamental neraca yang kelewat sehat dengan utang yang sangat minim dan kepemilikan aset properti raksasa. Tapi kelemahannya, aset tersebut saat ini tidak terkonversi menjadi *cash*. Mesin penjualan sedang macet parah yang berimbas pada tergerusnya laba secara drastis.

*Saran eksekusi:*
Jika kamu tipe *trader* atau investor jangka pendek yang mencari momentum pertumbuhan laba, saham ini **bukan** untukmu saat ini. Lebih baik *wait and see* sampai ada tanda-tanda pembalikan arah (*turnaround*) di *marketing sales* properti mereka.
Namun, jika kamu adalah *value investor* penganut strategi *cigar-butt* atau jangka panjang yang mencari perusahaan murah dengan *margin of safety* dari nilai aset (*asset-backed*), saham ini menarik dipantau. Kekuatan neracanya membatasi risiko *downside*. Jika kamu ingin masuk, pastikan gunakan uang dingin, cicil bertahap, dan siapkan kesabaran ekstra menunggu siklus properti pulih. Tetap rasional dan bijak mengatur porsi portofoliomu!

https://cutt.ly/TtTta574

Read more...
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$SMDM Berikut adalah analisis fundamental terhadap Laporan Keuangan FY 2025 SMDM


​1. Revenue Structure Analysis:
​Pendapatan SMDM pada FY 2025 menunjukkan penurunan yang sangat signifikan, mengindikasikan tekanan pada bisnis inti real estat.

​Total Revenue FY 2025: Rp 386,08 miliar, mengalami kontraksi tajam sebesar 44,37% dibandingkan FY 2024 yang mencapai Rp 694,05 miliar.

​Komposisi Revenue Berdasarkan Segmen:
-​Real Estat dan Properti: Rp 264,22 miliar (68,4% dari total revenue). Segmen ini merupakan drag utama dengan penurunan drastis dari Rp 569,09 miliar di FY 2024.

-​Golf dan Country Club: Rp 66,64 miliar (17,3%), tumbuh moderat dari Rp 63,28 miliar.

-​Hotel: Rp 52,26 miliar (13,5%), menurun dari Rp 61,59 miliar.

​Driver Utama & Analisis Pertumbuhan:
​Penurunan pendapatan terutama disebabkan oleh anjloknya volume penjualan persediaan real estat (tanah, rumah, dan ruko) yang turun dari Rp 218,06 miliar (beban pokok) menjadi Rp 105,23 miliar.


​Karakteristik: Penurunan ini bersifat structural bagi perusahaan pengembang jika tidak diikuti dengan peluncuran proyek baru yang sukses, mengingat ketergantungan yang tinggi pada point-in-time recognition dari penyerahan unit properti.


​2. Profitability & Net Income Quality:
​Kualitas laba SMDM pada FY 2025 mengalami degradasi signifikan akibat operating leverage yang negatif.
​Metrik Profitabilitas:
​Net Income: Rp 26,55 miliar, anjlok 83,67% YoY dari Rp 162,60 miliar di FY 2024.

​Net Profit Margin (NPM): Menyusut dari 23,4% menjadi 6,88%.

​Operating Margin: Turun dari 19,4% menjadi 11,05%.

​Kualitas Laba:
​Meskipun laba masih positif, terjadi margin compression yang parah. Laba usaha turun dari Rp 134,76 miliar menjadi Rp 42,67 miliar.

​Terdapat beban lain-lain neto sebesar Rp 13,82 miliar di FY 2025, berbanding terbalik dengan penghasilan lain-lain neto sebesar Rp 38,00 miliar di FY 2024 yang sempat mendongkrak laba tahun lalu. Hal ini menunjukkan laba FY 2024 dipengaruhi oleh faktor non-operasional (one-off gain), sementara FY 2025 mencerminkan tekanan operasional yang sebenarnya.


​3. Balance Sheet Strength:
​SMDM mempertahankan struktur neraca yang konservatif dengan tingkat utang yang terkendali.
​Struktur Neraca:
​Total Aset: Rp 3,52 triliun (tumbuh tipis dari Rp 3,46 triliun).

​Total Liabilitas: Rp 264,10 miliar (didominasi utang jangka pendek).

​Kas dan Setara Kas: Rp 151,80 miliar, menurun signifikan dari Rp 276,11 miliar di FY 2024.

​Solvabilitas:
​Perusahaan memiliki posisi Net Cash jika membandingkan total kas terhadap utang bank jangka pendek sebesar Rp 26,63 miliar.

​Evaluasi: Neraca sangat konservatif. Kekuatan utama terletak pada kepemilikan tanah yang belum dikembangkan senilai Rp 2,08 triliun, yang memberikan safety margin dari sisi nilai aset bersih (Net Asset Value).

​4. Cash Flow & Capital Allocation: Capital Intensive
​Cash Flow: Terjadi penurunan cadangan kas yang cukup besar (Rp 124 miliar) dalam setahun. Ini mengindikasikan bahwa meskipun operasional menghasilkan laba akuntansi, konversi kas menjadi tantangan di tengah penurunan revenue.

​Capital Allocation: Manajemen terlihat sangat pasif dalam alokasi modal. Tidak ada aktivitas akuisisi atau ekspansi besar di FY 2025. Fokus utama masih pada pengelolaan persediaan real estat senilai Rp 892,22 miliar.


​5. Investment View & Risk Analysis
​Risiko Utama:
​Siklus Properti: Penurunan tajam pendapatan real estat menunjukkan sensitivitas tinggi terhadap daya beli properti menengah-atas.

​Asset Turnover yang Rendah: Nilai tanah yang belum dikembangkan sangat besar (Rp 2,08 triliun) namun lambat dalam monetisasi.

​Perspective:
Fundamental SMDM sedang dalam fase melemah secara operasional meskipun secara neraca sangat kokoh. Laba perusahaan bersifat siklikal dan saat ini berada di titik rendah siklusnya. Valuasi saham kemungkinan besar diperdagangkan jauh di bawah Book Value, namun tanpa katalis pertumbuhan pendapatan, sulit bagi pasar untuk memberikan re-rating.


​Kesimpulan skenario:
​Bull Case: Rebound penjualan properti di proyek utama dan monetisasi land bank yang agresif melalui kemitraan strategis.

​Base Case: Pendapatan stabil di level rendah dengan laba bersih yang ditopang oleh segmen recurring income (Golf & Hotel).

​Bear Case: Penurunan berkelanjutan pada segmen real estat yang mulai menggerus cadangan kas operasional.

​Status: NEUTRAL
Argumentasi: Meskipun SMDM memiliki neraca yang sangat sehat (posisi Net Cash) dan aset tanah yang masif, kontraksi pendapatan sebesar 44% dan penurunan laba bersih sebesar 83% YoY adalah tanda peringatan (red flag) bagi pertumbuhan jangka pendek. Investor biasanya akan menunggu tanda-tanda pembalikan arah pada marketing sales sebelum mengambil posisi agresif.


Valuasi:
Secara Earnings-Based (Laba), SMDM terlihat sangat mahal karena laba bersihnya anjlok 83%. Namun, secara Asset-Based, SMDM adalah "Hidden Gem" karena memiliki land bank senilai Rp 2,08 triliun yang dihargai pasar hanya setengah dari nilai bukunya.

Harga wajar secara operasional saat ini berada di kisaran Rp 290 - Rp 340. Saham ini hanya menarik bagi investor tipe Asset Play yang bersedia menunggu katalis berupa akuisisi lahan oleh pihak ketiga atau kenaikan signifikan penjualan unit properti yang mendongkrak ROE kembali ke level 5-8%.


Disclaimer : Analisis ini berdasarkan data LK FY 2025 yang tersedia, Bukan Rekomendasi Ajakan Jual/beli

Read more...
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$DMAS LK Full Year 2025: Laba Anjlok

Request user Stockbit bukan di External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345

DMAS mengalami kondisi laporan keuangan yang sangat mirip dengan BSDE dan SMDM, sama-sama laba anjlok. Bedanya, cara jatuhnya agak berbeda. Kalau $BSDE dan $SMDM lebih terlihat seperti tekanan di volume penjualan properti dan beban operasional, DMAS justru tampak seperti perusahaan yang masih sangat untung, sangat sehat, tetapi sedang keluar dari tahun pembanding yang terlalu tinggi. Jadi 2025 ini bukan cerita bisnis yang goyah. Ini lebih mirip cerita emiten kawasan industri yang masih mencetak margin sangat tebal, hanya saja penjualan lahannya tidak sebesar tahun sebelumnya sehingga laba ikut turun. Makanya laporan ini terlihat kontras. Di satu sisi laba bersih turun 40% menjadi Rp 800,9 miliar dan pendapatan turun 35,6% menjadi Rp 1,30 triliun. Di sisi lain net profit margin atau margin laba bersih masih menembus 61,1% dan gross profit margin atau margin laba kotor masih 66,2%. Untuk perusahaan mana pun, angka seperti ini masih sangat tinggi. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Kalau dibedah dari model bisnisnya, DMAS sebenarnya adalah mesin penjualan tanah industri. Sumber pendapatan utamanya datang dari lahan industri sebesar Rp 1,13 triliun atau sekitar 86% dari total revenue. Sisanya datang dari perumahan Rp 79 miliar, komersial Rp 33 miliar, dan hotel Rp 15 miliar. Jadi pusat ceritanya tetap ada di tanah industri. Ini penting karena penjualan lahan industri memang sangat cyclical atau naik-turun tajam tergantung keputusan pembelian korporasi besar. Kalau satu atau dua transaksi besar tertunda, pendapatan tahunan langsung terlihat turun tajam. Jadi penurunan revenue 2025 tidak otomatis berarti permintaan kawasan industri lesu permanen. Bisa saja ini hanya jeda siklus setelah 2024 menjadi tahun penjualan yang sangat tinggi.

Yang membuat DMAS tetap menarik justru ada di kualitas struktur asetnya. Mereka punya tanah yang belum dikembangkan seluas 2.179.500 meter persegi atau sekitar 217 hektare. Nilai bukunya sekitar Rp 1,13 triliun. Kalau dibagi luasnya, harga buku tanah itu hanya sekitar Rp 520.920 per meter persegi. Padahal investor paham sendiri, harga jual tanah industri Cikarang saat ini jelas jauh di atas itu. Selain tanah yang belum dikembangkan, mereka juga punya tanah yang sedang dikembangkan seluas 5.261.867 meter persegi atau sekitar 526 hektare. Artinya total cadangan lahan mereka di atas 7,4 juta meter persegi. Jadi walaupun laba turun, isi dapurnya tetap luar biasa. Ini yang bisa disebut sleeping asset, yaitu aset tanah yang belum menghasilkan kas sekarang, tetapi bisa menjadi sumber penjualan dan laba besar di masa depan.

Persediaan mereka juga besar sekali. Total inventory atau persediaan mencapai Rp 5,49 triliun, naik 10% dari Rp 4,99 triliun. Komposisinya terdiri dari tanah dan bangunan siap dijual Rp 597,35 miliar, tanah sedang dikembangkan Rp 3,76 triliun, dan tanah belum dikembangkan Rp 1,13 triliun. Jadi DMAS memang terus mengisi bahan baku masa depan. Dari satu sisi ini bagus karena menjaga runway penjualan jangka panjang. Dari sisi lain, perputaran inventori memang melambat. Rasio persediaan terhadap revenue naik dari 2,45 kali menjadi 4,19 kali. Artinya dengan laju penjualan sekarang, butuh lebih dari 4 tahun untuk menghabiskan persediaan yang ada. Ini memberi pesan bahwa 2025 bukan tahun ekspansi penjualan, melainkan tahun penumpukan stok dan persiapan jangka panjang.

Kalau pindah ke laba rugi, penurunan laba memang nyata. Laba bersih turun dari Rp 1,33 triliun menjadi Rp 800,9 miliar. Tetapi angka itu tetap besar. Justru yang membuat saya bilang laporan ini mirip BSDE dan SMDM adalah pola dasarnya. Ketiganya sama-sama turun laba. Bedanya DMAS masih punya kualitas profit yang jauh lebih gemuk. Revenue terhadap harga pokok penjualan masih sekitar 2,96 kali. Artinya harga jual tanah mereka hampir 3 kali biaya pokoknya. Inilah yang membuat gross margin tetap 66,2%. Jadi meskipun revenue turun, bisnis intinya masih sangat menguntungkan. Penurunan laba lebih banyak disebabkan basis penjualan yang mengecil, bukan karena margin bisnisnya melemah total.

Masalah terbesar DMAS justru muncul di arus kas operasi atau cash flow from operations. CFO tahun 2025 hanya sekitar Rp 23,2 miliar. Tahun sebelumnya masih jauh lebih baik, sehingga rasio CFO terhadap laba turun sampai sekitar 2,9%. Dalam bahasa sederhana, laba 2025 nyaris tidak berubah menjadi kas operasi. Ini titik lemahnya. Kenapa bisa begitu. Karena uang masuk dari pelanggan tidak setinggi laba yang diakui, sementara di saat yang sama perusahaan keluar uang untuk beli tanah baru sekitar Rp 310 miliar dan menampung piutang usaha Rp 212,52 miliar. Jadi keuntungan ada, tapi kasnya tertahan di modal kerja dan akumulasi aset.

Piutang usaha sendiri melonjak dari nol menjadi Rp 212,52 miliar. Walaupun naik besar, kualitasnya masih bagus karena umurnya hanya 1 sampai 3 bulan dan tidak ada pelanggan bandel. Tidak ada cadangan kerugian penurunan nilai atau CKPN untuk piutang usaha, dan tidak ada write-off. Jadi ini bukan piutang macet. Ini lebih ke timing penagihan dari transaksi yang belum sepenuhnya jadi kas. Artinya tekanan CFO bukan karena pembeli kabur, melainkan karena siklus kasnya belum selesai.

Free cash flow atau arus kas bebas juga akhirnya negatif. Karena CFO hanya Rp 23,2 miliar sementara capex atau belanja modal untuk infrastruktur air dan fasilitas lain sekitar Rp 71,3 miliar, free cash flow menjadi minus. Jadi secara kas, 2025 memang lemah. Tetapi lagi-lagi, ini harus dibaca dengan konteks yang benar. DMAS bukan perusahaan yang kekurangan uang karena rugi. Mereka justru memilih melunasi utang bank Rp 500 miliar ke Mandiri, membayar dividen besar Rp 1,39 triliun, lalu masih menambah utang usaha pembelian tanah sekitar Rp 202,6 miliar untuk menjaga likuiditas. Jadi kas memang ditekan, tetapi tekanannya datang dari keputusan alokasi modal, bukan dari kesulitan operasional.

Dari sisi neraca, DMAS justru sangat sehat. Total utang bank jangka pendek dan panjang pada 2025 adalah nol. Artinya utang bank sudah lunas 100%. Kas dan setara kas masih Rp 376,9 miliar. Jadi meskipun CFO kecil, perusahaan tetap tidak punya beban bank. Ini poin yang sangat penting. Banyak emiten properti atau kawasan industri terlihat untung, tapi rentan karena utangnya besar. DMAS tidak begitu. Mereka sudah bersih dari utang bank. Jadi investor tidak perlu khawatir soal bunga yang menekan laba atau refinancing yang bikin pusing.

Aset yang dijaminkan juga relatif kecil. Tanah yang dijaminkan sekitar 854 ribu meter persegi, hanya sekitar 11,4% dari total cadangan lahan lebih dari 7,4 juta meter persegi. Artinya mayoritas aset mereka masih bebas jaminan. Ini memberi fleksibilitas sangat besar kalau suatu saat butuh pembiayaan baru atau mau ekspansi tambahan.

Kalau dilihat dari sisi operasional, laporan ini memang punya dua wajah. Sisi negatifnya jelas. Revenue turun 35,6%, laba bersih turun 40%, CFO anjlok tajam, free cash flow negatif, efisiensi operasional menurun, dan perputaran persediaan melambat. Sisi positifnya juga sangat jelas. Margin masih super tebal, bisnis inti tetap sangat menguntungkan, utang bank nol, kas masih ada, land bank sangat besar, mayoritas aset bebas jaminan, dan tidak ada piutang macet. Jadi ini bukan laporan yang nyaman untuk investor yang suka growth mulus tiap tahun, tetapi tetap nyaman untuk investor yang suka bisnis dengan kualitas aset bagus dan neraca bersih.

DMAS memang mirip BSDE dan SMDM karena sama-sama laba anjlok. Tetapi DMAS masih berada di posisi yang lebih enak dari sisi kualitas margin dan kebersihan neraca. Penurunan labanya lebih cocok dibaca sebagai normalisasi setelah tahun pembanding yang tinggi dan pelemahan siklus penjualan lahan industri, bukan sebagai tanda bahwa model bisnisnya bermasalah. Jadi 2025 ini jelek di sisi growth, tapi belum jelek di sisi fundamental. Mesin laba masih sangat tebal. Yang sedang seret hanya konversi laba menjadi kas.

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU

Read more...

1/7

testestestestestestes
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$SMDM LK Full Year 2025: Laba Juga Anjlok Seperti Sang Induk, $BSDE

Request salah satu user Stockbit bukan di External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345

LK Full Year 2025 SMDM kondisinya memang sangat mirip induknya. Sama-sama mengalami laba anjlok. Ini menarik karena hubungan induk anak biasanya mencerminkan siklus bisnis yang sama. Ketika pasar properti sedang melambat, penjualan rumah dan lahan turun, arus kas ikut tertekan, dan laba otomatis ikut turun. Pola itu terlihat jelas di SMDM. Revenue turun tajam -44,3% dari Rp 693 Miliar menjadi sekitar Rp 386 Miliar. Akibatnya laba bersih yang sebelumnya Rp 162,6 Miliar ikut turun jauh menjadi Rp 26,5 Miliar atau turun sekitar -83%. Ini bukan karena bisnisnya tiba-tiba rusak total, tetapi karena volume transaksi properti memang melambat sehingga pengakuan pendapatan ikut menyusut. Dalam bisnis developer, penurunan volume penjualan langsung berdampak besar pada laba karena biaya operasional tetap harus berjalan. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Namun kalau dilihat lebih dalam, struktur aset SMDM sebenarnya sangat menarik. Perusahaan ini sudah beroperasi sejak 1993 dan bergerak di pengembangan real estat, lapangan golf, hotel, serta country club. Pada akhir 2024 terjadi perubahan besar ketika PT Bumi Serpong Damai Tbk atau BSD masuk sebagai pemegang saham pengendali dengan kepemilikan sekitar 99%. Artinya sekarang SMDM secara efektif berada di bawah ekosistem Sinarmas Land. Kantor pusatnya berada di BSD City, sementara proyek utama mereka tersebar di kawasan Bogor dan Bekasi seperti Rancamaya, Royal Tajur, dan Harvest City.

Aset paling penting SMDM sebenarnya bukan gedung atau hotelnya, melainkan land bank atau cadangan tanah yang belum dikembangkan. Luasnya sangat besar sekitar 8,15 juta meter persegi atau sekitar 814 hektar. Nilai buku tanah ini hanya sekitar Rp 2,07 Triliun. Jika dihitung rata-rata, harga buku tanah hanya sekitar Rp 255 ribu per meter persegi. Ini angka yang sangat rendah karena tanah tersebut diperoleh sejak lama. Penilaian independen KJPP menunjukkan harga pasar tanah di lokasi tersebut saat ini berada di kisaran Rp 4,5 juta sampai Rp 6,5 juta per meter persegi. Artinya secara ekonomi nilai tanah ini bisa sekitar 17 kali lebih tinggi dari nilai buku akuntansinya. Inilah yang sering disebut sleeping asset. Asetnya besar tetapi belum sepenuhnya menghasilkan arus kas karena masih menunggu pengembangan.

Dari sisi neraca, aset tetap perusahaan relatif kecil dibanding nilai tanahnya. Total aset tetap bruto hanya sekitar Rp 493 Miliar dengan nilai bersih setelah depresiasi sekitar Rp 244 Miliar. Sebagian besar berupa bangunan, tanah operasional, peralatan kantor, dan kendaraan. Tidak ada proyek aset tetap besar yang sedang dibangun. Sementara itu persediaan justru naik menjadi Rp 894,87 Miliar. Persediaan ini terutama berupa tanah dan rumah yang siap dijual serta proyek yang sedang dikembangkan. Dalam bisnis properti, persediaan sebenarnya adalah mesin kas karena ketika unit terjual, persediaan berubah menjadi pendapatan. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Piutang perusahaan relatif kecil. Total piutang usaha hanya sekitar Rp 14,99 Miliar dan sebagian besar masih berumur kurang dari satu bulan. Piutang yang lewat 90 hari hanya sekitar Rp 1,37 Miliar dan sudah dicadangkan melalui cadangan kerugian penurunan nilai sekitar Rp 1,32 Miliar. Ini menunjukkan masalah penagihan pelanggan tidak signifikan. Model bisnis properti memang banyak menggunakan pembayaran tunai bertahap atau KPR bank sehingga risiko piutang relatif kecil.

Dari sisi utang, posisi SMDM justru semakin konservatif. Perusahaan secara agresif melunasi utang bank sepanjang 2025. Utang yang sebelumnya lebih dari Rp 100 Miliar kini tersisa sekitar Rp 30,76 Miliar. Sementara kas dan setara kas mencapai Rp 151,79 Miliar. Artinya kas perusahaan sekitar lima kali lebih besar dari utangnya. Secara likuiditas, SMDM sebenarnya sangat aman karena utang tersebut bisa dilunasi kapan saja jika perusahaan mau.

Yang paling menjadi perhatian justru arus kas operasional atau CFO. CFO tahun 2025 tercatat minus sekitar Rp 134,7 Miliar sementara laba bersih masih positif Rp 26,5 Miliar. Rasio CFO terhadap laba menjadi sekitar -5,08 kali. Artinya laba yang tercatat di laporan laba rugi tidak berubah menjadi kas masuk. Hal ini terjadi karena uang perusahaan banyak digunakan untuk membayar kontraktor proyek perumahan, gaji, serta pajak. Dalam laporan arus kas terlihat pembayaran ke kontraktor mencapai sekitar Rp 262 Miliar. Jadi secara kas perusahaan sedang berada pada fase investasi proyek.

Dari sisi profitabilitas, margin kotor sebenarnya justru membaik. Rasio revenue terhadap biaya pokok penjualan meningkat dari sekitar 2,32 kali menjadi 2,69 kali. Artinya setiap Rp 1 biaya pembangunan rumah atau tanah bisa dijual sekitar Rp 2,69. Margin kotor meningkat menjadi sekitar 62,9%. Namun kenaikan margin ini tidak cukup menahan penurunan volume penjualan dan kenaikan beban operasional. Beban selling general and administrative mencapai sekitar Rp 200 Miliar sehingga efisiensi operasional menurun. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Jika dilihat dari sudut pandang bisnis jangka panjang, posisi SMDM sebenarnya unik. Secara operasional tahun 2025 memang terlihat lemah karena penjualan turun dan arus kas negatif. Namun di sisi lain perusahaan memiliki cadangan tanah yang sangat besar dengan nilai pasar jauh lebih tinggi dari nilai bukunya. Ditambah lagi sekarang perusahaan berada di bawah kendali BSD yang merupakan salah satu pengembang kota mandiri terbesar di Indonesia. Dengan dukungan modal, pengalaman pengembangan kawasan, dan jaringan pemasaran BSD, potensi untuk mengembangkan land bank SMDM jauh lebih besar dibanding sebelumnya.

Karena itu kondisi 2025 bisa dilihat sebagai fase konsolidasi setelah akuisisi oleh BSD. Perusahaan merapikan neraca dengan melunasi utang bank dan menyiapkan proyek untuk pengembangan berikutnya. Secara jangka pendek laporan laba terlihat turun tajam. Namun jika fokusnya pada struktur aset dan land bank, perusahaan sebenarnya sedang duduk di atas cadangan tanah yang nilainya sangat besar dan berpotensi menjadi sumber pertumbuhan jangka panjang ketika proyek-proyek baru mulai dibangun dan dijual.

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU

Read more...

1/7

testestestestestestes
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$BSDE LK Full Year 2025: Laba Anjlok, One Off Gain Akuisisi $SMDM Tidak Ada Lagi

BSDE berhasil menunjukkan LK Full Year 2025 yang mengejutkan. Mengejutkan bukan karena labanya meledak, justru sebaliknya. Yang bikin laporan ini terasa mengejutkan adalah karena di tengah laba bersih yang turun tajam, pendapatan yang melemah, beban bunga yang naik, dan free cash flow atau arus kas bebas yang berubah negatif, fondasi bisnisnya ternyata masih berdiri kokoh. Jadi ini bukan laporan yang cantik di permukaan, tetapi ketika dibedah lebih dalam, isinya justru menunjukkan bahwa BSDE masih sangat kuat sebagai master developer. Investor yang cuma lihat laba turun 41,8% mungkin akan langsung manyun. Tapi investor yang lihat kualitas laba, benteng kas, cadangan tanah, dan kekuatan margin justru bisa bilang 2025 ini jauh lebih baik daripada kelihatannya. External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345

Akar kekuatan BSDE tetap sama seperti dulu, yaitu tanah. Bukan sekadar tanah sedikit, tapi land bank atau cadangan tanah yang sangat besar, mencapai 44.483.536 meter persegi atau sekitar 4.448 hektare. Nilai bukunya Rp 18,44 triliun. Kalau dibagi luasnya, harga buku rata-ratanya hanya sekitar Rp 414.703 per meter persegi. Di sinilah letak salah satu kejutan paling penting. Secara akuntansi, tanah BSDE masih tercatat sangat murah karena banyak dibeli puluhan tahun lalu. Padahal secara ekonomi, nilai pasar lahan di BSD dan kawasan strategis lain jelas sudah jauh lebih tinggi. Inilah yang bisa disebut sleeping asset, yaitu aset yang belum sepenuhnya aktif menghasilkan arus kas hari ini, tetapi nilainya tersimpan besar untuk masa depan. Jadi walaupun laba tahun berjalan turun, isi gudang masa depan perusahaan justru tetap sangat kaya. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Kalau bergeser ke aset tetap, sebenarnya porsi ini bukan pusat kekuatan BSDE. Nilai bruto aset tetap sekitar Rp 2,84 triliun, akumulasi depresiasi atau akumulasi penyusutan Rp 1,60 triliun, sehingga nilai netonya tinggal Rp 1,23 triliun. Rasio akumulasi depresiasi terhadap aset tetap bruto sekitar 56,5%, artinya lebih dari separuh umur ekonomis aset tetap sudah terpakai. Tetapi untuk BSDE ini bukan isu utama, karena nilai utama perusahaan memang bukan mesin atau bangunan operasional, melainkan cadangan tanah dan persediaan properti.

Persediaan justru jauh lebih penting. Total inventory atau persediaan mencapai Rp 18,32 triliun, naik 8,7% dari Rp 16,86 triliun. Isinya terdiri dari tanah dan bangunan siap dijual Rp 5,40 triliun, bangunan dalam konstruksi Rp 1,65 triliun, dan tanah yang sedang dikembangkan Rp 11,26 triliun. Jadi saat investor melihat free cash flow negatif, investor harus paham dulu bahwa sebagian besar uang BSDE memang sedang diparkir ke persediaan dan tanah. Ini bukan kebocoran karena operasi rusak. Ini lebih mirip developer besar yang terus mengisi amunisi proyek untuk beberapa tahun ke depan. Rasio persediaan terhadap revenue atau pendapatan bahkan naik dari 1,21 kali menjadi 1,43 kali. Artinya BSDE memegang inventori setara sekitar 1,4 tahun penjualan. Buat investor konservatif ini bisa dibaca sebagai penumpukan. Tapi buat investor yang paham model bisnis developer kota mandiri, ini juga bisa dibaca sebagai stok bahan baku jangka panjang.

Yang menarik, kualitas tagihannya masih sangat sehat. Piutang usaha bruto hanya Rp 146,04 miliar. Dibanding total aset, angka ini kecil sekali, kurang dari 0,2%. Piutang terhadap revenue juga hanya 1,09%. Ini memberi pesan bahwa BSDE tidak hidup dari piutang yang menggembung. Mayoritas pembeli memakai KPR atau kredit pemilikan rumah dari bank, atau pembayaran tunai bertahap yang arus masuknya relatif jelas. Cadangan kerugian penurunan nilai atau CKPN turun dari Rp 6,32 miliar menjadi Rp 5,06 miliar, walaupun tetap ada penghapusbukuan sekitar Rp 1,18 miliar. Jadi memang ada piutang bermasalah, tapi skalanya kecil dan sama sekali bukan ancaman inti. Dalam bisnis properti, ini tanda yang cukup sehat.

Pendapatan turun 7% menjadi Rp 12,78 triliun. Laba bersih turun 41,8% dari Rp 4,91 triliun menjadi Rp 2,85 triliun. Kalau cuma lihat dua angka ini, laporan 2025 memang tampak mengecewakan. Tapi ada hal penting yang harus diluruskan. Tahun 2024 mendapat bantuan laba non-rutin dari bargain purchase senilai sekitar Rp 1,5 triliun. Bargain purchase itu intinya keuntungan akuntansi karena akuisisi murah, dan sifatnya non-cash, jadi bukan uang tunai murni hasil operasi. Karena komponen itu tidak muncul lagi di 2025, laba tahun ini terlihat jatuh sangat dalam. Jadi penurunan laba 2025 memang nyata, tapi headline-nya juga dibuat terlihat lebih jelek oleh basis pembanding yang tidak bersih. Justru dari sisi kualitas laba, 2025 lebih jujur. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Itu terlihat dari arus kas operasi atau cash flow from operations yang tetap stabil di Rp 2,54 triliun. Rasio CFO terhadap laba naik menjadi 89,1% dari 51,7% di tahun sebelumnya. Artinya laba 2025 jauh lebih dekat dengan uang tunai nyata. Tahun lalu laba besar, tapi lebih banyak dibantu faktor akuntansi. Tahun ini labanya lebih kecil, tapi kualitasnya jauh lebih bagus. Ini salah satu kejutan terbaik dari BSDE 2025. Jadi kalau investor bilang laporan ini mengejutkan, menurut saya masuk akal, karena di balik laba yang turun dalam, kualitas earnings justru membaik sangat jelas.

Dari sisi bisnis inti, sumber laba BSDE juga masih kokoh. Segmen real estat menyumbang Rp 11,83 triliun atau 92,5% dari total pendapatan, dengan laba kotor Rp 7,73 triliun. Properti investasi seperti sewa dan pengelolaan gedung menyumbang Rp 769 miliar dengan laba kotor Rp 440 miliar. Segmen jalan tol Serpong Balaraja memang masih merugi kotor Rp 71 miliar dari pendapatan Rp 103 miliar, tapi ini masih wajar karena infrastruktur tol di tahap awal memang berat di biaya penyusutan dan operasional. Yang paling penting, revenue terhadap cost of goods sold atau harga pokok penjualan masih sekitar 2,74 kali. Artinya gross margin atau margin laba kotor masih sekitar 63,5%. Setiap Rp 100 rumah atau tanah yang dijual, modal langsungnya hanya sekitar Rp 36,5. Ini margin yang masih sangat kuat.

Masalah utama BSDE justru muncul setelah laba kotor, yaitu di beban operasional dan beban bunga. Revenue terhadap beban selling, general, and administrative atau SGA turun dari 3,49 kali menjadi 3,05 kali. Itu berarti efisiensi operasional memburuk karena beban SGA naik dari Rp 3,9 triliun ke Rp 4,18 triliun. Lalu beban bunga melonjak menjadi Rp 1,53 triliun. Ini kombinasi yang sangat menggerus laba. Jadi bukan bisnis propertinya yang mendadak jelek, tetapi biaya menjalankan dan membiayai ekspansinya yang makin berat.

Arus kas bebas juga berubah negatif. CFO sebesar Rp 2,54 triliun habis disedot oleh pembayaran pembelian tanah bersih sekitar Rp 3,02 triliun. Akibatnya free cash flow menjadi minus sekitar Rp 800 miliar, padahal tahun 2024 masih positif Rp 480 miliar. Sekilas ini tampak menakutkan. Tapi untuk BSDE, ini harus dibaca dalam konteks yang benar. Mereka sedang berada dalam fase land banking agresif, yaitu fase memborong lahan untuk cadangan proyek masa depan. Jadi free cash flow negatif ini bukan karena bisnis inti tidak menghasilkan uang, melainkan karena uang kas operasi sengaja dipakai untuk menambah bahan baku strategis. Untuk developer kota mandiri, itu justru sering menjadi tanda ekspansi yang masuk akal. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Soal utang, BSDE juga jauh dari kata mengkhawatirkan. Total utang berbunga sekitar Rp 16,35 triliun. Angka ini memang besar secara nominal. Tetapi kas dan setara kas mereka juga sangat besar, mencapai Rp 10,28 triliun. Jadi utang bersih atau net debt sebenarnya tinggal sekitar Rp 6,07 triliun. Dibanding ekuitas Rp 52,66 triliun, gearing ratio atau rasio utang bersih terhadap modal hanya 11,53%. Itu rendah sekali. Bahkan kas mereka lebih dari lima kali lipat kewajiban utang berbunga jangka pendek yang jatuh tempo dalam setahun, sekitar Rp 1,92 triliun. Jadi dari sisi likuiditas, BSDE benar-benar punya benteng kas. Secara kotor memang utang terhadap CFO butuh sekitar 6,4 tahun untuk dilunasi. Tapi secara realistis, setelah dikurangi kas, utang bersih itu hanya butuh sekitar 2,4 tahun CFO untuk habis. Ini menunjukkan solvabilitas mereka masih sangat aman.

Aset yang dijaminkan ke bank juga tidak mengkhawatirkan. Tanah yang dijaminkan hanya sekitar 1 sampai 2 juta meter persegi, kurang dari 5% dari total land bank. Ditambah beberapa properti investasi seperti Ocean Park, Epicentrum Walk, Q-Big, GOP 1, My Republic Plaza, dan The Breeze. Artinya sebagian besar aset strategis BSDE masih bebas jaminan atau unencumbered assets. Ini memberi ruang napas yang besar kalau suatu saat perusahaan perlu tambahan pembiayaan baru.

LK Full Year 2025 BSDE memang mengejutkan, tapi bukan karena hasilnya jelek sekali. Justru mengejutkan karena di tengah laba bersih yang anjlok 41,8%, pendapatan yang turun 7%, beban bunga yang naik, dan free cash flow yang negatif, ternyata struktur bisnisnya masih sangat kokoh. Margin kotor tetap sangat tebal, kualitas laba jauh lebih baik, arus kas operasi stabil, kas sangat besar, gearing rendah, piutang kecil, dan cadangan tanah luar biasa murah secara buku. Kalau investor hanya melihat headline laba, investor bisa kecewa. Tapi kalau investor melihat isi neraca dan kualitas arus kas, BSDE 2025 justru memberi kejutan yang cukup positif. Ini bukan laporan perusahaan yang sedang tumbang. Ini laporan perusahaan yang sedang menahan sakit jangka pendek demi menumpuk amunisi jangka panjang.

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU

Read more...
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Update LK Tahunan 2025 $SMDM

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$SMDM gacoorr senen ara

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$SMDM insider nya si $BSDE laporan keuangannya gacor, senen ikutan ngegas juga laahh

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$RODA $SMDM $FPNI sepi ☕☕☕

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$SMDM perlu waktu beberapa saat lagi untuk terbang

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$SMDM Sabar yg lagi puasa

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$JSPT $SMDM $GMTD

$SMDM kesini dulu yuk..

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$SMDM $MPOW $HYGN ☕☕☕

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ASPI $SMDM $LAJU 🔥🚀🔥🚀🔥🚀

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$SMDM Turun sini dlu bentar yok sesuai harga MTO.

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ASPI $SMDM $HYGN ☕☕☕

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ASPI $HYGN $SMDM ☕☕☕

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ASPI $FPNI $SMDM 🚀🔥🚀🔥🚀🔥

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$SMDM WKWKWKW NI SAHAM YG DIPERDAGANGKAN CUMA 1% HAHHHH🤣🤣🤣🤣🤌🏻

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$SMDM target 1000 udah gitu aja.
Dyor

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

SAHAM : $BLUE
HARGA SAAT INI : 4590

1️⃣ TREN & STRUKTUR HARGA (Swing View)
- Tren Utama : Sideways cenderung rebound
- Timeframe Acuan : Daily (Swing Trader)
- Catatan : Harga bergerak dalam fase konsolidasi setelah koreksi dari area atas. Struktur masih membentuk base dan belum konfirmasi uptrend baru, namun peluang swing rebound terbuka selama support kunci bertahan.

2️⃣ SUPPORT & RESISTANCE
- Support Minor : 4450
- Support Kunci : 4200
- Resistance 1 : 4800
- Resistance 2 : 5100

3️⃣ KONDISI VOLUME & BANDAR
- Analisa volume : Relatif stabil, belum agresif
- Indikasi : Akumulasi bertahap
- Selama harga di atas 4200 → masih dijaga

4️⃣ RISK / REWARD (WAJIB)
- Entry Acuan : 4590
- Stop Loss : 4100
- Target Swing : 5000
- Risk : Reward : ±1 : 0,8 (SPEKULATIF)

5️⃣ FUNDAMENTAL SINGKAT
- Emiten sektor transportasi/logistik, sensitif terhadap mobilitas dan biaya operasional
- Cocok untuk swing / rebound, belum ideal untuk mid-term agresif

📌 KESIMPULAN SWING TRADER
- BLUE masih bisa dimainkan swing rebound selama bertahan di atas support kunci 4200
- Target area 4800–5100, risiko meningkat jika breakdown 4200

Analisa ini panduan ya Boss, eksekusi tetap kembali ke gaya trading Boss.

Nyangkut disaham apa Boss? Sini aku bantu $SMRA $SMDM

Read more...
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$SMDM $BKSL $WMUU ☕☕☕

2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy