


Volume
Avg volume
PT. Mega Manunggal Property Tbk (MMLP) adalah penyedia gudang yang mendukung kebutuhan properti industri di Indonesia yang berfokus pada penyediaan gedung perkantoran dan gudang logistik yang baik di Indonesia. Saat ini MMLP memiliki 3 aset di 2 lokasi strategis yang berbeda: Kawasan Bandara Halim (Kawasan Jakarta Timur) - Intirub Business Park (IBP) dan Kota Industri MM2100 Cibitung, Bekasi: - Unilever West Distribution Center; - Li & Fung Logistics DC.
makin hari makin tenggelam ga bakal naik, buruan pada CL daripada terlanjur sampek jurang uang kalian hilang
$MMLP
$MMLP Emang bener mau Go Private?
kalo emang bener mau go private, pernah denger cerita AQUA go private? hmmmmm
emiten akan menawar barang yang ada di tangan investor...
$IHSG
ANALISA SAHAM $IMJS
Harga Sekarang: Rp 184
Zona Area Beli Aman:
Rp 172 – 178
• Area support kuat, cocok untuk entry aman jika harga pullback ke zona ini, Boss
Zona Stoploss:
< Rp 165
• Jika turun di bawah level ini, struktur swing melemah dan rawan koreksi lebih dalam, Boss
Jika naik & breakout:
> Rp 190 → ENTRY LANJUTAN (tambah posisi)
• Breakout 190 berpotensi memicu momentum bullish lanjutan, Boss
Target Profit:
• TP1 = Rp 205
• TP2 = Rp 220 – 235
Keterangan Tambahan:
• Selama harga bertahan di atas 172, peluang swing bullish tetap terjaga, Boss
• IMJS saham small cap properti/konstruksi, pergerakan cenderung reaktif dan sensitif arus spekulatif
• Breakout valid jika disertai volume meningkat
Analisa saya boleh bantu, tapi keputusan tetap milik Boss.
Nyangkut disaham apa Boss? Sini aku bantu $PGAS $MMLP
EmitenNews.com - PT Provident Investasi Bersama Tbk (PALM) memastikan telah menyiapkan dana untuk pelunasan pokok sekaligus pembayaran bunga ke-12 Obligasi Berkelanjutan I Provident Investasi Bersama Tahap I Tahun 2023 Seri B.
Lim Na Lie Sekretaris Perusahaan/Corporate Secretary PALM menyatakan, ob...

www.emitennews.com

$MMLP ngapain ikut-ikutan anjlok anjir wkwk orang barangnya dipegang bandar semua karena mau delisting
EmitenNews.com - Astra International (ASII) bakal mengusulkan dividen final Rp292 per lembar. Gelontorkan dividen itu, akan diusulkan dalam rapat umum pemegang saham tahunan perseroan pada April 2026 mendatang. Sebelumnya, pada Oktober 2025, Astra telah menyalurkan dividen interim Rp98.
Nah, kalau ...

www.emitennews.com

$ASII
💸 ASII 2025: Laba Bersih -3% YoY, Sejalan Ekspektasi
/February 27, 2026 by Stockbit Snips
Astra International (ASII) mencatatkan laba bersih sebesar Rp8,3 T pada 4Q25 (+3% YoY, -7% QoQ). Hasil ini membuat laba bersih selama 2025 mencapai Rp32,8 T (-3% YoY), sejalan dengan ekspektasi (102% estimasi konsensus). Di antara ketiga bisnis inti perseroan, segmen ‘financial services’ menjadi penopang kinerja pada 2025, sementara segmen 'heavy equipment, mining, construction & energy (HEMCE)’ di bawah anak usaha United Tractors ($UNTR) menjadi pemberat kinerja.
Laba ‘Financial Services’ Tumbuh +14% CAGR dalam 3 Tahun Terakhir
Segmen ‘financial services’ kembali mencetak kinerja solid pada 2025 dengan laba bersih tumbuh +13 YoY/+9% YoY pada 4Q25/2025. Dalam 3 tahun terakhir, laba segmen ini konsisten bertumbuh dengan CAGR +14% dan kini menyumbang ~27% terhadap laba keseluruhan ASII (vs. 2022: ~21%). Selama 2025, kenaikan laba bersih segmen ‘financial services’ didorong oleh pertumbuhan pembiayaan konsumen baru +5% YoY, terutama dari berlanjutnya permintaan kuat pembiayaan multiguna.
Sementara itu, laba bersih segmen ‘automotive & mobility’ flat di level Rp11,4 T selama 2025. Pertumbuhan bisnis komponen dan motor berhasil mengkompensasi bisnis mobil yang mengalami pelemahan seiring penurunan penjualan mobil nasional sebesar -7% YoY selama 2025.
Laba ‘HEMCE’ via UNTR Terkontraksi -24% YoY
UNTR mencatat laba bersih sebesar Rp3,3 T pada 4Q25 (+0% QoQ, -15% YoY). Hasil ini membuat laba bersih UNTR selama 2025 mencapai Rp14,8 T (-24% YoY), di bawah ekspektasi (92% estimasi 2025F konsensus). Penurunan laba bersih turut ditekan oleh kerugian penurunan nilai atas investasi pada PT Supreme Energy Rantau Dedap senilai Rp866,1 M.
Mengecualikan kerugian tersebut, laba bersih UNTR tetap turun -20% YoY selama 2025, relatif sejalan dengan ekspektasi (97% estimasi 2025F konsensus). Berdasarkan segmennya, bisnis ‘emas dan mineral lainnya’ menjadi penopang kinerja UNTR dengan pertumbuhan laba bersih +104% QoQ/+79% YoY pada 4Q25/2025, di tengah pelemahan segmen ‘alat berat’, ‘kontraktor pertambangan’, dan ‘pertambangan batu bara’ secara tahunan pada 2025.
Bisnis Non–Inti Tumbuh Baik, Kini Berkontribusi ~10% pada Laba Keseluruhan
Segmen–segmen di luar ketiga segmen inti di atas membukukan kinerja yang solid selama 2025, dengan masing–masing mencetak pertumbuhan laba bersih di atas +20% YoY. Segmen ‘property’ mencatatkan pertumbuhan laba tertinggi hingga +224% YoY, didorong kontribusi dari aset pergudangan industri yang baru saja diakuisisi serta pembukuan negative goodwill dari akuisisi Mega Manunggal Property ($MMLP). Segmen ‘agri’ didorong oleh kenaikan harga jual CPO (+11% YoY) sementara segmen ‘infra & logistics’ didorong kenaikan pendapatan tol harian (+8% YoY).
Kinerja solid yang dicatatkan segmen–segmen non–inti ini membuat kontribusi labanya mencapai sekitar ~10% terhadap laba bersih keseluruhan ASII (vs. 2024: ~7%).
Key Takeaway
Secara umum, stabilitas kinerja laba ASII tetap terjaga — meski kinerja UNTR tertekan cukup dalam selama 2025 — berkat diversifikasi portofolio perseroan, terutama dengan semakin meningkatnya kontribusi dari segmen–segmen non–inti. Kami menilai bahwa stabilitas kinerja membuat ASII menjadi salah satu opsi dividend play yang atraktif. ASII sendiri mengusulkan dividen final Rp292/saham, mengindikasikan dividend yield 4,4% per Jumat (27/2). Sebelumnya, ASII telah membagikan dividen interim tahun buku 2025 sebesar Rp98/saham pada Oktober 2025.
Dalam waktu dekat, kami menilai pergerakan harga saham ASII berpotensi lebih dipengaruhi oleh aksi korporasi dan perkembangan terkait status perizinan tambang emas Martabe. ASII sendiri baru saja menyelesaikan akuisisi 100% PT Arafura Surya Alam, perusahaan tambang emas Doup di Sulawesi Utara, pada Februari 2026. ASII juga telah menyelesaikan buyback saham tranche ke–2 pada 25 Februari 2026 dengan realisasi senilai Rp685 M, serta berencana kembali menggelar buyback dengan rincian yang belum diumumkan. Terakhir, ASII berencana mengumumkan hasil strategic review perseroan pada akhir 1H26.
https://snips.stockbit.com/snips-terbaru/-asii-2025-laba-bersih-3-yoy-sejalan-ekspektasi?source=research

💸 ASII 2025: Laba Bersih -3% YoY, Sejalan Ekspektasi
Astra International ($ASII) mencatatkan laba bersih sebesar Rp8,3 T pada 4Q25 (+3% YoY, -7% QoQ). Hasil ini membuat laba bersih selama 2025 mencapai Rp32,8 T (-3% YoY), sejalan dengan ekspektasi (102% estimasi konsensus). Di antara ketiga bisnis inti perseroan, segmen ‘financial services’ menjadi penopang kinerja pada 2025, sementara segmen 'heavy equipment, mining, construction & energy (HEMCE)’ di bawah anak usaha United Tractors ($UNTR) menjadi pemberat kinerja.
Laba ‘Financial Services’ Tumbuh +14% CAGR dalam 3 Tahun Terakhir
Segmen ‘financial services’ kembali mencetak kinerja solid pada 2025 dengan laba bersih tumbuh +13 YoY/+9% YoY pada 4Q25/2025. Dalam 3 tahun terakhir, laba segmen ini konsisten bertumbuh dengan CAGR +14% dan kini menyumbang ~27% terhadap laba keseluruhan ASII (vs. 2022: ~21%). Selama 2025, kenaikan laba bersih segmen ‘financial services’ didorong oleh pertumbuhan pembiayaan konsumen baru +5% YoY, terutama dari berlanjutnya permintaan kuat pembiayaan multiguna. Sementara itu, laba bersih segmen ‘automotive & mobility’ flat di level Rp11,4 T selama 2025. Pertumbuhan bisnis komponen dan motor berhasil mengkompensasi bisnis mobil yang mengalami pelemahan seiring penurunan penjualan mobil nasional sebesar -7% YoY selama 2025.
Laba ‘HEMCE’ via UNTR Terkontraksi -24% YoY
UNTR mencatat laba bersih sebesar Rp3,3 T pada 4Q25 (+0% QoQ, -15% YoY). Hasil ini membuat laba bersih UNTR selama 2025 mencapai Rp14,8 T (-24% YoY), di bawah ekspektasi (92% estimasi 2025F konsensus). Penurunan laba bersih turut ditekan oleh kerugian penurunan nilai atas investasi pada PT Supreme Energy Rantau Dedap senilai Rp866,1 M. Mengecualikan kerugian tersebut, laba bersih UNTR tetap turun -20% YoY selama 2025, relatif sejalan dengan ekspektasi (97% estimasi 2025F konsensus). Berdasarkan segmennya, bisnis ‘emas dan mineral lainnya’ menjadi penopang kinerja UNTR dengan pertumbuhan laba bersih +104% QoQ/+79% YoY pada 4Q25/2025, di tengah pelemahan segmen ‘alat berat’, ‘kontraktor pertambangan’, dan ‘pertambangan batu bara’ secara tahunan pada 2025.
Bisnis Non–Inti Tumbuh Baik, Kini Berkontribusi ~10% pada Laba Keseluruhan
Segmen–segmen di luar ketiga segmen inti di atas membukukan kinerja yang solid selama 2025, dengan masing–masing mencetak pertumbuhan laba bersih di atas +20% YoY. Segmen ‘property’ mencatatkan pertumbuhan laba tertinggi hingga +224% YoY, didorong kontribusi dari aset pergudangan industri yang baru saja diakuisisi serta pembukuan negative goodwill dari akuisisi Mega Manunggal Property ($MMLP). Segmen ‘agri’ didorong oleh kenaikan harga jual CPO (+11% YoY) sementara segmen ‘infra & logistics’ didorong kenaikan pendapatan tol harian (+8% YoY). Kinerja solid yang dicatatkan segmen–segmen non–inti ini membuat kontribusi labanya mencapai sekitar ~10% terhadap laba bersih keseluruhan ASII (vs. 2024: ~7%).
🔑Key Takeaway
Secara umum, stabilitas kinerja laba ASII tetap terjaga — meski kinerja UNTR tertekan cukup dalam selama 2025 — berkat diversifikasi portofolio perseroan, terutama dengan semakin meningkatnya kontribusi dari segmen–segmen non–inti. Kami menilai bahwa stabilitas kinerja membuat ASII menjadi salah satu opsi dividend play yang atraktif. ASII sendiri mengusulkan dividen final Rp292/saham, mengindikasikan dividend yield 4,4% per Jumat (27/2). Sebelumnya, ASII telah membagikan dividen interim tahun buku 2025 sebesar Rp98/saham pada Oktober 2025.
Dalam waktu dekat, kami menilai pergerakan harga saham ASII berpotensi lebih dipengaruhi oleh aksi korporasi dan perkembangan terkait status perizinan tambang emas Martabe. ASII sendiri baru saja menyelesaikan akuisisi 100% PT Arafura Surya Alam, perusahaan tambang emas Doup di Sulawesi Utara, pada Februari 2026. ASII juga telah menyelesaikan buyback saham tranche ke–2 pada 25 Februari 2026 dengan realisasi senilai Rp685 M, serta berencana kembali menggelar buyback dengan rincian yang belum diumumkan. Terakhir, ASII berencana mengumumkan hasil strategic review perseroan pada akhir 1H26.
Stockbit Snips 27 Februari 2026
https://cutt.ly/otEeDNds

Baru saja selesai liat laporan keuangan Tahunan (FY 2025) untuk $MMLP dan $LSIP. Hasilnya sangat menarik karena keduanya menunjukkan anomali yang bisa mengecoh kalau kita cuma lihat headline laba bersihnya saja.
Berikut kira-kira kesimpulannya:
MMLP (The Turnaround Story)
Sekilas laba bersihnya anjlok parah dari Rp241 Miliar ke Rp63 Miliar. Tapi tunggu dulu! Ini murni karena "bersih-bersih" buku pasca diakuisisi Astra (absennya keuntungan revaluasi aset/laba kertas).
Coba cek Arus Kas Operasinya: Meroket 285% jadi Rp115 Miliar! Ini bukti nyata kalau manajemen baru sangat disiplin soal efisiensi dan penagihan kas. Cash is King, bisnis intinya justru makin sehat.
LSIP (The Ultimate Cash Cow)
Beda cerita, LSIP sedang berada di performa puncaknya berkat harga komoditas. Top line & bottom line tumbuh solid (laba bersih naik 28%).
Yang bikin ngiler: Tumpukan Kas dan Setara Kas tembus Rp 7,59 Triliun (hampir 50% dari total aset) dengan status ZERO utang bank! Dengan kas menganggur sebanyak ini, peluang untuk tebar Special Dividend (Dividen Jumbo) di RUPS nanti sangat terbuka lebar.
Cek gambar untuk infografis komparasi detailnya! 👆
ada yang menarik lainnya BBTN
⚠️ DISCLAIMER: Tulisan dan infografis ini murni opini dan analisa pribadi untuk tujuan edukasi. BUKAN AJAKAN JUAL ATAU BELI.
Segala keputusan investasi dan trading ada
di tangan masing-masing. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan sesuaikan dengan profil risiko (Disclaimer On).

JAKARTA – Laba bersih PT Astra International Tbk (ASII) merosot 3% secara tahunan menjadi Rp32,8 triliun per Desember 2025.
Sejalan dengan ini, pendapatan konsolidasi Grup Astra juga menyusut 2% menjadi Rp323,4 triliun, tertekan kinerja lini batu bara dan jasa tambang, serta penjualan mobil baru y...

www.idnfinancials.com
