Volume
Avg volume
PT. Merck Tbk (MERK) bergerak di bidang farmasi dan kimia di Indonesia. Di bidang farmasi, perusahaan memproduksi dan menjual merek terkenal farmasi seperti Neurobion, Sangobion dan Glucophage dengan fasilitas bersertifikat cGMP; dan Dalam bidang kimia, perusahaan memasarkan berbagai bahan kimia, pewarna, dan berbagai spesialisasi kimia lainnya. Produksi komersial dimulai pada tahun 1974. Perusahaan yang tergabung dalam Grup Merck, berkantor pusat di Jerman.
$DMAS transisi dari story growth + asset play, menjadi cigar butt + turnaround stories. Cigar butt berfokus pada intrinsic value dan cash flow, lalu jika cash yang ditahan dipakai lagi untuk investasi mengembangkan bisnis, BUKAN untuk bayar utang, akan jadi turnaround story
Growth + cigar butt ada $INDF, dari revenue, laba usaha, hingga free cash flow tidak pernah melemah secara yoy, tapi valuasi tergerus, sehingga margin of safety melambung di atas 60% secara DCF
Cigar butt yang sudah terjadi turnaround ada $MERK, sekarang sudah kembali ke siklus growth
Seperti yang saya ceritakan di artikel-artikel sebelumnya, apa kesamaan diantara para cigar butt yang berhasil turnaround dan transisi menuju growth? Tidak punya utang, dan tidak butuh utang untuk investasi mengembangkan ambisi bisnis
$MERK LK Q3 2025: Cantik Di Dividen, Berliku Di Piutang dan Persediaan
MERK adalah salah satu perusahaan yang paling rajin bagi dividen bahkan sejak pertama kali IPO di tahun 1981 hingga sekarang di 2025. Seperti yang sudah saya bahas di postingan sebelumnya bahwa satu-satunya yang menghambat MERK untuk growth adalah induknya sendiri yang ada di Jerman Merck KgAA. MERK yang ada di Indonesia didesain hanya menjadi semacam toll manufacture atau maklon buat induknya di Jerman. Itulah mengapa trend revenue dan laba MERK di Indonesia tidak pernah stabil. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Lanjutan dari postingan di External Comunity Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community menggunakan kode: A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Kalau ditarik dari kinerja kuartalan 2024 dan 2025, grafiknya betul-betul naik turun. Di Q1 2025, topline turun dari sekitar Rp 249,5 miliar menjadi kurang lebih Rp 215,2 miliar. Turun lebih dari Rp 34,3 miliar hanya dalam tiga bulan pertama. Sementara itu COGS (Cost of Goods Sold atau beban pokok penjualan) malah naik sedikit, dari kurang lebih Rp 131,8 miliar menjadi sekitar Rp 135,5 miliar. Akibatnya laba bruto amblas dari sekitar Rp 117,7 miliar ke Rp 79,6 miliar dan gross margin jatuh dari 47,2% ke 37,0%. Jadi bukan cuma volume yang melemah, tapi setiap rupiah penjualan juga menghasilkan laba kotor yang jauh lebih tipis.
Ketika revenue MERK melemah, beban operasional malah melonjak. Total SGA (Selling General and Administrative Expenses atau beban penjualan umum dan administrasi) di Q1 naik dari sekitar Rp 50,0 miliar menjadi Rp 59,5 miliar, mayoritas dari lonjakan beban administrasi sekitar Rp 6,8 miliar. Kombinasi laba bruto yang turun ekstrem dan SGA yang naik ini membuat profit sebelum pajak Q1 turun dari sekitar Rp 31,1 miliar menjadi hanya Rp 17,8 miliar. Di sisi bottomline, laba bersih kuartalan ikut susut dari kurang lebih Rp 23,7 miliar menjadi Rp 13,2 miliar. Net margin menyempit dari 9,5% ke 6,1%. Q1 2025 ini benar-benar menggambarkan sisi rapuh bisnis maklon. Begitu order dan harga kurang bersahabat, margin langsung rontok dari atas sampai bawah laporan laba rugi. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Masuk ke Q2 2025, topline mulai kelihatan membaik. Revenue naik dari sekitar Rp 221,7 miliar di Q2 2024 menjadi kurang lebih Rp 265,0 miliar di Q2 2025, lompat sekitar Rp 43,3 miliar. Namun COGS ikut berlari, dari kira-kira Rp 187,2 miliar menjadi Rp 218,0 miliar, naik sekitar Rp 30,8 miliar. Gross margin memang membaik, tapi baru dari 15,6% ke 17,8%, masih kategori tipis. Laba sebelum pajak turun cukup jauh, dari sekitar Rp 31,1 miliar menjadi Rp 13,4 miliar. Di level bottomline, laba bersih kuartalan tergerus dari kurang lebih Rp 23,5 miliar menjadi sekitar Rp 9,3 miliar, dan net margin jatuh dari 10,6% ke 3,5%. Jadi di Q2 2025, topline sudah lompat, tapi bottomline belum ikut lari karena COGS dan beban masih berat.
Justru yang paling mencolok di Q2 2025 adalah arus kas operasi. CFO (Cash Flow from Operations atau arus kas dari aktivitas operasi) Q2 2024 hanya sekitar Rp 18,1 miliar, tapi Q2 2025 meledak jadi kurang lebih Rp 138,2 miliar. Padahal kalau lihat OPM (Operating Profit Margin atau margin laba operasi) kuartalan, estimasinya masih negatif sekitar minus 0,9%. Ini sinyal kuat bahwa lonjakan kas bukan murni dari laba operasional, melainkan dari pergerakan modal kerja. Sampai LK Q3 2025 YTD, arus kas masuk dari pelanggan mencapai sekitar Rp 798,4 miliar, naik dari Rp 724,8 miliar di 2024. Di sisi lain, pembayaran ke pemasok sepanjang 2025 YTD turun dari sekitar Rp 552,9 miliar ke Rp 434,0 miliar. Artinya perusahaan menahan sekitar Rp 118,9 miliar kas yang biasanya mengalir ke pemasok. Kalau digabung dengan penagihan piutang yang lebih agresif, wajar CFO Q2 2025 kelihatan ekstrem tinggi.
Gambar berubah total di Q3 2025. Di sini MERK seperti balas dendam setelah dua kuartal yang goyah. Topline kuartalan naik dari sekitar Rp 282,5 miliar menjadi kurang lebih Rp 334,0 miliar, bertambah sekitar Rp 51,4 miliar. Yang lebih penting, COGS justru turun dari kurang lebih Rp 193,7 miliar menjadi sekitar Rp 181,7 miliar, turun sekitar Rp 12,0 miliar. Laba bruto melompat dari Rp 88,8 miliar ke Rp 152,2 miliar. Gross margin naik tajam dari 31,4% ke 45,6%, level yang jauh lebih sehat untuk bisnis farmasi bermerek. SGA memang ikut naik, dari sekitar Rp 51,5 miliar ke Rp 63,8 miliar, tapi kenaikan ini tenggelam oleh lonjakan laba bruto. Hasil akhirnya, PBT (Profit Before Tax atau laba sebelum pajak) kuartalan naik dari sekitar Rp 38,3 miliar menjadi Rp 102,4 miliar, dan di bottomline laba bersih dari kurang lebih Rp 29,9 miliar menjadi Rp 79,6 miliar. Net margin Q3 2025 terbang ke 23,8%. Ini kuartal yang menunjukkan kapasitas earnings power MERK ketika topline dan efisiensi biaya berjalan bersama. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Arus kas operasi di Q3 2025 juga ikut menguat. CFO Q3 2024 yang hanya sekitar Rp 22,7 miliar naik menjadi sekitar Rp 60,5 miliar di Q3 2025. Secara YTD, posisi Q3 2025 malah jauh lebih dramatis. CFO YTD Q3 2023 sekitar Rp 135,1 miliar, jeblok jadi hanya sekitar Rp 13,3 miliar di Q3 2024, lalu melesat ke sekitar Rp 234,8 miliar di Q3 2025. Dengan CFI (Cash Flow from Investing atau arus kas dari aktivitas investasi) yang relatif stabil di kisaran minus Rp 17–18 miliar, FCF (Free Cash Flow atau arus kas bebas) YTD Q3 2025 tembus sekitar Rp 252,5 miliar, jauh di atas sekitar Rp 30,8 miliar di 2024 dan Rp 147,9 miliar di 2023. Kekuatan FCF ini yang membuat MERK tetap leluasa membayar dividen besar, termasuk pembayaran dividen kas sekitar Rp 142,8 miliar di 2025, sambil tetap menjaga kas akhir periode sekitar Rp 171,8 miliar, naik dari Rp 87,7 miliar setahun sebelumnya.
Di balik volatilitas ini, kalau dibuka per segmen usaha, polanya makin jelas. Sampai Q3 secara kumulatif, segmen Biopharma yang berisi produk ethical turun dari sekitar Rp 568,2 miliar di 2024 menjadi sekitar Rp 529,7 miliar di 2025, turun sekitar Rp 38,4 miliar atau minus 6,8%. Penurunan ini juga tercermin pada pelanggan kunci seperti PT Anugerah Pharmindo Lestari, yang pembeliannya turun dari sekitar Rp 540,4 miliar ke Rp 510,2 miliar. Jadi pilar lama bisnis ethical lagi kurang bertenaga. Sebaliknya, segmen Kesehatan Konsumen justru menjadi mesin pertumbuhan baru. Penjualan Consumer Health naik dari sekitar Rp 185,6 miliar menjadi sekitar Rp 284,4 miliar, lompat hampir Rp 98,8 miliar atau sekitar 53,2%. Penjualan ke Procter and Gamble Home Products Indonesia naik dari sekitar Rp 122,4 miliar menjadi Rp 126,2 miliar, dan tentu di luar itu ada pertumbuhan kanal lain. Pertumbuhan volume yang besar di Consumer Health inilah yang membantu mengerek utilisasi pabrik, menurunkan COGS per unit, dan mendorong margin Q3 naik tajam. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Begitu pindah ke neraca, cerita naik turunnya makin terasa. Piutang usaha dari 2020 sampai Q3 2025 itu seperti roller coaster. Di akhir 2020, piutang net sekitar Rp 161,8 miliar, naik kuat di 2021 ke sekitar Rp 201,8 miliar, naik sekitar 24,7%, lalu jatuh tajam di akhir 2022 ke sekitar Rp 136,6 miliar, turun sekitar 32,3% dari 2021. Di 2023, penurunan berlanjut dan piutang akhir tahun menyentuh titik sangat rendah sekitar Rp 101,3 miliar, turun sekitar 25,8% lagi. Dari sudut pandang likuiditas, FY 2023 ini terlihat seperti periode di mana MERK menekan piutang habis-habisan, entah karena manajemen koleksi yang sangat ketat atau karena pelanggan besar membayar lebih cepat.
Namun setelah itu grafik berbalik ekstrem. Di Q1 2024, piutang melonjak ke sekitar Rp 165,0 miliar, naik sekitar 63% dari posisi akhir 2023. H1 2024 naik lagi ke sekitar Rp 183,6 miliar dan mencapai sekitar Rp 134,9 miliar di Q3 2024. Di akhir 2024, piutang lompat lagi ke sekitar Rp 179,3 miliar, naik sekitar 77,1% dari 2023. Masuk 2025, Q1 naik ke sekitar Rp 188,6 miliar, H1 turun tajam ke sekitar Rp 130,1 miliar, lalu Q3 2025 kembali melejit ke sekitar Rp 199,9 miliar. Angka Q3 2025 ini bukan hanya naik 53,6% dibanding H1 2025, tetapi juga sekitar 48,1% lebih tinggi daripada Q3 2024. Dari sisi penjualan, ini sejalan dengan kenaikan topline. Dari sisi modal kerja, ini artinya semakin banyak kas yang parkir di piutang.
Kalau melihat kualitas umur piutang MERK, maka bisa dikatakan kualitas piutang mereka inkonsisten dan tidak stabil. Di satu sisi, porsi piutang yang belum jatuh tempo cukup tinggi di banyak titik waktu. FY 2020 ada di 98,8%, FY 2021 sedikit turun ke 94,5%, FY 2022 di 93,6%, dan FY 2023 malah membaik lagi ke 98,2%. Tapi 2024 sempat bermasalah. Di Q1 2024, hanya 80,1% piutang yang belum jatuh tempo, sementara sekitar 19,8% sudah lewat jatuh tempo kurang dari 90 hari. Di H1 2024 malah lebih ekstrem. Hanya 63,9% yang masih on time, sekitar 34,9% sudah overdue, dan 1,2% berada di rentang 91 hari sampai 1 tahun. Ini mencerminkan tekanan pembayaran dari pelanggan di paruh pertama 2024. Untungnya, di Q3 2024 proporsi piutang belum jatuh tempo melonjak ke 99,6% dan di 2025 kualitas ini cenderung stabil lagi, dengan Q1 2025 sekitar 89,6% belum jatuh tempo dan H1 2025 sekitar 98,8%. Q3 2025 sendiri berada di sekitar 94,1% belum jatuh tempo dan 5,9% overdue kurang dari 90 hari. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Masalah lain muncul di sisi ECL (Expected Credit Loss atau kerugian kredit ekspektasian). Tingkat kerugian kredit ekspektasian untuk piutang kurang dari 90 hari sangat fluktuatif. FY 2020 masih di sekitar 14,54%, turun tajam di 2021 ke 1,29% dan naik lagi ke 2,73% di 2022. Di FY 2023, angka ini melonjak ke 18,30%. Q3 2024 lebih ekstrem lagi, tingkat ECL untuk piutang yang masih relatif muda bisa menyentuh sekitar 69,82%. Lalu Q1 2025 tenang di sekitar 0,36%, H1 2025 naik ke 3,62%, dan Q3 2025 turun lagi ke 0,47%. Volatilitas ECL seperti ini menunjukkan bahwa manajemen sangat responsif terhadap perubahan profil risiko debitur, atau ada satu dua pelanggan besar yang ketika mulai bermasalah langsung mengangkat rasio kerugian keseluruhan.
Kalau kita lihat kondisi persediaan MERK, pola yang muncul juga di emiten ini sangat khas dengan perusahaan anak yang sangat bergantung pada pasokan induk dan entitas sepengendali. Mungkin hampir semua anak usaha yang dipaksa induk, kondisi persediaannya akan mirip dengan MERK yang dipaksa borong bahan baku dari induk dan saudara sendiri. Entah itu persediaan dibeli dengan harga diskon atau harga markup. Tapi pada banyak kasus, harga bahan baku lebih sering dibeli anak dari saudara di harga markup. Apakah hal yang sama terjadi pada MERK dan ACES? Entahlah. Soalnya kita sebagai investor tidak diberi tahu harga beli mereka berapa vs harga market berapa. Investor ritel hanya disuruh percaya saja.
FY 2020 persediaan di sekitar Rp 317,3 miliar, lalu turun ke sekitar Rp 271,0 miliar di 2021, turun sekitar 14,6%. Penurunan ini didorong oleh penurunan bahan baku dari sekitar Rp 124,0 miliar ke Rp 100,5 miliar dan barang jadi dari sekitar Rp 55,7 miliar ke Rp 30,9 miliar, plus penghapusan persediaan sekitar Rp 14,7 miliar. Wajar kalau fase 2021 ini dibaca sebagai periode penyesuaian stok setelah fase berat pandemi. Setelah itu, persediaan melompat lagi. FY 2022 naik ke sekitar Rp 369,1 miliar, Q3 2022 sempat di sekitar Rp 373,5 miliar. FY 2023 kembali ke sekitar Rp 377,2 miliar. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Lonjakan paling ekstrem terjadi di 2024. Q1 2024 persediaan naik ke sekitar Rp 399,0 miliar, H1 2024 mencapai puncak sekitar Rp 427,2 miliar, dan Q3 2024 masih tinggi di sekitar Rp 418,5 miliar. Kenaikan ini banyak disumbang stok bahan baku yang naik tajam dari sekitar Rp 118,6 miliar di akhir 2023 ke Rp 146,5 miliar di H1 2024 dan barang dalam perjalanan yang lompat dari sekitar Rp 19,9 miliar ke Rp 47,8 miliar. Ini terlihat seperti strategi menumpuk stok impor dan pasokan dari entitas sepengendali, baik untuk mengantisipasi permintaan ke depan maupun mengurangi risiko gangguan rantai pasok. Tidak lupa, pembelian persediaan dari entitas sepengendali sendiri mencapai sekitar 61,1% di 2022, jadi perubahan kebijakan pasokan di grup langsung tercermin di sini.
Tahun 2025 menjadi fase pembalikan. Di Q1 2025 persediaan turun ke sekitar Rp 366,3 miliar, H1 2025 ke sekitar Rp 337,5 miliar, dan Q3 2025 turun lagi tipis ke sekitar Rp 334,2 miliar. Secara YoY, Q3 2025 turun sekitar 20,1% dibanding Q3 2024. Penurunan ini banyak berasal dari barang jadi yang susut signifikan, misalnya dari sekitar Rp 124,3 miliar di akhir 2024 ke sekitar Rp 75,3 miliar di Q3 2025. Cadangan kerugian persediaan akhir periode juga turun dari sekitar Rp 12,9 miliar di Q3 2024 menjadi sekitar Rp 7,5 miliar di Q3 2025, sementara penambahan penyisihan selama sembilan bulan 2025 sekitar Rp 17,9 miliar, sedikit lebih rendah dari Rp 23,4 miliar di 2024. Artinya, stok yang ada sekarang lebih sehat, lebih cepat berputar, dan risiko usangnya berkurang.
Kalau semua ini ditautkan dengan arus kas, kelihatan sekali bagaimana modal kerja menjadi sumber masalah sekaligus penyelamat. Di Q3 2024, CFO YTD yang hanya sekitar Rp 13,3 miliar jelas tertekan oleh kombinasi piutang yang naik dan persediaan yang numpuk. Piutang naik dari Rp 101,3 miliar di akhir 2023 menjadi Rp 134,9 miliar di Q3 2024, sementara persediaan melonjak ke Rp 418,5 miliar. Kas tersedot ke pelanggan dan gudang. Di 2025, arah dibalik. Persediaan dilucuti sekitar Rp 84,3 miliar secara YoY, pembayaran ke pemasok dikurangi sekitar Rp 118,9 miliar, sementara penjualan dan kas dari pelanggan meningkat. Hasilnya CFO YTD Q3 2025 melesat ke sekitar Rp 234,8 miliar dan FCF sampai sekitar Rp 252,5 miliar, dengan CAPEX yang relatif stabil di sekitar Rp 17,7 miliar. Secara kas jangka pendek, ini terasa sangat nyaman dan mendukung kebiasaan MERK yang royal dividen. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Namun dari sudut pandang investor yang agak cerewet, ada trade off yang harus diakui. Di sisi keunggulan, 2025 menunjukkan pengelolaan stok yang jauh lebih efisien, perputaran persediaan membaik, kualitas piutang dari sisi overdue membaik tajam dibanding H1 2024, dan FCF yang sangat besar memberi ruang untuk dividen dan buffer kas. Q3 2025 juga membuktikan bahwa ketika topline Consumer Health naik dan pabrik bekerja lebih efisien, margin bisa kembali ke level yang sangat menarik. Di sisi masalah, piutang usaha dan ECL historis masih sangat volatil, saldo piutang Q3 2025 yang melonjak ini juga berarti eksposur risiko kredit ikut naik, dan lonjakan CFO 2025 sebagian besar datang dari menahan bayar pemasok dan melepas stok, bukan hanya dari bottomline yang stabil. Tambah lagi, ketergantungan terhadap induk dan entitas sepengendali, baik di sisi bahan baku maupun pelanggan besar seperti Anugerah Pharmindo Lestari dan Procter and Gamble, membuat MERK Indonesia tetap hanya pion di papan catur global.
Jadi kalau melihat angka-angka ini, MERK terlihat seperti perusahaan yang rapi, likuid, dan disiplin bagi dividen, tetapi hidupnya tetap mengikuti ritme induk di luar negeri. Ketika kebijakan global dan order mendukung, seperti di 2025 dengan ledakan segmen Consumer Health dan pengetatan modal kerja, topline dan bottomline bisa tampil sangat cantik. Namun investor juga harus siap menghadapi fase seperti Q1 dan H1 2024, ketika piutang menumpuk, stok menggunung, CFO hampir habis, dan laba turun. Itu konsekuensi logis dari model maklon yang tumbuh di ekosistem raksasa bernama Merck KgAA. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/5





$MERK LK Q3 2025: Recovery on The Way?
MERK adalah salah satu saham paling tua di bursa Indonesia karena IPO di tahun 1981, beda 4 tahun dengan SMCB, saham tertua di IHSG, yang lebih dulu IPO di tahun 1977. Meskipun sudah tua di bursa, MERK tak kunjung jadi perusahaan super besar karena kemampuan growthnya itu di limit oleh induknya sendiri yang ada di Jerman. Dari sisi bisnis, ini memang perusahaan farmasi yang rapi, tapi dari sisi skala, seperti mobil yang mesinnya kuat namun dibatasi limiter pabrikan, tidak dibiarkan ngebut sebebasnya di pasar Indonesia. Sangat beda dengan $KLBF dan $SIDO yang memang basisnya di Indonesia yang tidak dilimit growthnya oleh PSP. MERK masuk dalam skrining Historic Valuation di External Comunity Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community menggunakan kode: A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Kalau ditarik mundur ke 2020, skala bisnis MERK sebenarnya masih relatif sederhana. Pendapatan setahun sekitar 655,8 miliar Rupiah dengan laba sekitar 71,9 miliar Rupiah. Margin laba bersih kira-kira di kisaran belasan %, sehat tapi belum spektakuler. Lalu datang 2021 dan di situ grafik keuangan MERK loncat seperti roket. Pendapatan naik dari 655,8 miliar menjadi sekitar 1,064 triliun Rupiah, tumbuh 62,29%. Laba juga melonjak, tercermin dari laba per saham dasar yang naik dari 160 Rupiah menjadi 294 Rupiah. Pendorongnya jelas. MERK bermain di Biopharma dan Consumer Health di tengah periode pandemi. Permintaan obat, vitamin, dan produk kesehatan naik tajam. Segmen Biopharma menyumbang sekitar 594,3 miliar. Segmen Kesehatan Konsumen sekitar 375,9 miliar. Ditambah lagi penjualan luar negeri melejit dari sekitar 37,5 miliar menjadi hampir 195 miliar. Bahkan di 2021 perseroan meneken MoU dengan APL sebagai distributor nasional untuk memperkuat jaringan distribusi di Indonesia. Untuk kacamata investor, 2021 adalah kombinasi manis antara momentum sektor dan eksekusi distribusi. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Tahun 2022 menjadi fase puncak siklus manis. Pendapatan naik lagi menjadi sekitar 1,1246 triliun Rupiah, tumbuh 5,66% year on year. Laba tembus kurang lebih 179,8 miliar, naik 36,54% dibanding 2021. Kalau dilihat dari kinerja 9 bulan, pendapatan 9M 2022 naik 10,58% dan laba 27,13% dibanding 9M 2021. Margin laba terhadap revenue di 9M 2022 sekitar 17,23%, tertinggi baik secara nominal maupun persentase. Ini periode ketika bisnis MERK terlihat sangat ideal sebagai emiten farmasi mapan. Top line tumbuh, margin menggemuk, dan risiko tampak terkontrol. Banyak investor yang mungkin mulai membayangkan MERK bisa naik kelas menjadi pemain yang jauh lebih besar.
Masalahnya, ingatan investor sering berhenti di grafik yang cantik, tapi lupa bahwa MERK bukan perusahaan Indonesia yang sepenuhnya bebas menentukan strategi sendiri. Tahun 2023 menjadi wake up call. Pendapatan tahunan turun dari 1,1246 triliun menjadi sekitar 961,4 miliar Rupiah, anjlok 14,51%. Namun laba tahunan hampir tidak bergerak, hanya turun tipis dari 179,8 miliar menjadi 178,2 miliar. Laba per saham dari 401 Rupiah menjadi 398 Rupiah, praktis flat. Jadi apa yang terjadi. Kuncinya ada pada restrukturisasi bisnis terkait PT Merck Chemicals and Life Sciences. Distribusi produk bahan baku farmasi dihentikan, sehingga satu pilar pendapatan domestik yang sebelumnya kuat dipangkas. Pendapatan domestik turun dari sekitar 934,2 miliar menjadi 836,7 miliar. Piutang pihak berelasi di bawah common control ambles dari 79,6 miliar menjadi hanya sekitar 10 miliar per September 2023. Angka-angka ini menggambarkan dengan sangat jelas bahwa ada bagian bisnis yang dicabut oleh grup dan entitas Indonesia hanya bisa menerima keputusan itu. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Dari sudut pandang investor, 2023 adalah tahun yang agak ironis. 9M 2023, pendapatan turun 10,20% dan laba turun 12,93% dibanding 9M 2022. Margin laba terhadap revenue masih sekitar 16,70%, artinya profitabilitas bisnis inti tetap oke, tapi skala mengecil. Growth ditekan bukan karena gagal jualan, melainkan karena scope bisnis memang dikurangi. Inilah konsekuensi berinvestasi di anak usaha global. Ketika induk mau mendorong segmen tertentu seperti di 2021-2022, angka mendadak terlihat luar biasa. Ketika grup memutuskan menarik satu lini bisnis atau mengatur ulang portofolio, pendapatan bisa terpangkas belasan % dalam satu tahun, meskipun tim lokal tidak melakukan kesalahan besar.
Lalu masuk 2024. Di permukaan, angka revenue terlihat membaik. Pendapatan naik lagi menjadi sekitar 1,0367 triliun Rupiah, pulih 7,83% dibanding 2023. Namun laba justru turun cukup dalam menjadi sekitar 153,5 miliar Rupiah, terkoreksi 13,90%, dengan laba per saham turun ke 343 Rupiah. Kalau fokus ke 9M, gambarnya lebih menekan lagi. 9M 2024 pendapatan masih turun 3,43% dibanding 9M 2023, dari 780,6 miliar menjadi 753,7 miliar, tapi laba year to date jeblok dari 130,4 miliar menjadi 77,1 miliar, minus 40,91%. Margin laba 9M turun ke kisaran 10,22%, terendah dalam deret data. Penyebabnya cukup jelas di angka. Beban pokok penjualan naik signifikan, dari sekitar 561,0 miliar di 2023 menjadi 634,1 miliar di 2024. Artinya, meskipun revenue secara tahunan pulih, biaya barang yang dijual makan terlalu banyak porsi. Dari sudut pandang investor, 2024 terasa seperti tahun pendapatan naik tapi laba malah turun. Sinyal klasik tekanan margin.
Kalau dipecah per kuartal, roller coaster MERK makin kelihatan. Q4 2021 sebenarnya sudah memberikan sinyal bahwa laba bisa sangat fluktuatif. Di kuartal itu laba hanya sekitar 13,9 miliar, turun lebih dari 60% dibanding Q3 2021, padahal pendapatan kuartalannya masih lumayan stabil di sekitar 278,3 miliar. Ada indikasi beban akhir tahun dan faktor non operasional yang menekan bottom line. Lonjakan laba Q1 2022 ke sekitar 62,6 miliar, naik lebih dari 350% quarter on quarter dari basis rendah Q4, menunjukkan bahwa MERK bisa tiba-tiba terlihat sangat cantik lagi ketika faktor non rutin itu menghilang. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Pola yang kurang nyaman buat investor muncul lagi di 2024 dan awal 2025. Q1 2024, laba hanya sekitar 23,7 miliar, turun lebih dari 50% dibanding kuartal sebelumnya, sementara pendapatan justru naik hampir 38% dari Q4 2023 yang rendah. Q2 2024 juga tidak benar-benar membaik. Lalu di 2025, tekanan berlanjut. Q1 2025 laba turun lagi ke sekitar 13,2 miliar. Q2 2025 menjadi titik terendah dengan laba sekitar 9,3 miliar, meskipun pendapatan kuartal ini justru naik 23,16% quarter on quarter ke kisaran 265 miliar. Kalau dilihat semester pertama, beban pokok penjualan H1 2025 melonjak ke sekitar 353,5 miliar dibanding 319,0 miliar di H1 2024. Akibatnya laba bruto H1 turun dari sekitar 152,2 miliar menjadi hanya 126,7 miliar. Itu sebabnya laba kuartalan Q2 2025 terlihat ekstrem rendah. Yang hanya melihat grafik revenue mungkin merasa optimis, tapi angka laba mengirim pesan sebaliknya.
Namun drama itu berbalik tajam di Q3 2025. Secara year to date 9M, pendapatan naik menjadi sekitar 814,1 miliar dari 753,7 miliar di 9M 2024, tumbuh 8,01%. Laba year to date melonjak lebih kencang, dari 77,1 miliar menjadi 102,1 miliar, naik 32,50%. Dengan sedikit aljabar sederhana, ini berarti laba kuartal ketiga saja sekitar 79,6 miliar, naik lebih dari 755% quarter on quarter dari titik terendah 9,3 miliar di Q2 2025. Pendapatan Q3 2025 juga kuat, sekitar 334,0 miliar. Margin laba year to date membaik dari 10,22% di 9M 2024 menjadi 12,54% di 9M 2025. Q3 2025 praktis menjadi kuartal balas dendam setelah dua kuartal sebelumnya menekan mental pemegang saham.
Kalau perjalanan keuangan MERK dari 2020 sampai Q3 2025 disusun lagi secara utuh, gambarnya kira-kira seperti ini. Tahun 2021 sampai 2022 adalah fase angin belakang. Pandemi, ekspansi distribusi, ekspor yang meledak, margin menggemuk. Tahun 2023 adalah fase penataan ulang oleh grup, di mana satu pilar pendapatan yaitu bisnis terkait MCLS secara praktis dipukul mundur. Tahun 2024 menjadi tahun adaptasi yang menyakitkan. Revenue mulai pulih tapi margin tergerus, laba turun, dan 9M terlihat paling lemah dari sisi profitabilitas. Tahun 2025, khususnya sampai Q3, adalah fase rebalancing di mana MERK mulai menemukan ritme baru lewat penguatan produk Kesehatan Konsumen dan perbaikan margin yang tercermin dalam pertumbuhan revenue 8% dan laba year to date 32,5%. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Bagi investor, ada beberapa hal yang bisa dipelajari dari kasus MERK ini. Pertama, MERK adalah contoh klasik anak usaha multinasional yang secara kualitas operasional tidak jelek, tapi jalur growth selalu berada di bawah remote control induk. Ketika grup mau mendorong segmen tertentu seperti di 2021-2022, angka mendadak terlihat luar biasa. Ketika grup memutuskan menarik satu lini bisnis atau mengatur ulang portofolio, pendapatan bisa terpangkas belasan % dalam satu tahun, meskipun tim lokal tidak berbuat salah besar. Kedua, fluktuasi laba kuartalan menunjukkan bahwa ini bukan saham yang setiap kuartal akan memberikan grafik mulus. Ada kuartal yang sangat jelek seperti Q2 2025, lalu disusul kuartal sangat kuat seperti Q3 2025. Jadi untuk yang mencari cerita multi bagger yang lepas dari kendali induk dan bisa ekspansi agresif, MERK mungkin bukan jawabannya. Namun untuk yang mencari emiten farmasi mapan, dengan siklus naik-turun tapi secara struktur masih mampu memulihkan margin setelah dihantam restrukturisasi, data 2025 memberi sinyal bahwa MERK belum selesai. Hanya saja, batas atasnya hampir selalu akan ditentukan sejauh mana induk di Jerman mengizinkan anaknya di Indonesia tumbuh. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/4




Jakarta, CNBC Indonesia — Bursa Asia mayoritas bergerak naik pagi ini, Rabu (12/11/2025) di tengah sorotan terhadap sektor teknologi kecerdasan buatan atau AI.
Kospi Korea Selatan datar, dan Kosdaq yang berkapitalisasi kecil naik 0,62%. Indeks acuan Jepang, Nikkei 225, turun 0,26%, sementara Topi...

www.cnbcindonesia.com

Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat (AS) bergerak variatif pada perdagangan saham Selasa (11/11). Dow Jones Industrial Average hingga mencapai rekor penutupan baru, sementara Nasdaq Composite turun karena investor mengalihkan dana dari saham teknologi ke saham-saham lain dengan valuasi renda...

katadata.co.id
$MERK
Update aja
Posisi Floating Profit 8,39%
TP1 di 2960 sama TP2 di 3020, semua nya dah HIT di tanggal 03 November
Kalau mau hold monggo tapi jangan lupa Trailling Stop nya dipasang
Do Your Own Research (DYOR)
*Disclaimer ON
Bukan ajakan beli/jual saham apapun
Setiap keputusan menjadi tanggung jawab masing-masing
Random Tag : $MARK $MEDC

Laporan Laba Rugi 2025Q3
Tahun 2025 Kuartal 3
Follow kami untuk ringkasan fundamental emiten terkini!
$MERK

Bursa Wall Street di Amerika Serikat ditutup naik pada perdagangan Senin (3/11) waktu setempat. Kenaikan didorong oleh kesepakatan besar di sektor kecerdasan buatan (AI), meski ketidakpastian terkait arah kebijakan moneter jangka pendek Federal Reserve (The Fed) masih membayangi.
Indeks S&P 500 naik...

katadata.co.id
$MERK $IHSG $BIPI
tunggu moment yang mana boss yang lu maksud @hesheva ?
keburu beli di pucuk kalau tunggu berita mas.
sell the news boss @hesheva
analisa teknikal gw coba di market bearish terbukti masih bisa menghasilkan cuan. 👍
gw gk bilang analisa yg lain jelek.
tapi kalau ngomong tanpa analisa dan cuma gede bacot. kita kasih paham lah. ok bosskhu @hesheva
1/2


$MERK $IHSG $BRMS
terbukti boss @hesheva analisa teknikal gw kejemput dengan target yang sudah gw pasang pakai fibonacci retrecment.
1/3



$MERK
Update aja
Posisi Kuning 0.00%
Target masih sama
TP1=2960
TP2=3020
Do Your Own Research (DYOR)
*Disclaimer ON
Bukan ajakan beli/jual saham apapun
Setiap keputusan menjadi tanggung jawab masing-masing
Random Tag : $MARK $MEDC

@hesheva coba kasih contoh saham nya kak.
saya analisa teknikal saham $MERK karena mau tau analisa teknikal berguna atau tidak di saham yang sedang downtrend.
nah, kalau kakak berpendapat yg berguna itu money flow. coba kasih contoh saham yg downtrend tapi masih liquid dan layak di beli. supaya kita bisa belajar bareng. 🙂🙏