


Volume
Avg volume
PT Merdeka Copper Gold Tbk (Merdeka) adalah perusahaan induk dengan anak perusahaan yang bergerak dalam kegiatan usaha pertambangan, meliputi eksplorasi dan produksi emas, perak, tembaga, serta mineral terkait lainnya serta layanan pertambangan. Anak-anak perusahaan tersebut adalah PT Bumi Suksesindo (BSI), pemegang izin usaha pertambangan operasi produksi untuk Tambang Tujuh Bukit; PT Damai Suksesindo (DSI), pemegang izin eksplorasi yang berdekatan; PT Batutua Tembaga Raya (BTR), pemegang izin usaha pertambangan operasi produksi khusus untuk pengolahan dan pemurnian; PT Batutua Kharisma Permai (BKP), pemegang izin usaha pertamb... Read More
$MDKA
Ini adalah screening saya hari Selasa 10 Februari
Alasan saya MDKA akan naik adalah volume besar dan masih dijaga. Sekarang sudah mencapai TP2 lebih. Kenaikan nya adalah 23% dalam 2 minggu. Swing yang ga sia sia tentunya..apakah harganya masih akan naik?

Bagi kawan2 yang punya $MDKA di bawah average nya si BK, jika saham ini bisa breakout 3830 tahun ini, maka ada momentum ke 5825.
Disc on silakan dipelejari kembali yah

📈 XAU Rally, Emiten Emas Bersiap Naik? 🏆
Harga emas dunia kembali menguat tajam.
Beberapa sentimen pendorong:
• Ketegangan geopolitik AS-IRAN → investor lari ke safe haven
• Ekspektasi suku bunga global lebih rendah
• Permintaan bank sentral tetap kuat
Saham yang bisa dipantau:
$MDKA $HRTA
Selama XAU masih uptrend, sektor emas layak masuk watchlist 👀
🫱🏻🫲🏿FOLLOW untuk mendapatkan informasi saham dan seputar news
$BUMI
INTIP PROFIL GW DONG
Malam ini cukup banyak data makro AS yang rilis. Kita bedah satu satu yang cukup perlu di perhatikan.
Advance GDP q/q = 1.4% turun dari periode sebelumnya (previous data), artinya di Q4 2025 pertumbuhan ekonomi AS melambat.
Core PCE m/m = 0.4% naik lebih tinggi dari bulan sebelumnya, ini merupakan indikator inflasi yang dijadikan acuan utama The FED.
PMI manufacture & services yang sama sama melemah dibanding bulan sebelumnya.
Kondisi ini menunjukkan terjadinya pelemahan ekonomi PMI dan GDP yang turun, ditengah inflasi yang kembali naik. Ini akan jadi hal yang berat bagi FED, karena adanya resiko stagflasi.
kemungkinan investor akan memilih emas sebagai safe haven untuk menyimpan uangnya. GDP dan PMI yang turun menyebabkan ekspektasi earnings yang juga turun, dan berdampak negatif bagi US stocks. Untuk IHSG, bisa pantau sektor per emasan karena masih berpeluang naik mengikuti harga emas.
$ARCI $MDKA $BRMS

Running ya guys prediksi Ikram Candle Stick 17 Februari 2026, terkait emiten $DEWA
DYORRR
$MDKA $ANTM
1/2


Membedah Fundamental Valuasi Melalui Lensa McKinsey 🏛️ - part 1
Dalam praktik investasi dalam menilai valuasi sebuah perusahaan dapat didekati melalui berbagai macam spektrum. Sebagian pelaku pasar memilih jalan pintas menggunakan kelipatan pasar (market multiples) yang pragmatis seperti rasio P/E atau EV/EBITDA, sebagian menggunakan pendekatan nilai aset murni, sementara yang lain membangun model proyeksi arus kas yang kompleks.
Namun, jika ingin mencari "standar emas" untuk membedah nilai intrinsik yang sesungguhnya dan memisahkan antara penciptaan nilai riil dengan sekadar ilusi akuntansi, salah satu literatur paling otoritatif yang menjadi rujukan adalah kerangka kerja dari buku Valuation: Measuring and Managing the Value of Companies karya McKinsey & Company.
Melalui kacamata institusional ini, valuasi dipandang bukan sebagai permainan rekayasa angka, kosmetik neraca, atau metrik laba di atas kertas. Sebaliknya, valuasi dikembalikan pada khitahnya sebagai refleksi absolut dari fundamental ekonomi dan kapasitas riil aset dalam mencetak kas.
Definisi Esensial: Apa Sebenarnya Value Creation Itu?
Sebelum kita membedah prinsip-prinsip valuasinya, kita harus menyamakan definisi tentang apa yang dimaksud dengan Penciptaan Nilai (Value Creation). Kesalahan terbesar para investor awam adalah menyamakan value creation dengan "peningkatan laba bersih", "kenaikan harga saham jangka pendek", atau "pertumbuhan aset".
Dalam doktrin McKinsey, definisi value creation sangatlah kaku dan matematis: Sebuah perusahaan hanya menciptakan nilai jika dan hanya jika mereka menginvestasikan modal pada tingkat pengembalian (Return on Invested Capital / ROIC) yang secara riil lebih tinggi daripada biaya modal tersebut (Weighted Average Cost of Capital / WACC).
Setiap rupiah atau dolar modal yang ditanamkan oleh investor memiliki opportunity cost (biaya peluang). Jika sebuah perusahaan berekspansi secara agresif, membuka ratusan cabang baru, dan mencetak rekor pendapatan (top line), namun tingkat pengembalian dari ekspansi tersebut lebih rendah dari biaya modalnya, maka secara fundamental perusahaan tersebut sedang menghancurkan nilai, tidak peduli seberapa bagus laporan laba ruginya. Pertumbuhan (growth) hanyalah sebuah "kaca pembesar".
Dengan pijakan definisi fundamental ini, mari kita bongkar 4 poin terkait valuasi dan penciptaan nilai murni berdasarkan lensa analitis McKinsey:
1. Esensi Value Creation: ROIC dan Growth vs. Ilusi Metrik Akuntansi
Dalam kerangka Valuation McKinsey, tesis utama dari penciptaan nilai (value creation) sama sekali tidak dibangun di atas indikator laba akuntansi (accounting profit). Sebaliknya, valuasi secara eksklusif digerakkan oleh dua motor utama: Return on Invested Capital (ROIC) dan Pertumbuhan Pendapatan (Revenue Growth). Namun, interaksi antara keduanya tunduk pada satu hukum absolut: pertumbuhan hanya akan menciptakan nilai jika, dan hanya jika, ROIC secara riil melebihi biaya modal rata-rata tertimbang perusahaan (Weighted Average Cost of Capital / WACC).
Berikut adalah pembedahan teknis mengapa metrik konvensional sering kali menyesatkan dan bagaimana value yang sesungguhnya dikonstruksi:
A. Ilusi Laba Bersih dan EPS (Earnings Per Share)
Praktik di pasar modal sering kali terdistorsi oleh obsesi jangka pendek terhadap Net Income atau tingkat pertumbuhan EPS. McKinsey membongkar bahwa metrik akuntansi ini memiliki blind spot yang sangat fatal: mereka sepenuhnya mengabaikan opportunity cost dari modal ekuitas (cost of equity) dan mengabaikan besaran modal yang harus ditahan (reinvested) ke dalam neraca untuk menopang pertumbuhan tersebut.
Sebuah entitas bisa saja mencatatkan rekor bottom line tahun berjalan. Namun, jika laba tersebut dicapai dengan membenamkan modal kerja (working capital) secara tidak efisien atau pengeluaran belanja modal (CAPEX) yang masif sehingga menguras arus kas bebas (Free Cash Flow / FCF) maka secara hakikat, manuver tersebut sedang menghancurkan nilai (value-destroying). Laba bersih adalah opini akuntansi, sedangkan kas adalah fakta ekonomi.
B. Anatomi Matematis Penciptaan Nilai
Untuk mengukur valuasi pada standar profesional, kita harus membedah turunan matematis dari Discounted Cash Flow (DCF). Nilai operasi (Enterprise Value) suatu perusahaan dalam fase kelangsungan usaha (steady-state) dapat dirumuskan secara elegan sebagai:
Value = [NOPAT × (1 - (g / ROIC))] / (WACC - g)
(Keterangan: NOPAT = Net Operating Profit After Tax; g = Tingkat Pertumbuhan; rasio g/ROIC = Reinvestment Rate atau persentase laba yang ditanamkan kembali).
Persamaan ini adalah jantung dari corporate finance. Dari formula di atas, terbukti secara matematis bahwa:
Titik Impas Nilai: Jika ROIC = WACC, berapapun agresifnya tingkat pertumbuhan (g), nilai intrinsik perusahaan akan stagnan. Ekspansi top-line pada titik ini sama sekali tidak menghasilkan nilai tambah bagi pemegang saham.
Paradoks Pertumbuhan (Growth Trap): Jika ROIC < WACC, maka semakin tinggi pertumbuhan (g), nilai perusahaan justru akan semakin hancur dengan cepat. Ini menjelaskan fenomena di mana perusahaan teknologi atau ritel agresif berekspansi, top line meroket gila-gilaan, namun valuasinya malah terus terdiskon oleh pasar karena setiap tambahan unit penjualan justru membakar nilai modalnya.
C. Reinvestment Rate dan Supremasi Efisiensi Modal
McKinsey sangat menekankan bahwa entitas dengan ROIC superior membutuhkan porsi modal yang jauh lebih kecil (Reinvestment Rate yang rendah) untuk mendanai tingkat pertumbuhan yang sama.
Sebagai contoh perbandingan struktural: Sebuah entitas dengan operating margin tipis dan intensitas aset yang padat mungkin mencatat pertumbuhan EPS sebesar 15% per tahun, namun terpaksa menahan hingga 70-80% dari NOPAT-nya untuk reinvestment (working capital & CAPEX). Di sisi lain, sebuah entitas dengan keunggulan struktural (pricing power yang kuat) dan perputaran modal yang efisien mungkin hanya tumbuh 10% secara top line. Akan tetapi, ROIC mereka yang menembus 30% memungkinkan mereka hanya membutuhkan reinvestment rate sebesar 30%, membebaskan sisa kas yang sangat masif untuk dikembalikan kepada pemegang saham tanpa utang tambahan. Secara kalkulasi DCF, entitas kedua memiliki nilai intrinsik dan multiple valuasi yang jauh lebih premium.
D. Dekonstruksi ROIC: Tuas Operasional vs. Tuas Neraca
Bagi eksekutif atau analis, value creation pada level eksekusi dilakukan dengan membedah komponen ROIC itu sendiri ke dalam dua pilar:
ROIC = Operating Margin × (Invested Capital Turnover)
Menciptakan nilai tidak selalu tentang memaksakan kenaikan harga jual atau memotong beban pokok (Operating Margin). Seringkali, ruang value creation yang paling undervalued justru berada pada optimalisasi neraca misalnya dengan menekan siklus konversi kas (Cash Conversion Cycle) yang lambat, membuang aset yang tidak produktif, atau memastikan tingkat pengembalian CAPEX yang lebih presisi (Invested Capital Turnover).
Kesimpulannya, dalam lensa Valuation McKinsey, evaluasi dari setiap langkah strategis entah itu ekspansi organik, meluncurkan produk baru, atau melakukan merger & acquisition tidak boleh berhenti pada justifikasi "Apakah langkah ini akan mengakselerasi EPS tahun depan?". Standar pengujian mutlaknya harus selalu dikalibrasi pada satu pertanyaan fundamental: "Apakah spread antara proyeksi ROIC incremental dari proyek ini dan WACC bernilai positif?" Jika jawabannya tidak, maka sebaiknya modal tersebut dikembalikan kepada investor.
lanjut di part 2
random tag: $BMRI $ANTM $MDKA
1/3



(20-02-2026 14.55 WIB)
.
HOLD KERAS!!
.
$NCKL saya pegang dengan kesabaran — proses membentuk hasil.
$AISA saya lihat sebagai fase kebangkitan — momentum tidak datang dua kali.
$MDKA saya percaya sebagai energi masa depan — visi jangka panjang selalu menang dari emosi sesaat.
Beberapa info terakhir berjalan sesuai plan ✅
Hari ini pantau:
$MDKA $EMAS $RAJA
Diskusi bareng tiap hari
https://bit.ly/KomunitasSahamGrowX
Selamat menikmati hari2 dgn penuh stress warga JAKARTA setelah demokrasi yg tidak menghasilkan meritokrasi! Setelah demokrasi identitas yg membawa ahok ke dalam penjara.
Skg JKT dipimpin sama Pramono sang gubernur spesialis Peresmian!
Tiap hari kontennya hanya peresmian, kelusrga dll.
Gubernur yg membuat Jakarta tiba2 terasa miskin hina karena tidak punya uang utk memperbaiki aspal.
Gubernur yg baru menjabat telah membunuh seorang siswa dgn sengaja tidak memperbaiki jalan di pusat kota.
Jalan yg rusak di pusat kota loh bukan di ujung jaktim!
Kemana semua duit kekayaan APBD JAKARTA????
Benerin jalan aja Pramono ngga becus konon mau benerin BANJIR? 5 tahun kalian hujan banjir hujan banjir. Bahkan nanti akan ada tiang tinggi yg roboh karena tanah yg rapuh
Kita terbiasa meng gaji org yg tidak becus kerja!!!!
Semoga Tuhan segera memberikan Pemimpin yg aman dan punya kapasitas. Amiiin.
Semoga Tuhan melahirkan demokrasi yg benar di Indonesia. Amin
Skg banyak infrastruktur butuh renovasi. Semua butuh semen dan bumn karya.
$SMGR
$WSKT
RANDOM
$MDKA

KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup sesi I perdagangan Jumat, 20 Februari 2026, di level 8.261,15 atau turun 12,93 poin setara 0,16 persen dari penutupan sebelumnya 8.274,08. Sepanjang sesi, indeks dibuka di 8.300,22, sempat menyentuh level tertinggi 8.328,42 dan terendah 8...

www.kabarbursa.com

ancaman krisis perang timur tengah? bencana atau peluang? part 2
Lonjakan harga komoditas yang eksponensial di tahun 2022 bukanlah kebetulan semata, melainkan hasil dari antara sanksi ekonomi, kepanikan rantai pasok global, dan efek domino substitusi antar-sektor. Episentrum ledakan ini berawal dari weaponization of energy. Ketika negara-negara Barat menjatuhkan sanksi bertubi-tubi, Rusia membalas dengan mencekik pasokan gas alam cair ke Eropa. Hal ini memicu krisis listrik baseload yang memaksa Eropa mencari jalan pintas untuk bertahan hidup dari ancaman blackout. Mereka terpaksa menghidupkan kembali pembangkit listrik tenaga uap dan membajak pasokan batu bara global dengan berani membayar harga premium di pasar spot. Efek substitusi paksa inilah yang menyeret harga batu bara dari level normalnya hingga menembus rekor absurd di atas $400 per ton, sementara harga minyak mentah ikut terbang karena embargo memaksa perombakan rute distribusi global secara mendadak.
Di sektor logam industri, fundamental kelangkaan fisik justru diperparah oleh kepanikan pasar finansial dan pabrikan global. Invasi tersebut memicu ketakutan ekstrem bahwa logam asal Rusia terutama nikel dan aluminium akan diblokir sepenuhnya dari pasar dunia. Hal ini memicu pabrikan alat berat hingga produsen mobil listrik (EV) untuk menimbun persediaan fisik secara agresif demi mengamankan produksi. Di saat yang bersamaan, para trader di bursa berjangka yang memegang posisi jual (short) terjebak dalam short squeeze bersejarah karena harus membeli kembali kontrak di harga berapapun. Kepanikan ganda antara sektor riil dan pasar finansial inilah yang membuat harga nikel di London Metal Exchange meledak ratusan persen dalam hitungan hari hingga perdagangannya harus dihentikan paksa.
Sementara itu, krisis agrikultur meledak melalui mekanisme chokepoint logistik dan inflasi biaya dasar. Blokade militer di Laut Hitam mengunci jutaan ton gandum Ukraina, memutus rantai pasok ke negara-negara berkembang secara instan. Namun, efek yang lebih merusak justru datang dari dominasi Rusia dan Belarusia sebagai eksportir utama bahan baku pupuk global (nitrogen dan kalium). Melonjaknya harga pupuk dan mahalnya bahan bakar logistik menciptakan efek kaskade yang secara fundamental menaikkan ongkos produksi pertanian di seluruh dunia, menyuntikkan inflasi yang persisten jauh setelah kepanikan awal invasi mereda.
Skenario Perang Iran: Apakah Akan Mengulang Lonjakan 2022?
Jika kita memproyeksikan skenario perang skala penuh yang melibatkan Iran, fundamental makroekonomi yang mendasarinya berputar 180 derajat dibandingkan krisis Rusia-Ukraina. Skenario Timur Tengah ini pada hakikatnya adalah ancaman krisis likuiditas minyak mentah global, bukan krisis pemanas ruangan atau ancaman mati lampu akibat hilangnya pasokan listrik baseload di benua Eropa. Episentrum dari ketegangan ini bertumpu pada satu urat nadi perairan sempit: Selat Hormuz. Jalur ini merupakan chokepoint logistik paling krusial di dunia, di mana sekitar 20% dari total konsumsi minyak bumi global dan 20% pasokan Gas Alam Cair (LNG) yang mayoritas disuplai oleh raksasa energi Qatar melintas setiap harinya. Berbeda dengan invasi darat di benua Eropa, Iran memiliki kapasitas militer asimetris untuk memblokade atau menebar ancaman di perairan ini. Jika jalur logistik ini lumpuh, dunia tidak memiliki infrastruktur pipa alternatif atau kapasitas maritim cadangan yang cukup untuk menambal defisit volume sebesar itu dalam waktu singkat.
Dampak langsung dari kebuntuan logistik ini adalah repricing (penilaian ulang harga) yang brutal pada pasar energi cair. Harga minyak mentah memiliki probabilitas tinggi untuk menembus level psikologis ekstrem, berpotensi menyentuh $100 per barel dengan sangat cepat. Hal ini terjadi karena premi risiko geopolitik (geopolitical risk premium) akan langsung difaktorkan (priced in) secara agresif oleh pasar berjangka, jauh sebelum gangguan fisik benar-benar menguras tangki penyimpanan global. Secara bersamaan, harga kargo LNG di pasar spot Asia dan Eropa akan kembali meledak karena negara-negara importir yang panik pasti akan berebut mengamankan sisa kargo yang berlayar di luar kawasan Teluk.
Lantas, di tengah pusaran kekacauan energi ini, bagaimana nasib komoditas batu bara? Apakah siklus "pesta pora" 2022 akan terulang? Jawaban realistisnya adalah: Batu bara tetap akan menikmati momentum bullish dan mengalami kenaikan harga yang solid, namun dengan skala mekanika yang berbeda. Secara fundamental struktural, utilitas utama minyak mentah mengalir ke sektor transportasi, rantai logistik, dan petrokimia. Sebaliknya, batu bara adalah tulang punggung tak tergantikan untuk pembangkit listrik (baseload power) dan industri peleburan baja. Mengganti defisit minyak bumi tentu tidak semudah menukar pemanas gas dengan boiler batu bara di Eropa. Sebuah negara tidak bisa serta-merta memasukkan batu bara ke tangki kendaraan logistik saat pasokan solar global tersendat akibat blokade.
Meski demikian, bukan berarti batu bara akan ditinggalkan. Eskalasi konflik Iran dipastikan akan memberikan dorongan apresiasi harga yang signifikan melalui dua jalur utama. Pertama adalah efek inflasi energi lintas sektoral, ketika harga minyak dan Gas Alam Cair (LNG) meroket tak terkendali, negara-negara importir terutama di Asia akan secara otomatis mengamankan dan memaksimalkan konsumsi batu bara mereka sebagai alternatif bauran energi yang paling murah demi menjaga stabilitas fiskal. Kedua, melalui jalur cost-push inflation pada rantai logistik laut. Meroketnya harga bahan bakar kapal akibat krisis minyak akan langsung mengerek ongkos angkut curah (freight rates). Secara teknikal, hal ini akan mendongkrak harga landed (harga serah di pelabuhan tujuan) untuk batu bara secara global.
transmisi harga global ini tentunya akan langsung memicu repricing (penilaian ulang) valuasi sektoral.
Sektor Energi: Minyak, Gas (Penerima Manfaat Langsung)
Sektor Minyak dan Gas berada di garis depan sebagai direct beneficiary dari potensi krisis likuiditas di Selat Hormuz. Dengan outlook yang sangat bullish, emiten di sektor ini memiliki korelasi pendapatan yang absolut terhadap pergerakan harga minyak dunia. Fokus akumulasi harus diarahkan pada perusahaan eksplorasi dan produksi (E&P) yang memiliki aset produksi migas yang solid dengan volume lifting yang terjaga. Ketika harga minyak mentah global meroket, dampaknya akan langsung meledakkan top line (pendapatan) dan bottom line (laba bersih) perusahaan. Hal ini didorong oleh struktur operating leverage yang menguntungkan: biaya operasional (lifting cost) cenderung tetap, sehingga setiap dolar kenaikan harga minyak akan langsung terkonversi menjadi ekspansi margin yang masif.
Sektor Logam Mulia & Emas (Safe Haven & Pelindung Volatilitas)
Sebagai instrumen pelindung nilai fundamental, Sektor Logam Mulia memegang prospek bullish yang sangat kokoh. Di tengah pusaran ketidakpastian perang, ancaman inflasi energi yang persisten, dan potensi pelemahan nilai tukar mata uang akibat disrupsi rantai pasok global, modal institusi raksasa selalu mencari suaka di emas. Target rotasi yang paling rasional di bursa adalah emiten tambang emas murni atau perusahaan multi-mineral yang saat ini sedang berada dalam fase ramp-up (peningkatan) produksi emasnya. Kenaikan Harga Jual Rata-rata (Average Selling Price / ASP) emas di pasar global akan mendongkrak profitabilitas emiten secara eksponensial tanpa harus bersusah payah menekan ongkos produksi.
random tag:
$ANTM $MDKA $MBMA
$SCMA - 308
(Surya Citra Media Tbk)
━━━━━━━━━━━━━━━━━━
📌 Kondisi
• Setelah downtrend panjang, mulai rebound
• MA 9 sudah cross up MA 26 (awal recovery)
• Harga sedang uji MA menengah (area supply)
━━━━━━━━━━━━━━━━━━
🎯 Area Penting
🟢 Support : 285-292
🟡 Area jaga momentum : 300
🔴 Resistance : 320-340
━━━━━━━━━━━━━━━━━━
⚙️ Plan
Entry aman saat pullback 290–300 dengan volume masuk.
Target 320 lalu 340.
Cutloss <285.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Kesimpulan:
SCMA masuk fase early recovery.
Menarik jika mampu bertahan di atas 300 dan volume konsisten. Belum bullish kuat, tapi risk-reward mulai membaik.
Dyor, Support follow semoga membantu
$MDKA $CDIA