2,160

-10

(-0.46%)

Today

9.03 M

Volume

17.61 M

Avg volume

Company Background

PT. Indosat Tbk (ISAT) didirikan oleh Pemerintah pada tanggal 20 November 1967 sebagai perusahaan investasi asing untuk menyediakan layanan telekomunikasi internasional di Indonesia dan mulai beroperasi secara komersial pada bulan September 1969 untuk membangun, mengalihkan dan mengoperasikan International Telecommunications Satellite Organization, atau Intelsat, stasiun bumi di Indonesia untuk mengakses satelit Intelsats Indian Ocean Region. Perusahaan menyediakan layanan selular, prabayar dan pascabayar, melalui produk merek Indosat Mobile, IM3 yang didukung oleh Indosat dan Indosat Internet, layanan telekomunikasi tetap.

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Kantor Pusat TLKM vs EXCL vs ISAT

Lanjutan dari postingan sebelumnya di External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345

Banyak investor yang tidak tahu kalau kantor pusat Telkom $TLKM itu justru bukan di Jakarta tapi di Bandung. Ini bukan sekadar trivia alamat, karena alamat kantor pusat biasanya ngasih petunjuk soal DNA perusahaan, cara ambil keputusan, dan seberapa dekat mereka dengan pusat regulasi, pusat bisnis, dan pusat eksekusi. Telkom itu contoh paling jelas bahwa pusat komando legal bisa beda dengan pusat manuver operasional, dan investor yang mengira semua keputusan lahir dari Jakarta sering salah membaca ritme grupnya. Sementara itu $ISAT dan XLSMART $EXCL justru menancapkan kantor pusatnya di jantung Jakarta, seolah bilang sejak awal bahwa medan tempurnya ya harus dekat regulator, mitra korporasi, dan deal flow. Jadi kalau investor mau memahami peta persaingan telko, mulai dari alamat pun sudah kelihatan siapa yang mainnya model kerajaan nasional, siapa yang mainnya model korporasi metropolitan. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

ISAT berkantor pusat di Jalan Medan Merdeka Barat No. 21, Jakarta 10110, dan itu lokasinya benar-benar di pusat administrasi negara, dekat simpul regulasi dan kebijakan. Menariknya lagi, ISAT juga punya lima kantor regional di Jakarta, Semarang, Surabaya, Medan, dan Balikpapan, yang memberi sinyal pola operasi yang memang dibentuk untuk merawat coverage nasional lewat komando pusat yang kuat dan satelit eksekusi di kota-kota besar.

XLSMART berkantor pusat di XL SMART Tower, Jl. H.R. Rasuna Said X-5 Kav. 11-12, Kuningan Timur, Setiabudi, Jakarta Selatan 12950, yang secara karakter terasa sangat korporat dan sangat dekat dengan ekosistem bisnis Jakarta Selatan, tempat vendor, bank, investor institusi, dan mitra enterprise sering beredar.

Lalu Telkom berdomisili dan berkantor pusat resmi di Jalan Japati No. 1, Bandung, dan ini langsung bikin kontras karena pusat legalnya bukan di pusat bisnis nasional, melainkan di kota yang historis dan memang identik dengan akar kelembagaan Telkom.

Kontras ini makin masuk akal kalau melihat sejarah Telkom yang memang lahir dari layanan pos dan telegraf era Hindia Belanda sejak 1884, lalu berubah menjadi Persero pada 1991, dan akhirnya IPO pada 14 November 1995. Artinya Telkom tumbuh seperti institusi negara yang berevolusi menjadi korporasi publik, bukan start-up yang lahir di gedung perkantoran Kuningan lalu ngebut cari skala. Tujuan formalnya tetap klasik tapi besar, menyelenggarakan jaringan dan jasa telekomunikasi serta informatika, mengoptimalkan sumber daya untuk kualitas dan daya saing, lalu mengejar keuntungan untuk meningkatkan nilai perusahaan dengan prinsip perseroan terbatas. Jadi wajar kalau Bandung menjadi takhta resminya, karena Bandung itu bukan sekadar kota, tapi simbol pusat administrasi internal yang panjang, stabil, dan cenderung terstruktur.

Namun yang sering bikin investor salah paham adalah fakta bahwa Telkom tetap punya pusat operasional yang sangat aktif di Jakarta, salah satunya lewat Telkom Hub, khususnya Telkom Landmark Tower. Bahkan ada entitas anak PT Telkom Landmark Tower yang mengelola properti itu dengan kepemilikan 55%, dan aktivitas formal manajemen juga sering tercermin dari dokumen yang ditandatangani di Jakarta.

Jadi bagi TLKM, Bandung itu pusat legal dan pusat identitas, Jakarta itu pusat eksekusi, negosiasi, dan koordinasi bisnis modern. Ini mirip perusahaan besar yang punya kantor pusat resmi di kampung halaman pendiri, tapi ruang rapat terpentingnya justru ada di pusat perdagangan.

Kalau masuk ke angka skala geografis, Telkom itu sebenarnya masih sangat Indonesia sentris walau punya jejak internasional yang nyata. Revenue TLKM dari Indonesia di Q3 2025 sekitar Rp102.523 miliar atau kira-kira Rp102,52 triliun, sedangkan dari luar negeri Rp7.094 miliar atau kira-kira Rp7,09 triliun. Dengan kata lain, mesin uangnya tetap di dalam negeri, dan kontribusi overseas itu lebih terlihat sebagai penguat jaringan, hub internasional, dan positioning regional ketimbang sumber utama laba. Ini juga selaras dengan angka aset operasional non-lancar, sekitar Rp183,435 miliar atau Rp183,44 triliun berada di Indonesia, sementara di luar negeri sekitar Rp2,790 miliar atau Rp2,79 triliun, jadi tulang punggung fisik dan takberwujudnya memang menancap di pasar domestik. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Sementara Telkom punya entitas dan operasi di Singapura, Hong Kong, Timor Leste, Australia, Malaysia, sampai Amerika Serikat, pola ini lebih terasa seperti akar gantung yang memperluas jangkauan daripada memindahkan batang utama keluar negeri. Investor bisa membacanya sebagai strategi menjaga jalur trafik, data center, konektivitas internasional, dan kanal korporasi lintas negara, tetapi tetap dengan satu realitas tegas, mayoritas uangnya lahir dari Indonesia dan mayoritas aset produktifnya juga tertanam di Indonesia.

Dari sudut pandang tren, ini menjelaskan kenapa Telkom bisa kelihatan seperti dua wajah sekaligus, institusi besar yang pusat legalnya di Bandung, tapi pusat manuvernya di Jakarta dan jaringannya menjalar ke luar negeri. Sebaliknya, ISAT dan XLSMART lebih linear, kantor pusat di Jakarta, medan tempur di Jakarta, dan citra korporasinya juga dibuat untuk dekat dengan pusat keputusan pasar dan regulator, sehingga investor yang hanya melihat alamat saja sebenarnya sudah bisa menangkap perbedaan gaya perang mereka.

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx

Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU

Read more...

1/10

testestestestestestestestestes
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

@Hauw2x $ANTM $ISAT $TLKM kira2 siapa ya selanjutnya? 🤔🤔🤔

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Diversifikasi Bisnis Telekomunikasi

Diversifikasi bisnis Telco itu tidak seragam. Ada yang tampak diversifikasi karena segmennya banyak, padahal mesin labanya cuma bertumpu di satu dua kantong yang benar-benar tebal. Ada juga yang segmennya sedikit, tetapi skala dan arus kasnya membuat perusahaan itu terasa seperti utilitas, stabil tapi berat bergerak. Di Q3 2025, investor yang cuma melihat total revenue akan gampang terkecoh, karena komposisi segmen menentukan daya tahan margin saat industri makin mengerucut. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Telkom $TLKM adalah contoh diversifikasi yang paling rapi di atas kertas karena punya 4 segmen yang masing-masing punya fungsi yang berbeda. Mobile masih jadi raja skala dengan revenue Rp59,1 triliun dan kontribusi 53,89%, tetapi growth -6,04% menunjukkan tekanan paling terasa justru di mesin terbesar. Consumer lewat IndiHome terlihat seperti jangkar yang menahan kapal, revenue Rp19,8 triliun, growth +0,76%, dan margin laba usaha tertinggi 33,09%, ini kombinasi yang biasanya dicari investor saat industri masuk fase konsolidasi. Enterprise revenue Rp14,9 triliun, growth -1,75%, tetapi margin naik ke 3,99% dari sebelumnya sekitar 0,9%, sinyal kecil tapi penting bahwa Telkom mulai belajar mengubah proyek korporasi yang berat biaya menjadi lebih sehat. WIB revenue Rp14,2 triliun, growth +5,64%, margin 21,44%, ini segmen yang terasa seperti jalan tol data, tidak sepopuler ritel, tetapi biasanya lebih tahan banting saat pasar ritel ditekan.

Kalau investor mau melihat keunggulan metrik di Telkom, kuncinya ada di keseimbangan antara skala dan margin. Mobile memang turun, tetapi margin laba usaha 27,26% masih menunjukkan Telkomsel tetap mesin laba yang besar walau pertumbuhan melambat. Consumer adalah keunggulan kualitas, karena margin 33,09% memberi bantalan laba saat kompetisi selular makin ketat dan harga data makin sensitif. WIB adalah keunggulan tren organik, growth +5,64% di saat segmen ritel banyak melambat itu memberi sinyal ada permintaan yang tidak sepenuhnya bergantung pada promo ke pelanggan akhir. Enterprise adalah keunggulan perbaikan struktur, margin yang naik walau revenue turun biasanya berarti disiplin biaya mulai berjalan, dan ini sering baru terasa dampaknya di tahun-tahun berikutnya. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Indosat $ISAT lebih sederhana, dan justru itu kekuatannya sekaligus risikonya. Selular adalah mesin utama yang hampir sendirian menggerakkan perusahaan, revenue Rp34,6 triliun, kontribusi 83,95%, growth -1,92%, dengan margin operasi 21,2% yang masih solid untuk ukuran operator yang sedang bertarung. MIDI revenue Rp6,0 triliun, kontribusi 14,58%, growth +1,58%, tetapi margin operasi turun ke 11,6% dari sekitar 20%, ini tanda persaingan dan biaya layanan data korporasi atau fixed connectivity makin menekan. Telekomunikasi tetap tinggal Rp0,6 triliun, kontribusi 1,47%, growth -9,86%, jadi ini segmen yang secara praktis mengecil dan lebih mirip sisa warisan bisnis lama. Dibanding Telkom, Indosat terlihat seperti perusahaan yang memilih fokus, tetapi fokus seperti ini membuat setiap guncangan di selular langsung terasa ke seluruh tubuh laba.

Keunggulan metrik Indosat paling jelas ada di efisiensi inti selularnya, karena 21,2% margin operasi di segmen terbesar berarti mesin utama masih bisa menghasilkan. Kelemahannya juga jelas, ketergantungan 83,95% ke selular membuat diversifikasi lebih mirip pelengkap, bukan penyangga. MIDI yang revenue-nya tumbuh tapi margin-nya turun biasanya berarti Indosat sedang membeli pertumbuhan dengan biaya lebih tinggi, entah lewat pricing, biaya jaringan, atau biaya layanan. Segmen tetap yang turun -9,86% membantu menjelaskan kenapa industri telko terasa menuju oligopoly, layanan legacy makin terkikis dan yang menang adalah yang paling cepat mengalihkan basis pendapatan ke data dan digital yang lebih scalable. Jadi kalau investor mencari Indosat, yang dinilai bukan banyaknya segmen, tetapi seberapa konsisten selular bisa menjaga margin sambil MIDI dipulihkan kualitasnya.

XLSMART $EXCL terlihat paling ramping karena cuma 2 segmen, tetapi skala segmen utamanya sangat dominan sampai rasanya seperti single-engine company. GSM Mobile dan jaringan menghasilkan revenue Rp30,2 triliun, kontribusi 98,71%, growth +21,65%, ini lonjakan yang kuat dan jelas dipicu efek merger 16 April 2025. Masalahnya, segmen ini mencatat margin laba bersih -8,58% karena beban penyusutan dipercepat Rp1,9 triliun pasca integrasi jaringan, jadi pertumbuhan datang bersama rasa sakit akuntansi. Managed Service dan jasa TI tinggal Rp0,4 triliun, kontribusi 1,29%, growth -31,19%, margin 0,98%, artinya segmen pendamping justru mengecil ketika perusahaan sedang fokus merapikan mesin utama. Dalam bahasa sederhana, XLSMART sedang mengangkat barbel besar, badan makin besar, tapi napas laporan laba-rugi masih tersengal karena beban non-kas yang ditarik ke depan. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Keunggulan metrik XLSMART ada pada skala pertumbuhan segmen utama, +21,65% adalah yang paling kencang di antara ketiganya untuk periode ini. Kekurangannya juga paling jelas, margin negatif di segmen yang kontribusinya 98,71% membuat headline kinerja terlihat jelek walau operasional bisa saja sebenarnya lebih baik daripada yang terlihat. Keputusan mempercepat penyusutan biasanya dilakukan untuk membersihkan masa manfaat aset dan menyamakan kebijakan pasca-merger, efeknya laba jangka pendek ditekan, tetapi laporan di tahun berikutnya bisa terlihat lebih normal jika revenue sudah mengejar. Jadi investor yang menilai XLSMART harus bisa bedakan rugi karena bisnis melemah versus rugi karena akuntansi pasca integrasi, karena dua hal ini dampaknya sangat beda. Dan turunnya Managed Service -31,19% memberi sinyal fokus perusahaan sedang dipersempit, bukan diperlebar, jadi cerita diversifikasinya bukan ekspansi, melainkan konsolidasi internal.

Kalau tiga perusahaan ini dibandingkan dari skala segmen, Telkom punya dua mesin besar sekaligus, Mobile Rp59,1 triliun dan Consumer Rp19,8 triliun, ditambah dua mesin menengah WIB Rp14,2 triliun dan Enterprise Rp14,9 triliun, jadi struktur pendapatan lebih menyebar dan risiko lebih tersebar. Indosat lebih seperti satu mesin besar Selular Rp34,6 triliun dan satu mesin menengah MIDI Rp6,0 triliun, sehingga ketika selular melambat, seluruh cerita perusahaan ikut melambat. XLSMART punya satu mesin super-dominan GSM Rp30,2 triliun yang sedang tumbuh cepat, tetapi karena margin segmen itu negatif, perusahaan terlihat seperti sedang membangun gedung tinggi sambil menanggung biaya renovasi besar di saat yang sama. Dari sisi pertumbuhan organik yang tidak ditopang merger, WIB Telkom +5,64% adalah highlight yang menarik karena tumbuh saat banyak segmen ritel melemah, sementara Indosat dan Telkom sama-sama melihat mesin selularnya menurun. Dari sisi kualitas margin, Consumer Telkom 33,09% adalah yang paling cantik, Selular Indosat 21,2% adalah yang paling stabil di operator fokus, dan XLSMART sedang rela mengorbankan margin jangka pendek untuk membayar integrasi.

Diversifikasi Telkom bersifat struktural, bukan sekadar variasi produk, karena kontribusi segmennya relatif seimbang dan ada segmen margin tinggi yang jadi bantalan. Diversifikasi Indosat lebih bersifat konsentrat, artinya masih dominan selular, sehingga kekuatan Indosat adalah fokus dan eksekusi, tetapi kelemahannya adalah ketergantungan. Diversifikasi XLSMART saat ini lebih mirip narasi pasca-merger, skala membesar cepat, tetapi profil laba masih dibentuk ulang oleh kebijakan akuntansi dan integrasi jaringan. Dalam fase industri menuju oligopoly, biasanya yang paling tahan lama adalah yang punya kombinasi, segmen margin tinggi sebagai bantalan, segmen tumbuh sebagai pendorong, dan segmen utilitas seperti wholesale sebagai stabilisator. Dan di angka-angka Q3 2025, Telkom paling lengkap paketnya, Indosat paling fokus, sedangkan XLSMART paling agresif membangun ulang mesin, dengan konsekuensi laba yang sengaja dibuat tidak nyaman dulu.

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx

Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU

Read more...
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Oligopoli Bisnis Telco

Saham telekomunikasi saat ini cenderung ke arah konsolidasi mendekati oligopoly. Di fase seperti ini, investor yang masih menilai emiten telko cuma dari narasi pertumbuhan pelanggan biasanya telat paham, karena pertandingan utamanya sudah pindah ke perang efisiensi, perang struktur biaya, dan perang kemampuan membiayai jaringan tanpa bikin neraca sesak. Semakin industri mengerucut, yang menang bukan yang paling kencang promosi, tapi yang paling jago mengubah revenue menjadi kas, lalu kas itu dipakai untuk memperlebar parit jaringan, bukan sekadar untuk bertahan hidup. Jadi kalau mau membedah Telkom $TLKM, $ISAT, dan XLSMART $EXCL per 30 September 2025, fokusnya bukan cuma siapa paling besar, tapi siapa paling kuat napasnya, siapa paling disiplin belanja modal, dan siapa yang lagi sengaja bikin laporan laba-rugi terlihat jelek demi masa depan. Di telko, angka-angka itu bukan kosmetik, itu peta siapa yang akan memimpin babak konsolidasi berikutnya. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Dari sisi skala, Telkom itu mesin raksasa yang sulit ditandingi, aset Rp291,9 triliun, hampir 2,6 kali aset ISAT Rp113,7 triliun dan sekitar 2,7 kali aset XLSMART Rp109,8 triliun. Skala ini penting karena di industri yang makin oligopoly, ukuran tubuh menentukan daya tahan, Telkom bisa menahan tekanan harga lebih lama karena basis aset dan infrastruktur yang lebih dalam. Tapi skala juga punya kutukan, makin besar, makin berat untuk tumbuh cepat, dan itu kelihatan dari tren revenue 9 bulan 2025 yang kontraksi, Telkom -2,3% dan ISAT -1,6%, sementara XLSMART melesat +20,5% karena efek merger. Jadi kalau investor cuma lihat growth, XLSMART terlihat paling kencang, tapi kalau investor lihat kualitas mesin uang, ceritanya lebih kompleks.

Sekarang masuk ke metrik yang paling jujur di telko, arus kas. CFO terhadap revenue itu ukuran seberapa efektif bisnis mengubah pendapatan jadi kas dari operasi. XLSMART unggul paling tinggi di 48,2%, Telkom 45,3%, ISAT 38,2%. Keunggulan XLSMART di metrik ini memberi sinyal bahwa walaupun laporan laba-rugi sedang terlihat buruk, operasionalnya tetap menghasilkan kas yang kuat, dan ini biasanya datang dari kombinasi penerimaan pelanggan yang jalan, efisiensi working capital, dan biaya non-kas yang besar seperti penyusutan yang tidak menggerus kas saat ini. Telkom ada di posisi sangat kuat juga, 45,3% itu kelas berat, artinya revenue yang tidak tumbuh pun masih bisa diperas jadi kas besar. ISAT lebih rendah, 38,2%, bukan berarti jelek, tapi artinya ruang perbaikan efisiensi operasional masih ada, atau ISAT sedang menanggung beban operasional dan pembayaran yang membuat kas tidak secepat dua pesaingnya.

Kalau mau tahu siapa yang paling punya amunisi nyata untuk perang harga dan investasi tanpa drama, lihat FCF terhadap revenue, karena ini kas bersih setelah belanja modal. Telkom juara di 28,5%, XLSMART dekat sekali di 26,4%, ISAT tertinggal di 13,2%. Keunggulan Telkom di sini menunjukkan dua hal yang enak, kas operasional besar dan belanja modal relatif lebih terkendali, jadi kas bebasnya tebal. XLSMART mengejutkan karena meski rugi akuntansi, FCF margin masih tinggi, artinya tekanan laba mereka bukan karena kas bocor, melainkan karena beban non-kas dan penyesuaian akuntansi pasca-merger. ISAT yang 13,2% menggambarkan gaya main yang lebih agresif, kasnya ada, tapi lebih banyak ditelan investasi jaringan, sehingga kas bebas untuk fleksibilitas jangka pendek jadi lebih tipis.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Metrik yang sering bikin investor salah paham adalah capex terhadap revenue. ISAT paling agresif 24,9%, XLSMART 21,9%, Telkom paling konservatif 16,7%. Keunggulan ISAT di metrik ini adalah orientasi menyerang, mereka jelas menaruh uang lebih besar per rupiah pendapatan untuk memperkuat jaringan dan kapasitas, ini bisa jadi pondasi untuk merebut pangsa pasar atau menjaga kualitas layanan ketika kompetisi data makin brutal, tapi konsekuensinya kas bebas mengecil dan sensitivitas ke tekanan harga jadi lebih tinggi. Keunggulan Telkom 16,7% adalah disiplin, efisiensi, dan kemampuan memerah aset jaringan yang sudah matang, cocok untuk fase konsolidasi, tapi risikonya jika terlalu irit, ada peluang kehilangan momentum di area yang butuh ekspansi cepat. XLSMART berada di tengah, masih tinggi karena integrasi dan optimasi jaringan pasca-merger butuh belanja, dan itu wajar di tahun transisi.

Sekarang bicara profitabilitas yang terlihat di laporan laba-rugi. Margin laba bersih Telkom 18,8% adalah yang paling sehat dan paling konsisten untuk menggambarkan mesin monetisasi yang matang. ISAT 9,3% masih positif dan solid, tapi jelas setengahnya Telkom, menunjukkan tekanan biaya atau kompetisi harga yang lebih terasa. XLSMART -8,5% adalah rugi, dan ini yang sering dijadikan bahan panik, padahal konteksnya penting karena mereka melakukan percepatan penyusutan pasca-merger, jadi laba bersih ditekan oleh beban non-kas. Jadi keunggulan Telkom di metrik ini adalah kekuatan pricing power dan efisiensi struktur biaya, keunggulan ISAT adalah masih mampu profit meski industri menekan, sedangkan XLSMART belum bisa dinilai cuma dari margin ini karena sedang membayar biaya transisi akuntansi dan integrasi. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Supaya makin kebaca kualitas laba, bandingkan laba bersih terhadap CFO. Telkom 41,5%, ISAT 24,4%, XLSMART negatif karena rugi. Interpretasinya sederhana, dari kas operasi yang dihasilkan, berapa bagian yang benar-benar muncul sebagai laba bersih setelah semua beban, termasuk penyusutan dan bunga. Keunggulan Telkom, CFO yang besar tidak habis dimakan beban, jadi profit yang muncul tetap tebal. ISAT lebih rendah, artinya kas operasi mereka lebih banyak tergerus oleh beban non-kas, bunga, atau biaya lain, atau mereka memang sedang menanggung investasi dan biaya yang membuat akuntansi lebih berat. XLSMART negatif di sini menjelaskan bahwa kas operasional kuat belum tentu langsung jadi laba, karena beban penyusutan dipercepat membuat laporan laba-rugi sengaja ditekan.

Lalu laba bersih terhadap FCF, Telkom 65,8% dan ISAT 70,7%, XLSMART negatif. Banyak investor salah membaca metrik ini, padahal maknanya begini, dari kas bebas yang tersisa setelah capex, berapa yang setara dengan laba bersih. ISAT yang lebih tinggi dari Telkom bukan berarti lebih unggul secara absolut, tapi menunjukkan struktur capex yang lebih berat membuat FCF lebih kecil, sehingga laba bersih tampak mengambil porsi besar dari FCF. Telkom lebih rendah karena FCF-nya jauh lebih besar, jadi porsi laba terhadap FCF terlihat lebih kecil, ini justru memberi rasa aman karena kas bebasnya tidak bergantung pada laba semata. XLSMART negatif karena rugi, dan itu kembali menguatkan pesan bahwa perusahaan ini sedang di fase transisi akuntansi, bukan otomatis fase operasional runtuh.

Kalau kita gabungkan tren pertumbuhan, gambar besarnya begini. XLSMART memimpin revenue growth +20,5% karena merger, tapi laba bersih berbalik rugi karena penyesuaian biaya dan penyusutan, jadi ini pertumbuhan yang dibayar mahal di laporan laba-rugi. Telkom dan ISAT sama-sama mengalami kontraksi revenue kecil, laba turun, tapi yang menarik, Telkom justru mencatat tren FCF terbaik dengan growth FCF +21,7% karena efisiensi belanja modal, jadi mereka seperti masuk mode menjaga amunisi. Artinya, Telkom sedang bermain seperti incumbent oligopoly, pertumbuhan tidak dikejar membabi-buta, tapi kas dibikin setebal mungkin untuk menjaga dominasi dan fleksibilitas. ISAT terlihat seperti penantang yang tetap agresif belanja, berharap kualitas jaringan dan penetrasi data bisa mengkompensasi tekanan pertumbuhan.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Sekarang kita turunkan ke segmen supaya kelihatan sumber tenaga masing-masing. Telkom masih ditopang motor Mobile lewat Telkomsel sekitar Rp59,0 triliun, tapi pendapatan eksternal mobile turun -6,0%, sementara Wholesale and International Business tumbuh +5,2%, ini memberi sinyal Telkom mulai mencari stabilitas dari bisnis yang lebih mirip pipa dan tol data, bukan cuma tarif ritel. ISAT didorong selular sekitar Rp34,5 triliun, MIDI tumbuh +1,6%, tetapi telekomunikasi tetap turun -9,9%, artinya ISAT makin mengandalkan data dan layanan digital sebagai bantalan pertumbuhan, sementara layanan lama terkikis. XLSMART mayoritas pendapatan dari Data dan Layanan Digital 90,8%, interkoneksi tumbuh +157% pasca-merger, tapi Managed Service dan IT turun -31,2%, jadi mereka sedang menggeser komposisi bisnis dan mengencangkan fokus pada mesin yang paling cepat menghasilkan volume setelah penggabungan jaringan.

Telkom unggul di metrik profitabilitas dan kas bebas, net margin 18,8% dan FCF margin 28,5% adalah kombinasi yang sangat sulit ditiru, apalagi ditopang skala aset Rp291,9 triliun, ini profil pemimpin konsolidasi. ISAT unggul di agresivitas investasi, capex terhadap revenue 24,9% menunjukkan mereka tidak mau sekadar bertahan, mereka sedang membangun otot, tetapi konsekuensinya FCF margin 13,2% jadi paling tipis, jadi investor harus nyaman dengan fase belanja berat. XLSMART unggul di konversi kas operasional, CFO margin 48,2% tertinggi, revenue growth tertinggi, dan FCF margin 26,4% yang hampir menyamai Telkom, tetapi laporan laba-rugi masih dipukul penyusutan dipercepat sehingga net margin negatif, ini tipikal cerita transisi merger. Di pasar telko yang makin oligopoly, biasanya pemenang jangka menengah bukan yang paling cantik di laba bersih sesaat, tapi yang menguasai dua hal, kas dari operasi dan disiplin belanja modal, karena dua itulah yang menentukan siapa bisa bertahan saat harga ditekan dan siapa bisa menyerang saat kompetitor kehabisan napas.

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx

Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU

Read more...
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Internet Rakyat vs $TLKM $ISAT $EXCL

TLKM ISAT dan EXCL berpotensi terancam oleh program internet rakyat milik Prabowo. Bukan karena sinyal mereka jelek, tapi karena game-nya bisa bergeser dari perang kualitas jaringan jadi perang harga internet rumah yang dibikin super-murah dan super-sederhana. Kalau internet fixed wireless access bisa masuk ke kantong rakyat dengan kecepatan ratusan Mbps dan biaya bulanan yang lebih mendekati uang jajan, konsumsi data di rumah pelan-pelan pindah dari kuota seluler ke Wi-Fi rumah. Di titik itu, yang terpukul bukan cuma pemain fixed broadband, tapi juga mesin uang seluler karena trafik malam hari yang biasanya paling tebal justru terjadi di rumah. Dan yang bikin ini menarik, di era pemerintahan Prabowo, arah kebijakan konektivitas terlihat makin condong ke akses murah-merata, jadi risiko harga bukan sekadar wacana, tapi bisa jadi struktur baru industri. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Per 30 September 2025, Telkom itu raja telco, total aset sekitar Rp291,9 triliun, sementara ISAT Rp113,7 triliun dan XLSMART Rp109,8 triliun. Artinya, aset Telkom kurang-lebih 2,57x ISAT dan 2,66x XLSMART, sedangkan ISAT dan XLSMART ukurannya mirip, beda tipis sekitar 1,04x saja. Di level pendapatan 9 bulan 2025, Telkom juga masih jauh di depan, revenue Rp109,6 triliun, ISAT Rp41,2 triliun, XLSMART Rp30,5 triliun. Jadi revenue Telkom kira-kira 2,66x ISAT dan 3,59x XLSMART, sementara ISAT sekitar 1,35x XLSMART. Skala sebesar ini penting, karena perang harga biasanya dimenangkan pemain yang punya napas kas paling panjang, bukan yang paling ramai kampanye.

Kalau investor lihat profitabilitas, gap-nya makin jelas. Telkom masih cetak laba bersih Rp20,6 triliun, ISAT Rp3,8 triliun, sementara XLSMART rugi bersih Rp2,6 triliun. Dari sisi margin, Telkom kira-kira di 18,8%, ISAT sekitar 9,3%, XLSMART minus 8,5%. Tapi bagian yang sering menipu mata itu XLSMART, karena rugi ini banyak dipengaruhi beban non-kas, terutama penyusutan dipercepat pasca-merger, jadi laporan laba-rugi kelihatan berdarah, padahal mesin kasnya tidak otomatis ikut sekarat. Di telko, beda laba akuntansi vs kas itu bisa separah beda foto paspor vs wajah asli.

Bukti paling gampang ada di arus kas. CFO atau arus kas operasi 9 bulan 2025 milik Telkom Rp49,6 triliun, ISAT Rp15,7 triliun, XLSMART Rp14,7 triliun. CFO Telkom itu sekitar 3,16x ISAT dan 3,37x XLSMART, jadi napas kasnya paling tebal. Lalu kalau ditarik jadi rasio ke revenue, CFO margin Telkom sekitar 45,3%, ISAT 38,2%, XLSMART malah sekitar 48,2%. Ini yang bikin cerita XLSMART jadi unik, rugi di atas kertas, tapi kas operasionalnya masih kuat. Dan ketika kita kurangi capex, hasilnya juga masih enak dilihat, free cash flow Telkom Rp33,4 triliun, ISAT Rp5,5 triliun, XLSMART Rp8,0 triliun, sehingga Telkom punya free cash flow sekitar 6,11x ISAT dan 4,15x XLSMART. Kalau industri masuk fase perang harga, free cash flow ini adalah amunisi, bukan sekadar angka. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Dari sisi kewajiban dan utang, liabilitas terhadap aset Telkom sekitar 46,9%, ISAT 66,9%, XLSMART 70,9%. Jadi Telkom terlihat paling defensif, beban kewajibannya relatif lebih ringan terhadap ukuran tubuhnya. Lalu utang berbunga dibanding ekuitas, Telkom sekitar 50,1%, ISAT 40,3%, XLSMART sekitar 70,3%. Ini memberi konteks, XLSMART lagi bawa ransel lebih berat, wajar kalau manajemen sensitif terhadap biaya bunga dan disiplin capex, sedangkan Telkom punya ruang manuver lebih luas.

Masuk ke tren, di 9 bulan 2025, Telkom dan ISAT sama-sama mengalami kontraksi revenue tipis secara tahunan, Telkom minus 2,32%, ISAT minus 1,55%, sementara XLSMART tumbuh 20,45% yang sifatnya banyak didorong efek penggabungan usaha. Di laba bersih, Telkom turun 10,54% dan ISAT turun 7,57%, jadi sama-sama tertekan. Yang menarik, justru CFO Telkom naik 7,94% dan CFO ISAT naik 1,46%. Ini sinyal klasik telko matang, growth melambat, tapi mesin kas masih hidup, bahkan bisa lebih efisien ketika manajemen menahan biaya dan menata belanja modal. Sementara XLSMART CFO turun tipis minus 0,66%, jadi cerita besarnya bukan kas ambruk, melainkan akuntansi yang diset lebih konservatif lewat penyusutan dan penataan aset. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Sekarang kita sambungkan dengan isu program Internet Rakyat supaya jelas mana yang benar-benar mengancam, mana yang cuma bising. Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital mendorong skema internet terjangkau yang tidak harus menunggu fiber masuk, salah satunya lewat broadband wireless access di spektrum 1,4 GHz. Mekanismenya bukan sekadar bagi-bagi wacana, tapi lelang frekuensi dengan kewajiban layanan, ada target pelanggan per tahun dan batasan layanan supaya fokusnya ke akses internet tetap, bukan layanan seluler. Di sisi pemain, brand Internet Rakyat juga sudah diposisikan sebagai paket internet murah berbasis fixed wireless access dengan target kecepatan sampai 100 Mbps dan harga yang dipromosikan sekitar Rp100.000 per bulan di beberapa pemberitaan.

Kalau investor tanya, apakah ini langsung menghantam TLKM ISAT XLSMART hari ini juga? Jawaban realistisnya, dampaknya bertahap, tapi arahnya serius. Di fase awal, kewajiban pelanggan yang muncul dari lelang 1,4 GHz masih terlihat kecil dibanding total rumah tangga Indonesia, jadi secara skala nasional belum cukup untuk langsung membalikkan industri. Tapi ancaman utamanya bukan dari angka tahun pertama, melainkan dari efek jangkar harga. Begitu publik melihat internet rumah 100 Mbps bisa dipasarkan di kisaran yang sangat rendah, ekspektasi konsumen berubah. Lalu semua pemain besar dipaksa menjawab, apakah mereka mau ikut turunkan harga, atau mereka mau mempertahankan harga tapi harus memberikan nilai tambah yang terasa, misalnya bundling, konten, layanan enterprise, atau kualitas layanan yang jauh lebih stabil. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Di titik ini, Telkom yang paling rawan tersenggol di segmen fixed broadband rumah karena dia punya basis pelanggan besar dan aset jaringan yang selama ini dimonetisasi lewat harga yang relatif premium di banyak wilayah. Tapi Telkom juga yang paling punya daya tahan kas, dan justru bisa jadi pihak yang ikut memungut biaya tol telekomunikasi lewat backhaul, fiber, data center, dan konektivitas korporasi ketika pemain fixed wireless access butuh backbone jaringan untuk keluar ke internet global dan ke titik-titik interkoneksi. ISAT dan XLSMART lebih sensitif dari sisi seluler, karena kalau rumah tangga makin banyak pakai Wi-Fi murah di rumah, konsumsi kuota seluler bisa turun, terutama di jam prime time malam. Namun, mereka juga punya jalan balasan, memperkuat bundling fixed wireless access sendiri, memperluas layanan enterprise, dan menekan biaya per GB lewat efisiensi jaringan dan integrasi.

Jadi Telkom itu paling besar, paling tebal kasnya, dan neracanya paling defensif, jadi kalau ada guncangan harga, dia yang paling mungkin bertahan paling lama sambil mengubah strategi. ISAT berada di tengah, skala lumayan, laba masih ada, tapi growth melambat, jadi perlu fokus menjaga kualitas kas dan disiplin capex sambil mencari pertumbuhan yang tidak membakar margin. XLSMART kelihatan paling berisik di laporan laba-rugi karena rugi besar, tapi justru perlu dilihat sebagai fase transisi pasca-merger, karena CFO dan free cash flow-nya masih positif dan kuat, jadi perangnya ada di eksekusi integrasi dan penurunan beban struktur biaya, bukan sekadar mengejar revenue. Dan kalau program Internet Rakyat makin agresif, pemenangnya bukan yang paling banyak iklan, tapi yang bisa menurunkan cost per bit paling cepat sambil tetap menjaga kualitas layanan, karena di perang harga, kualitas kas itu raja, bukan narasi.

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx

Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU

Read more...

1/10

testestestestestestestestestes
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ISAT dan $DMAS seminggu ini di akumulasi si AK diam diam.

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$TLKM $ISAT $EXCL

baca berita : https://cutt.ly/mtjuzu8S

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ISAT the real isat sesat wkwkwk

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

KABARBURSA.COM – Berbicara tentang kecerdasan buatan atau AI, tidak terlepas dari biaya yang sangat mahal. Langkah Indosat Ooredoo Hutchinson (ISAT) untuk fokus pada transformasi menuju perusahaan berbasis AI, membuat pasar menakar peluangnya.
Jika melihat dari pendapatan ISAT di sepanjang 2025, a...

www.kabarbursa.com

www.kabarbursa.com

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Bagaimana provider lokal mengantisipasi hal ini?
$TLKM $EXCL $ISAT

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ISAT buat pengingat, kesini dulu aja ya..

$ISAT

haruskah CLBK ??
sejak oktober lalu sudah running tinggi :
https://stockbit.com/post/23154190

kalau minggu depan dikasi 2000 = low risk

$BUMI $DEWA

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ISAT 9M 2025

Total Aset: 113.726.789 juta
Total Liabilitas: 76.151.328 juta
Total Ekuitas: 37.575.461 juta
Ekuitas induk: 34.382.707 juta
Saham preferen: Tidak ada
Saham beredar: 32.250.810.957
BVPS: ≈ Rp 1.066 per saham
PBV: 2,0
EPS: Rp121

Berdasarkan PBV Historis : 2.132

Berdasarkan Graham Number : 1.703,5

Teknikal View ⬇️

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

[WATCHLIST ONLY : 143 EMITEN]

Kamis, 08 January 2026 15:53
Saham potensial gap-up/down di CLOSING market, diurut berdasarkan nilai persentase:
(cukup pantau baris paling atas dan paling bawah untuk cek gap terbesar):

GAP UP:
🔼 $ASDM gap up ke 710 (+25 / +3.65%) dari 685
🔼 $SOCI gap up ke 620 (+15 / +2.48%) dari 605
🔼 AADI gap up ke 7450 (+125 / +1.71%) dari 7325
🔼 ASGR gap up ke 1195 (+20 / +1.7%) dari 1175
🔼 INCO gap up ke 6000 (+50 / +0.84%) dari 5950
🔼 PNGO gap up ke 3640 (+20 / +0.55%) dari 3620
🔼 ITMG gap up ke 22025 (+75 / +0.34%) dari 21950
🔼 UNTR gap up ke 31775 (+75 / +0.24%) dari 31700

GAP DOWN:
🔽 GGRM gap down ke 15350 (-50 / -0.32%) dari 15400
🔽 BBRI gap down ke 3700 (-20 / -0.54%) dari 3720
🔽 ANTM gap down ke 3480 (-20 / -0.57%) dari 3500
🔽 WIFI gap down ke 3350 (-20 / -0.59%) dari 3370
🔽 TSPC gap down ke 3030 (-20 / -0.66%) dari 3050
🔽 ASII gap down ke 6950 (-50 / -0.71%) dari 7000
🔽 BBNI gap down ke 4200 (-30 / -0.71%) dari 4230
🔽 IPCC gap down ke 1340 (-10 / -0.74%) dari 1350
🔽 EMTK gap down ke 1155 (-10 / -0.86%) dari 1165
🔽 TKIM gap down ke 7975 (-75 / -0.93%) dari 8050
🔽 ACES gap down ke 412 (-4 / -0.96%) dari 416
🔽 BSDE gap down ke 910 (-10 / -1.09%) dari 920
🔽 SCMA gap down ke 338 (-4 / -1.17%) dari 342
🔽 MDKA gap down ke 2530 (-30 / -1.17%) dari 2560
🔽 EXCL gap down ke 4210 (-50 / -1.17%) dari 4260
🔽 INKP gap down ke 9675 (-125 / -1.28%) dari 9800
🔽 TOTO gap down ke 268 (-4 / -1.47%) dari 272
🔽 PGAS gap down ke 1960 (-30 / -1.51%) dari 1990
🔽 TOWR gap down ke 550 (-10 / -1.79%) dari 560
🔽 $ISAT gap down ke 2150 (-40 / -1.83%) dari 2190

Cek ulang semuanya dan IEP bisa berubah smp menit terakhir. Salam Cuan.

Read more...
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ISAT $ADMR

1/2

testes
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ISAT

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ISAT tembok 2200 masih tebel 😮‍💨

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ISAT ditembok gitu

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ISAT waktunya jemput ndar

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ISAT AK ZP AKUM MANTAP

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ISAT Husnudzon, Bismillah 2.500 🤲🏻

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ISAT

ini saham apaan sih, naik tidak, turun tidak, maunya kemana

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Lanskap industri telekomunikasi Indonesia di tahun 2026 diprediksi akan didominasi oleh tiga pemain besar (The Big Three): Telkomsel, Indosat Ooredoo Hutchison (IOH), dan XLSmart. Fokus industri telah bergeser dari "perang harga" brutal menuju kualitas layanan dan monetisasi jaringan yang lebih rasional.

Berikut adalah insight penting untuk setiap emiten telekomunikasi utama serta prospek sahamnya di tahun 2026:

1. Telkom Indonesia ($TLKM)

• Poin Penting: Telkomsel tetap diposisikan sebagai operator premium dengan tarif tertinggi, mengandalkan kualitas sinyal hingga pelosok dan keamanan data. Strategi barunya mencakup peluncuran paket berdasarkan kecepatan (Mbps) alih-alih hanya kuota (GB), serta promosi paket bundling layanan tetap dan seluler.

• Katalis 2026: Pemisahan (spin-off) aset fiber ke dalam unit InfraCo (Telkom Infrastruktur Indonesia/TIF) menjadi penggerak utama nilai perusahaan. Rencana masuknya mitra strategis di tahun 2026 untuk TIF diharapkan dapat meningkatkan valuasi induknya.

• Prospek Saham: Analis memberikan rekomendasi BUY dengan target harga berkisar antara Rp3.500 hingga Rp3.720. Emiten ini masuk dalam daftar "50 Companies to Watch" oleh Bloomberg karena prospek pemulihan kinerjanya yang kuat di 2026.

2. Indosat Ooredoo Hutchison ($ISAT)

• Poin Penting: IOH berperan sebagai "agregator gaya hidup" dengan strategi bundling konten streaming dan poin loyalitas yang kuat. Mereka telah melakukan price repair yang signifikan dengan menghapus paket-paket murah berdurasi panjang untuk mendorong frekuensi pembelian ulang dan meningkatkan ARPU (Average Revenue Per User).

• Katalis 2026: Penggunaan kecerdasan buatan (AI) melalui pusat AI di Surakarta untuk efisiensi biaya produksi data. Selain itu, divestasi aset fiber dan monetisasi infrastruktur digital menjadi katalis krusial bagi pertumbuhan laba.

• Prospek Saham: Rekomendasi mayoritas adalah BUY dengan target harga antara Rp2.500 hingga Rp3.000.

3. XLSmart ($EXCL)

• Poin Penting: Sebagai entitas baru hasil merger XL Axiata dan Smartfren, XLSmart kini memiliki infrastruktur yang jauh lebih luas (integrasi >7.000 BTS). Mereka diprediksi menjadi "penantang yang mengganggu" dengan paket "Unlimited 2.0" yang menawarkan kualitas setara Telkomsel namun harga 15-20% lebih murah.

• Katalis 2026: Fase pasca-integrasi jaringan akan meningkatkan kapasitas dan kualitas layanan secara drastis, yang mendukung pertumbuhan EBITDA dua digit pada 2026–2027. Efisiensi biaya operasional (OPEX) paska-merger juga akan dialokasikan untuk mendanai investasi 5G.

• Prospek Saham: EXCL sering menempati posisi teratas (pecking order) dalam pilihan analis sektor telekomunikasi dengan target harga mencapai Rp4.100

Disclaimer On

Read more...
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ISAT R.E.M W-D-H4 BBMA mengajarkan satu hal penting Harga boleh berubah, tapi perilaku harga tidak.

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ISAT gue tunggu d 2rb

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ISAT
Jgn malu2 utk naik💪🏼💪🏼💪🏼💪🏼💪🏼

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$INET

⚡ SCALPING PLAN: INET

🟢 Entry
Wait Area: 585 – 605 (Hanya masuk untuk fast rebound scalp jika harga menunjukkan perlawanan kuat di area support ini).

Rebound Entry: 645 (Masuk jika harga berhasil membalikkan tekanan merah hari ini untuk menguji kembali area 680).

🎯 Take Profit
TP 1: 670 – 690 → jual 80% (Area resisten kuat; sangat disarankan segera keluar dari posisi karena risiko pembalikan arah sangat tinggi).

TP 2: 710+ → jual sisa (Hanya jika volume beli melonjak kembali melampaui rata-rata harian).

🔴 Stop Loss
SL Agresif: 615 (Membatasi risiko jika harga terus merosot tanpa ada perlawanan dari pembeli).

Cut Loss Mutlak: Daily Close < 590 (Sinyal konfirmasi bahwa tren naik parabolik telah berakhir sepenuhnya).

⚠️ Catatan Cepat
High Slippage Risk: Dalam kondisi turun tajam seperti ini, harga dapat bergerak sangat cepat melewati titik SL Anda; gunakan market order jika perlu.

MACD Convergence: Pantau jarak antara garis MACD dan garis sinyal; perpotongan ke bawah adalah sinyal jual mutlak tanpa kompromi.

Jangan Lupa Follow!

Random Tag :

$KETR $ISAT

Read more...
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ISAT

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ISAT harga saham bisa d akalin tapi value transaksi ZP ga bisa bohong wkwkkww

2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy