indikator notasi khusus
Perusahaan memiliki Notasi Khusus
EX

126

0.00

(0.00%)

Today

0

Volume

Company Background

PT. Indofarma Tbk (INAF) adalah produsen obat-obatan, yang terdiri dari beberapa kategori produk, yaitu Unbranded Generic atau OTC Over the Counter (OTC), obat generik, rapid diagnostic test, dan lain-lain. Selain itu, Indofarma juga memproduksi bahan kemasan, mesin, peralatan dan infrastruktur yang berkaitan dengan industri farmasi dan lainnya. Perusahaan mulai beroperasi secara komersial dan berproduksi pada tahun 1983. Produk perusahaan dipasarkan baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Saham dua emiten badan usaha milik negara (BUMN), PT Indofarma Tbk (INAF) dan PT PP Properti Tbk (PPRO), terancam delisting atau dihapus pencatatan sahamnya dari Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 2026. Potensi tersebut muncul setelah BEI menerbitkan Pengumuman Bursa Nomor Peng-00003/BEI.PLP/12-2025 pa...

katadata.co.id

katadata.co.id

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Kisah Kejatuhan $INAF Perusahaan BUMN Tukang Ambil Pinjol yang Doyan Gagal Bayar

Menanggapi komentar salah satu user Stockbit tentang INAF bukan di External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345

INAF adalah bukti bahwa ketika para petinggi dan karyawan korupsi berjamaah maka perusahaan bisa hancur. Yang bikin perusahaan ini masih berdiri sampai sekarang adalah karena ini adalah BUMN, kalau seandainya ini perusahaan swasta, dari dulu sudah bangkrut. Masalah terbesar saham BUMN itu memang banyak pejabatnya korupsi. Entah karena direkturnya goblok atau karena komisaris nya makan gaji buta. Tidak semua perusahaan BUMN bisa cetak laba seperti $BBRI $BMRI BBNI, banyak juga BUMN lain itu yang korupsi pejabatnya seperti case INAF. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

INAF itu contoh nyata bahwa ketika tata-kelola runtuh dan dugaan penyimpangan dibiarkan menumpuk, perusahaan farmasi bisa hancur walau pabriknya masih berdiri. Yang membuat INAF masih terlihat hidup sampai sekarang lebih karena statusnya BUMN dan masih ada penyangga grup, bukan karena mesin bisnisnya sehat. Di pasar, cerita INAF bukan soal produk apa yang dijual, tapi soal apakah perusahaan masih sanggup beroperasi normal dari hulu ke hilir. Begitu isu integritas naik kelas menjadi pemeriksaan investigatif dan proses hukum, kepercayaan pasar biasanya rontok lebih cepat daripada laporan keuangan sempat membaik. Investor yang cuma lihat rugi mengecil bisa salah baca, karena rugi mengecil itu kadang cuma hasil rem darurat. Di kasus INAF, yang terlihat bukan pemulihan organik, tapi mode bertahan hidup yang serba dibatasi. Harga saham memang bisa jatuh karena sentimen, tapi jatuh berkepanjangan biasanya karena fundamental benar-benar patah. Dan kalau fundamentalnya patah, risiko suspensi panjang sampai delisting itu bukan drama, itu konsekuensi.

Akar kejatuhannya kelihatan dari struktur neraca yang sudah kebalik. Per 30 September 2025, INAF mencatat defisiensi modal atau ekuitas negatif Rp890,94 miliar, artinya secara akuntansi kewajiban sudah lebih besar daripada aset. Di saat yang sama, modal kerja juga negatif sekitar Rp1,09 triliun karena liabilitas jangka pendek melampaui aset lancar. Kombinasi ini biasanya langsung memicu efek domino yang investor paling benci, vendor makin ketat, pasokan makin sulit, ruang napas likuiditas makin sempit, dan perusahaan terpaksa mengecilkan aktivitas supaya tidak makin berdarah-darah.

Kalau ditarik ke arus kas, gambarnya makin jelas. Selama 9 bulan 2025, rugi bersih masih Rp127,09 miliar, lalu arus kas operasi negatif Rp179,35 miliar. Ini poin penting karena arus kas operasi negatif berarti kegiatan inti belum menghasilkan uang tunai, justru membakar kas. Jadi walau ada narasi rugi membaik, pasar biasanya tetap keras, karena yang dicari itu satu hal yang paling jujur, uang masuk dari operasional harus balik positif dulu supaya cerita pemulihan terasa nyata. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Masalahnya makin parah karena jalur distribusi utama runtuh. Anak usaha distribusi PT Indofarma Global Medika diputus pailit pada 10 Februari 2025. Ini seperti memutus nadi, karena di farmasi distribusi adalah jembatan dari pabrik ke apotek, rumah sakit, dan channel penjualan. Begitu jembatan ambruk, pabrik bisa berubah dari aset produktif menjadi beban tetap, karena barang tidak mengalir lancar, termin kacau, dan modal kerja makin terkunci.

Di titik ini, data pinjaman online menjadi potongan puzzle yang menjelaskan behind-the-scenes soal kontrol internal. Temuan investigatif BPK menyebut ada pinjaman melalui fintech sebesar Rp1,26 miliar di IGM, dan pinjaman itu disebut bukan untuk kepentingan perusahaan serta berindikasi merugikan IGM sebesar Rp1,26 miliar. Angkanya memang kecil dibanding skala emiten, tapi maknanya besar, karena menunjukkan governance problem sampai ke level keputusan keuangan harian. Untuk investor, sinyal seperti ini biasanya dibaca sebagai risiko sistemik, bukan insiden kecil, karena kalau kontrol internal bisa jebol di hal sederhana, risiko kebocoran di pos yang lebih besar jadi sulit ditebak.

Kerusakan juga terlihat dari kualitas aset yang sudah seperti reruntuhan. Piutang usaha dan piutang lain-lain tercatat Rp672,29 miliar secara bruto, tapi dicadangkan kerugian Rp611,48 miliar, kira-kira 90% piutang dianggap tidak tertagih. Ini bukan sekadar piutang telat, ini tanda bahwa aset lancar yang seharusnya jadi sumber kas ternyata tidak bisa diandalkan. Di sisi lain, ada utang pajak Rp264,18 miliar, lalu pinjaman kepada pemegang saham Bio Farma mencapai Rp750,90 miliar, sekitar 51% dari total kewajiban Rp1,47 triliun. Polanya kebaca, INAF bertahan pakai oksigen pinjaman grup, bukan karena cash generation dari bisnis.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Di laporan laba rugi, masalahnya bukan cuma rugi bersih, tapi rugi di level paling dasar. Penjualan 9 bulan 2025 sebesar Rp133,73 miliar, namun beban pokok membuat laba bruto menjadi negatif Rp11,57 miliar, dengan margin laba kotor sekitar minus 8,6% dan sedikit lebih buruk daripada 2024 yang minus 8,5%. Artinya perusahaan menjual barang dalam kondisi gross loss, bahkan sebelum biaya kantor, biaya pemasaran, dan biaya administrasi dihitung. Di situ juga muncul mismatch yang bikin investor makin curiga, penerimaan kas dari pelanggan Rp96,94 miliar, lebih rendah dari penjualan Rp133,73 miliar, jadi ada gap arus uang yang tidak masuk utuh ke kas.

Yang paling membuat pasar merinding adalah keruntuhan organisasi. Jumlah karyawan tetap turun dari 788 orang per akhir 2024 menjadi 21 orang per September 2025, turun 97,3%, bahkan sempat disebut hanya 3 orang di pertengahan September sebelum naik lagi. Ini bukan efisiensi normal, ini sinyal perusahaan sedang memotong tubuhnya sendiri supaya tidak kehabisan napas. Dalam bisnis farmasi, pemangkasan sedalam ini biasanya menghantam kemampuan eksekusi, mulai dari produksi, quality assurance, quality control, compliance, sampai penagihan piutang dan pengendalian gudang. Jadi walau revenue turun tipis, kemampuan mempertahankan revenue ke depan jadi tanda tanya besar karena mesin organisasinya sudah tidak utuh.

Terakhir, pola bertahan hidupnya juga terlihat dari belanja modal yang nyaris berhenti. Capex pembelian aset tetap tahun ini Rp0, jadi tidak ada cerita ekspansi atau bahkan perawatan agresif. Aset terbesar yang tersisa adalah aset tetap neto Rp327,71 miliar, sekitar 56,3% dari total aset, dan ini menggambarkan struktur yang berat di aset fisik tetapi lemah di modal kerja. Revenue sendiri didominasi segmen lokal over-the-counter sekitar Rp59,16 miliar atau 44,2% dari total penjualan, jadi mesin pendapatan yang tersisa pun sebenarnya masih kecil untuk menopang beban utang dan lubang modal kerja.

Jadi kalau investor mau memahami kejatuhan INAF, dasar utamanya adalah tata-kelola bermasalah dan indikasi fraud membuat kualitas aset ambruk, piutang banyak yang jadi angka di kertas saja, modal kerja bolong Rp1,09 triliun, ekuitas berubah negatif Rp890,94 miliar, arus kas operasi tetap negatif Rp179,35 miliar, jalur distribusi utama lewat IGM runtuh sampai pailit, lalu organisasi dipangkas ekstrem sampai tinggal puluhan orang. Di level ini, INAF lebih cocok dibaca sebagai studi kasus risiko kelangsungan usaha dan risiko eksekusi, bukan saham defensif farmasi. Kalau suatu hari INAF pulih, pemicunya bukan sekadar revenue naik, tapi tiga hal sekaligus, isu hukum dan tata-kelola harus benar-benar selesai, restruktur utang harus berjalan, dan arus kas operasi harus balik positif. Tanpa itu, perbaikan laba rugi cuma terlihat seperti kosmetik di atas fondasi yang masih retak.

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx

Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU

Read more...

1/8

testestestestestestestes
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Farmasi: Anomali Pelanggan dan Karyawan

Lanjutan dari postingan sebelumnya di External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345

$INAF menjadi saham farmasi dengan pola paling chaotic karena per 30 September 2025 jumlah karyawannya tinggal 21 orang. Itu bukan penurunan normal, itu jatuh -97,33% dari 788 orang per akhir 2024, sempat ditekan sampai 3 orang di pertengahan September lalu naik lagi 18 orang. Kalau sebuah emiten farmasi sampai harus mengubah tubuh organisasinya secepat itu, investor perlu menganggapnya alarm likuiditas dan alarm eksekusi. Pabrik boleh ada di Cibitung Bekasi, tetapi tanpa mesin organisasi yang utuh, pabrik itu berubah dari aset produktif jadi beban tetap. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Di saat emiten lain merapikan efisiensi beberapa persen, INAF sudah masuk mode bertahan hidup. Inilah alasan kenapa membaca sektor farmasi tidak cukup dari cerita produk, tetapi dari pola pelanggan, pola vendor, dan pola tenaga kerja. Ketika pola tenaga kerja sudah berantakan, biasanya modal kerja ikut ketarik, utang dagang menumpuk, dan kapasitas produksi jadi tidak stabil. Jadi sebelum investor berdebat valuasi, INAF lebih masuk dibaca sebagai studi kasus risiko, bukan saham defensif.

Kalau fokus ke pola pelanggan, sektor ini kebagi dua kubu yang kontras. Kubu pertama adalah emiten yang sangat bergantung pada satu distributor besar, sampai level yang ekstrem. DVLA mencatat PT Anugerah Pharmindo Lestari menyumbang Rp1,19 triliun atau 74% dari pendapatan dengan growth nyaris datar +0,05%, lalu $MERK juga bergantung pada nama yang sama sebesar Rp548,37 miliar atau 67% dengan growth +7,49%.

Ini bisa dibaca dua sisi, positifnya karena saluran distribusi jelas dan repeat order cenderung stabil, tapi negatifnya karena jalur satu titik maka bisa mengunci nasib, kalau terjadi perubahan term dagang, perubahan strategi distributor, atau gangguan hubungan, dampaknya langsung terasa ke revenue, piutang, sampai persediaan. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Kubu kedua adalah emiten yang lebih menyebar pelanggannya, dan ini biasanya lebih tahan guncangan. KAEF, $KLBF, MDLA, SOHO, PEVE, dan TSPC menyatakan tidak ada pelanggan tunggal di atas 10% dari total pendapatan. Ini green flag untuk risiko konsentrasi pelanggan, karena revenue tidak tergantung satu pintu. Namun, konsekuensinya sering muncul di tempat lain, biasanya lewat kebutuhan modal kerja lebih besar, biaya distribusi, atau kompleksitas manajemen channel, jadi tetap perlu dibaca bareng model bisnisnya.

Di tengah dua kubu itu, ada kelompok yang kelihatannya aman di permukaan, tapi sebenarnya terkunci lewat transaksi pihak berelasi. PEHA menjual Rp392,85 miliar atau 57,5% ke PT Kimia Farma Trading and Distribution dengan growth +1,17%, lalu ada lonjakan besar ke PT Anugrah Argon Medica Rp185,63 miliar atau 27,1% dengan growth +82,79%.

SIDO melaporkan 46,12% atau Rp1,25 triliun penjualan ke pihak berelasi, dan IKPM bahkan 64,1% lewat PT Distriversa Buanamas. Ini bukan otomatis buruk, kadang justru bikin demand lebih terjamin, tapi red flag muncul saat investor melihat terlalu banyak kenyamanan di satu ekosistem, karena pricing power, termin, sampai risiko tata-kelola ikut menempel di hubungan grup. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Kalau dilihat statistik angka pelanggan besar yang muncul, ketimpangannya lebar. Nilai maksimum Rp1,19 triliun, minimum Rp13,10 miliar, rata-rata Rp298,10 miliar, median Rp174,53 miliar. Rata-rata jauh di atas median artinya ada outlier besar yang mengangkat rerata, yakni model distributor raksasa seperti DVLA dan MERK, sementara pemain kecil seperti OBAT BRIG terlihat punya kontrak jauh lebih kecil tapi secara persentase tetap signifikan. BRIG misalnya punya dua pelanggan di atas 10% masing-masing Rp13,54 miliar 11,8% dan Rp13,10 miliar 11,4%, satu tumbuh +28,58% dan satu turun -2,60%, ini red flag khas emiten kecil karena 1 sampai 2 kontrak saja bisa mengubah grafik setahun.

Sekarang tarik ke pola tenaga kerja dan lokasi, karena ini sering lebih jujur daripada slogan. Spektrum skalanya ekstrem, KLBF 12.784 karyawan, KAEF 9.767, TSPC sekitar 4.400, lalu SIDO 3.560, VICI 2.558, PYFA 2.341, SGH 2.313, MDLA 2.268, sampai MERK 369 dan BRIG 224, sementara INAF 21. Di sisi growth, hal positif biasanya muncul di pertumbuhan yang masuk akal dan punya alasan operasional, PYFA +20,48% karena ekspansi besar ke Australia lewat akuisisi Probiotec, BRIG +18,52% karena ekspansi grup, PEVE +2,92% dengan jaringan 34 cabang yang cenderung stabil.

Namun red flag paling nyata tetap INAF sebab jumlah karyawan anjlok -97,33% karena ini bukan efisiensi, ini dislokasi organisasi, sementara MDLA -8,25% memberi sinyal kontraksi tenaga kerja di saat tetap ada ekspansi aset, sehingga investor perlu lebih teliti membaca kualitas pertumbuhan dan produktivitasnya. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Hal positif di sektor ini muncul saat basis pelanggan tersebar, atau ketergantungan besar tapi stabil dan tidak memakan margin, ditambah struktur organisasi yang konsisten. Pola red flag muncul saat konsentrasi pelanggan terlalu ekstrem, apalagi kalau bertemu dengan transaksi pihak berelasi yang dominan, dan makin parah ketika disertai kontraksi tenaga kerja yang tidak wajar seperti INAF. Buat investor, cara cepat membaca sektor farmasi itu bukan mulai dari narasi produk, tapi mulai dari tiga peta yang paling tidak bisa bohong, peta konsentrasi pelanggan, peta transaksi pihak berelasi, dan peta tenaga kerja. Setelah tiga peta itu aman, barulah diskusi margin, arus kas, dan valuasi jadi masuk akal.

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx

Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU

Read more...

1/10

testestestestestestestestestes
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

belum pernah mengalami yg namanya delisting, tapi percaya aja bumn sih kayakny sulit delis soalny mmbawa citra negara $WIKA $INAF ya semoga aja lah walau ada indikasi delis uang investor ada peluang di kembalikan serugi ruginya asal ga hilang semua $TECH

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$GAMA $HOME $INAF

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkapkan 70 emiten berpotensi menghadapi delisting atau penghapusan pencatatan saham pada 2026. Emiten-emiten tersebut tercatat telah mengalami suspensi perdagangan saham selama enam bulan atau lebih hingga akhir 2025.
Daftar tersebut mencakup perusahaan dari berbagai...

katadata.co.id

katadata.co.id

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$IPPE $INAF $PPRO

pengumuman lampiran potensi delisting pertanggal 30 desember 2025.

bagi pihak pihak yg berkepentingan terhadap perseroan, dapat menghubungi sekretaris perusahaan masing masing.

semoga bermanfaat 💪💪

1/5

testestestestes
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

IDXChannel - PT Indofarma Tbk (INAF) mengintensifkan langkah perbaikan kinerja keuangan seiring dengan penurunan rugi bersih perseroan dari Rp166,48 miliar menjadi Rp127 miliar hingga September 2025.
Direktur Utama INAF, Sahat Sihombing mengatakan, perseroan fokus pada pengendalian biaya secara keta...

www.idxchannel.com

www.idxchannel.com

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

IDXChannel - PT Indofarma Tbk (INAF) memasang target pertumbuhan pendapatan sebesar 112 persen pada 2026, dari realisasi prognosis di 2025 ini.
Target tersebut merupakan bagian dari strategi pemulihan bisnis setelah tekanan kinerja dalam beberapa tahun terakhir.
Optimisme Badan Usaha Milik Negara (B...

www.idxchannel.com

www.idxchannel.com

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$INAF
Indofarma (INAF) menargetkan kenaikan pendapatan 112% pada 2026 dengan fokus pada efisiensi, restrukturisasi, dan dukungan dari Bio Farma serta BP BUMN untuk memulihkan kinerja dan keluar dari kerugian.

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$INAF barangkali ada yang mau jual, DM yaa

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

@MuhammadAlfarouqi ya mari kita liat aja.

buva dan mina termasuk Short Fomo momentum apa emang long term.

gw sih ingetin aja pas covid saham $INAF $KAEF $IRRA sama kyk saham2 buva dan mina.

pas news jokowi di suntik vaksin. langsung ARB trus dari 7800 sampe 1000 perak. skrg inaf malah cuman 126 perak.

gw salah satu investor yang berhasil CUAN di INAF avg 3500 jual di 7800 paling pucuk.

lu mesti tahu saham2 yang sekedar short momentum dan long term.

Read more...
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$KLBF adalah emiten pertama saya dulu waktu terjun ke dunia perdagangan. kalo dilihat harganya dulu dan dibandingkan dengan harga sekarang rasanya gimana ya 🫣 tapi masih layak dipelihara jika dibandingkan dengan duet maut $INAF $KAEF 🤡

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Indofarma Tbk. - INAF
Laporan Keuangan
- Neraca Keuangan
- Laporan Laba Rugi
- Laporan Arus Kas
- Laporan Perubahan Ekuitas

Kunjungi dan follow kami untuk laporan lengkap fundamental emiten!

Sumber Data: https://cutt.ly/1ty7cxBX

$INAF

1/4

testestestes

$INAF adalah perusahaan terbaik

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

barangkali ada yg mau nampung $INAF, cuma ada 1 lot. mau ngosongin RDN buat migrasi ke syariah.

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$INAF secercah cahaya?

$PEHA

Selamat malam sobat proletar, wong cilik, kaum pinggiran dan khususny rakyat jelata yang selalu teraniaya oleh bandar2 borjuis!!

Kembali kita bertemu lagi bbrp hari sebelum tutup bursa yang hanya tinggal menghitung hari (30 hari)

Di akhir tahun ini mari kita melihat suatu harapan baru, sebuah langkah maju, menutup tahun dengan keuntungan yang tidak semu

Dengan berbagai berita berseliweran mengenai restrukturisasi Indofarma $INAF, Dony Oskaria seorang petinggi di Danantara mengatakan akan terjadi peleburan INAF ke dalam Kimia Farma $KAEF.

Kita mengetahui restrukturisasi bukanlah perkara sederhana, kita pun belum mengetahui bagaimana teknis penggabungan usaha INAF ke dalam KAEF. Apakah mungkin nanti terjadi merger anak usaha antar Phapros dan Indofarma agar semakin menguatkan induk usaha

Phapros juga merupakan bagian daripada Kimia Farma, perusahaan yang didirikan di zaman kolonial dengan nama NV Pharmaceutical Processing yg jg bagian dari Oei Tiong Ham Concern (OTHC) ini, juga dipercaya dalam distribusi vaksin di covid lalu

Kabar baiknya adalah belum pernah ada perubahan susunan direksi di Phapros dari Danantara yang mengindikasikan kinerja yang baik dan tercermin dari laporan keuangan Phapros yang terus membaik medio 2025 ini

Kita berharap Phapros akan melaju kencang, disertai jg dengan kenaikan harga sahamny utk kemakmuran seluruh pemegang sahamny. Semua demi kemajuan Biofarma sebagai holding kesehatan dan untuk menghadirkan jaman keemasan Indonesia di bidang Healthcare scr menyeluruh sehingga bs menjadi macan di bidang kesehatan di Asia Tenggara. HIDUPLAH DANANTARA JAYALAH INDONESIAKU!!

Sekian

@andya93 - kaya bukan tanda mulia, miskin bukan tanda hina

Read more...

1/5

testestestestes
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy