


Volume
Avg volume
Perseroan pertama kali didirikan dengan nama PT Fortune Indonesia Advertising Company pada 5 Mei 1970 berdasarkan akta Dian Paramita Tamzil, S.H. pengganti Notaris Djojo Mulyadi, S.H., No. 5. Pada saat itu Mochtar Lubis yang merupakan seorang novelis dan tokoh jurnalistik senior melihat adanya kesempatan untuk lebih mengembangkan dunia periklanan dalam negeri seiring keputusan Fortune International Australia untuk mendirikan Fortune Advertising and Management Consultants di Indonesia.
$NELY $FORU $GPRM
baca berita : https://cutt.ly/athUfcVH

KABARBURSA.COM - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah menaruh perhatian khusus terhadap pola pergerakan harga dan transaksi pada enam saham. Emiten yang masuk dalam radar pengawasan tersebut yakni PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI), PT Victoria Insurance Tbk (VINS), PT PAM Mineral Tbk (N...

www.kabarbursa.com

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memberikan perhatian khusus terhadap pergerakan enam saham emiten pada perdagangan hari ini. Otoritas bursa mengumumkan adanya peningkatan harga di luar kebiasaan atau Unusual Market Activity (UMA). Langkah ini diambil sebagai bagian dari upa...

stockwatch.id
Sayap Patah Sang Rajawali (End)
Bagian 1 - Lahirnya Sang Rajawali https://stockbit.com/post/24941654
Bagian 2 – Skandal Negeri Jiran https://stockbit.com/post/24967224
Bagian 3 - Adu Mekanik Sang Rajawali https://stockbit.com/post/24998072
Bagian 4 – B50, Sebuah Kesempatan dengan Risiko https://stockbit.com/post/25088846
Bagian 5 – Merajut Kembali Sayap yang Terluka https://stockbit.com/post/25169136
Bagian 6 – Rajawali Menjadi Bijak, Bersiap untuk Mengepak
Pelan tapi pasti, grafik keuangan Eagle High Plantations (BWPT) mulai menunjukkan lekukan yang berbeda. Setelah bertahun-tahun menjadi contoh klasik “rajawali yang tersesat”, top line perseroan kini mulai menguat, ditopang kombinasi antara strategi pemupukan lebih agresif dan disiplin sejak sekitar kuartal III 2021 serta siklus harga CPO yang membaik (dalam struktur biaya perkebunan sawit, porsi pemupukan bisa mencapai kurang lebih 30% dari total COGS). Saat harga CPO global bergerak di level relatif tinggi pasca pandemi, revenue perusahaan menjadi all time high.
Laporan keuangan 2023 dan update 2024 mencerminkan perubahan itu. Produksi CPO BWPT sempat naik sekitar 8% secara tahunan hingga kuartal III 2023, dengan volume sekitar 260–320 ribu ton per tahun, meski sempat terdampak El Niño di ujung tahun. Dalam Investor Update Q3 2025, manajemen melaporkan angka produksi CPO sekitar 222.580 ton pada satu periode dibandingkan 261.215 ton di periode pembanding, dengan rata-rata harga jual CPO (ASP) yang masih cukup atraktif untuk menjaga pendapatan dan laba operasi positif.
Di belakang layar, tahun 2024–2025 diisi dengan pekerjaan kotor yang tidak selalu tampak di headline: restrukturisasi anak-anak perusahaan yang merugi. Melalui konsolidasi, efisiensi, dan dalam beberapa kasus penataan ulang struktur kepemilikan, manajemen berupaya memastikan bahwa entitas yang “minus minus” tidak lagi menjadi beban berkelanjutan dalam laporan keuangan konsolidasi. Riset analis mencatat bahwa agenda restrukturisasi ini menjadi bagian penting dari narasi turnaround. Dan menjadikannya Langkah kecil ke kuasi reorganisasi untuk membersihkan defisit historis di tingkat ekuitas dan memperbaiki kualitas laba konsolidasi.
Di level pasar modal, drama lain berlangsung, sejak 2023, BWPT beberapa kali mewacanakan buyback sebagai sinyal bahwa manajemen menilai harga saham undervalued, namun pelaksanaannya terganjal persoalan klasik, RUPS yang tidak kuorum, akibat perwak]ilan FELDA yang selalu absen RUPS. Direktur utama justru tercatat rutin mencicil pembelian saham BWPT di pasar. Data kepemilikan dan laporan kepemilikan orang dalam menunjukkan tren akumulasi bertahap oleh manajemen puncak.
Di sisi tata kelola, susunan komisaris juga menjadi catatan tersendiri. Komisaris BWPT saat ini diketahui juga menjabat sebagai komisaris di (ex) emiten Peter Sondakh lain seperti $FORU dan $ARCI. Keberadaan komisaris dalam group yang sama memberikan sinyal kemungkinan adalanya corporate action yang sama di emiten sebelumnya, divestasi (FORU dan SMMT).
Satu lagi lapisan penting dalam cerita kebangkitan BWPT adalah bayang-bayang regulasi baru Eropa, EU Deforestation Regulation (EUDR). Aturan ini mewajibkan semua produk berbasis sawit yang masuk ke Uni Eropa memiliki jejak pasokan yang bebas deforestasi setelah 31 Desember 2020, lengkap dengan bukti geolokasi kebun dan uji tuntas hak asasi manusia. Bagi BWPT ini adalah adalah tantangan sekaligus peluang, transparansi rantai pasok justru bisa mengunci akses premium di tengah ketatnya regulasi global.
Dalam konteks inilah agresivitas BWPT mengejar sertifikasi RSPO menjadi sangat strategis, bukan hanya kosmetik. Sebagai anggota RSPO, BWPT mencatat dalam dokumen Annual Communication of Progress (ACOP) 2024 bahwa perusahaan menargetkan 100% sertifikasi RSPO untuk seluruh estate dan pabrik pada tahun 2026, termasuk rencana sertifikasi skema plasma dan pemasok TBS dalam horizon yang sama. Data pemantauan keberlanjutan independen SPOTT menunjukkan bahwa per 2024 sekitar 24–25% dari total landbank BWPT (sekitar 34.870 ha dari 143.557 ha) telah tersertifikasi RSPO, dan 3 dari 7 pabrik (sekitar 42,9%) sudah mengantongi sertifikat RSPO, dengan rencana ekspansi sertifikasi yang konsisten setiap tahun. Dalam laporannya, BWPT menyebut secara eksplisit agenda, melanjutkan proses sertifikasi sesuai time-bound plan, memperkuat sistem digital PRISMA untuk ketertelusuran, dan melakukan gap analysis terhadap revisi standar RSPO 2024 semua ini selaras dengan kebutuhan pembuktian keberlanjutan yang akan dituntut EUDR.
Di tengah semua ini, suhu konflik Put Option dengan FELDA perlahan mulai mencair. Setelah rentetan arbitrase dan proses di SIAC dan SICC, kehadiran perwakilan FELDA dalam RUPS terakhir BWPT dibaca sebagai tanda, bukan berarti sengketa selesai, tetapi komunikasi pemegang saham besar dengan manajemen telah kembali ke kanal formal yang sehat. Di ruang RUPS, kursi perwakilan FELDA yang dahulu sering kosong kini terisi.
Dari sini, imajinasi pasar bergerak ke dua skenario besar. Pertama, BWPT benar-benar melakukan turnaround fundamental, produksi membaik, laba stabil, neraca dibersihkan lewat kuasi reorganisasi, anak usaha merugi dirapikan; lalu, setelah rajawali tampak sehat dan cantik di atas kertas, ia dipoles untuk dijual ke pihak lain seperti emiten PS lainnya (¿). Atau, skenario harga saham “digoreng” naik tinggi, didorong kombinasi cerita turnaround, sentimen biodiesel, dan aksi manajemen, lalu momentum itu dipakai untuk menyusun kesepakatan baru terkait Put Option dengan FELDA. Di ingatan pasar, angka lama masih membayang: FELDA dulu masuk di valuasi sekitar 505,4 juta dolar AS, atau kurang lebih ekuivalen harga sekitar 576 rupiah per lembar menurut berbagai perhitungan waktu itu.
Entah mana yang kelak terjadi, satu hal sudah berubah Sang Rajawali menajdi lebih bijak untuk kembali mengepak.
$BWPT

@Irsydss ya ini entar turun lagi 1700. Nga masalah kamunya mancing buat exit likuiditas, tapi yang beli di 1900 2000 nga kasian anda ke mereka @Irsydss $FORU