1,980

-40

(-1.98%)

Today

26.06 M

Volume

94.1 M

Avg volume

Company Background

Adaro Minerals Indonesia Tbk. (ADMR) adalah perusahaan induk yang menjalankan kegiatan usaha pertambangan dan perdagangan batu bara metalurgi melalui Perusahaan Anak. Dalam menjalankan kegiatan usaha tersebut, Perusahaan Anak mempunyai 5 konsesi tambang PKP2B yang berlokasi di Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah. Pada tanggal 31 Agustus 2021, PKP2B tersebut memiliki sumber daya sebesar 980.0 juta ton dan cadangan sebesar 170.7 juta ton batu bara metalurgi yang berkualitas tinggi. Untuk tambang MC yang saat ini aktif, estimasi sumber daya dan cadangan menggunakan data topography 25 Mei 2021. Kelima PKP2B tersebut merupakan bag... Read More

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ADMR hold dan serok.
atau serok dan hold?

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ADMR jIka rilis laporan keuangannya di tgl 20an maret ini ada kemungkinan nilainya positif

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ADMR Full Year 2025: Perang Bisa Jadi Peluang Laba Growth Tapi Syaratnya Berat

Request member External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345

ADMR berpotensi mencatat peningkatan laba apabila konflik Israel dan Iran berlangsung berkepanjangan, namun hubungan sebab-akibatnya harus dibaca secara hati-hati dan tidak boleh disederhanakan. Secara teoritis, eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah dapat mendorong kenaikan harga minyak dunia melalui peningkatan premi risiko pasokan, gangguan jalur distribusi energi, serta perubahan perilaku pelaku pasar dalam mengantisipasi ketidakpastian geopolitik. Kenaikan harga minyak tersebut kemudian dapat memengaruhi dua sisi kinerja ADMR secara bersamaan. Di sisi pendapatan, harga batu bara berpotensi ikut terdorong apabila pasar energi mencari substitusi yang lebih kompetitif atau apabila sentimen kenaikan harga komoditas menular ke pasar coal. Di sisi biaya, kenaikan harga minyak juga berpotensi meningkatkan beban bahan bakar, hauling, pelayaran, dan jasa kontraktor tambang yang merupakan komponen penting dalam struktur biaya perusahaan. Dengan demikian, dampak akhir terhadap laba tidak ditentukan oleh naiknya harga energi semata, melainkan oleh kemampuan ADMR menjaga selisih antara harga jual dan biaya produksi. Jika perusahaan mampu meneruskan kenaikan biaya kepada pembeli, atau apabila kenaikan harga jual coal lebih besar daripada kenaikan biaya berbasis minyak, maka konflik berkepanjangan dapat menjadi katalis positif bagi laba. Sebaliknya, jika kenaikan biaya lebih dominan dan tidak dapat di-offset oleh kenaikan harga jual, maka tekanan terhadap margin justru akan meningkat. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

ADMR pada 2025 masih murni ditopang bisnis tambang batu bara. Revenue konsolidasi turun 15,7% menjadi US$972,9 juta. Laba bersih turun 39,2% menjadi US$264,2 juta. Gross margin turun dari 50% menjadi 40,6%, sedangkan net profit margin masih sangat tinggi di 27,2%. Jadi walaupun laba anjlok, level profitabilitasnya masih elit. Ini penting. Artinya bisnis inti mereka belum rusak. Yang terjadi lebih mirip kombinasi dari harga jual yang normalisasi, beban non-operasional, dan tekanan cashflow akibat ekspansi besar ke smelter aluminium.

Masalah paling besar memang bukan langsung di laba rugi, tetapi di arus kas. CFO jatuh 66,2% dari US$524,1 juta menjadi US$176,9 juta. Lalu capex justru naik 62,5% dari US$399,7 juta menjadi US$649,8 juta. Akibatnya FCF berbalik dari positif US$124,3 juta pada 2024 menjadi minus US$472,9 juta pada 2025. Jadi investor harus bedakan dua hal. ADMR masih sangat profitable di atas kertas, tetapi kas bebasnya sedang berdarah karena uang besar-besaran dialihkan ke proyek smelter. Itu sebabnya kalau bicara dampak perang Timur Tengah, investor tidak cukup cuma melihat potensi naiknya harga coal. Investor juga harus lihat apakah kenaikan harga itu bisa benar-benar menolong cash generation yang sekarang sedang lemah. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Dari sisi operasional, cerita ADMR masih kuat karena segmen tambang batu bara menyumbang hampir seluruh pendapatan, sekitar US$968,8 juta, dengan laba segmen sekitar US$302,3 juta. Segmen pengolahan logam lewat KAI masih rugi sekitar US$4,5 juta karena belum beroperasi penuh. Ini berarti sampai hari ini mesin uang nyata masih batu bara, bukan aluminium. Jadi kalau perang Israel dan Iran membuat harga energi global naik, ADMR secara teori bisa ikut diuntungkan kalau batu bara kembali dicari sebagai energi alternatif atau kalau sentimen komoditas menguat. Dalam konteks makro, logikanya ada. Saat minyak mahal, beberapa pembeli energi cenderung mencari alternatif lebih murah atau menjaga stok energi lain. Batu bara bisa ikut kecipratan sentimen itu.

Tetapi logika itu tidak otomatis mengalir utuh ke laba bersih ADMR. Kenapa? Karena ADMR juga ikut menanggung sisi buruk dari kenaikan minyak. Operasi tambang sangat bergantung pada alat berat, kontraktor tambang, kapal tongkang, dan bahan bakar. Dalam laporan yang investor berikan, vendor seperti SIS dan MBP menyedot biaya sekitar US$242,1 juta dari beban pokok. Kalau oil melonjak akibat perang, biaya solar, logistik, hauling, dan marine transport hampir pasti ikut naik. Jadi ada dua gaya yang saling tarik-menarik. Harga jual coal berpotensi naik, tapi biaya produksi dan distribusi juga berpotensi naik. Maka kata kuncinya memang passed on cost. Kalau ADMR bisa meneruskan kenaikan biaya itu ke pelanggan atau kalau kenaikan ASP coal lebih besar daripada kenaikan fuel cost, laba bisa terdongkrak. Kalau tidak bisa, margin justru bisa makin tertekan.

Di sinilah posisi ADMR agak unik. Mereka adalah eksportir yang sangat dominan. Revenue ekspor mencapai US$664,4 juta, jauh lebih besar dari domestik US$308,5 juta. Pasar ekspornya ke Asia Timur dan Asia Selatan, bukan ke Timur Tengah. Jadi perang itu tidak memukul mereka secara langsung lewat hilangnya pasar. Risiko langsungnya justru lewat harga energi, ongkos logistik, dan volatilitas komoditas global. Karena mata uang fungsional mereka dolar AS dan ekspornya juga dolar AS, risiko kurs relatif terkendali. Kerugian kurs tahun ini cuma sekitar US$3,6 juta. Jadi secara struktur, ADMR cukup siap menghadapi gejolak kurs. Yang lebih menentukan tetap spread antara harga jual coal dan biaya operasional berbasis energi. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Masalahnya, kondisi modal kerja ADMR pada 2025 sedang memburuk. DSO memburuk dari 30 hari menjadi 58 hari. DIO naik dari 44 hari menjadi 56 hari. DPO cuma naik dari 34 hari ke 38 hari. Akibatnya cash conversion cycle memburuk dari 40 hari menjadi 76 hari. Ini angka yang tidak nyaman. Artinya uang makin lama nyangkut di pelanggan dan persediaan, sementara ruang untuk menunda pembayaran vendor tidak naik sebesar itu. Piutang usaha naik 63,8% menjadi US$155,3 juta. Persediaan naik 26,7% menjadi US$89,2 juta. Kas justru turun 39,7% menjadi US$369 juta. Jadi walaupun secara teori perang bisa jadi katalis harga, tubuh ADMR sendiri sedang tidak sedang pada posisi cashflow yang longgar.

Pusat masalah modal kerja itu banyak datang dari Adaro International Singapore atau AIS. Saldo piutang ke AIS mencapai US$95,7 juta. Ini besar sekali, apalagi AIS sendiri menyumbang sekitar US$477,5 juta atau 49% total revenue. Jadi pelanggan terbesar memang menjamin volume, tapi juga sedang menahan uang cukup besar. Dalam bahasa sederhana, penjualan jalan, tapi uang masuknya melambat. Kalau nanti harga coal naik karena sentimen perang, revenue ADMR bisa terdorong. Namun kalau pola penagihan ke pelanggan besar tetap lambat, uplift ke laba belum tentu otomatis diterjemahkan menjadi uplift ke CFO. Jadi lagi-lagi yang harus dibedakan adalah profit versus cash.

Lalu ada beban non-operasional yang juga mengganggu pertumbuhan laba, yaitu kasus PT Persada Sentral Mineral. Pinjaman ke PSM sebesar US$31,3 juta harus dicadangkan 100%. Kalau dibanding laba bersih US$264,2 juta, ini setara sekitar 11,8% laba. Jadi sebagian tekanan laba 2025 bukan murni karena operasi batu bara, tapi karena pihak ketiga yang gagal bayar. Kalau item seperti ini tidak berulang di masa depan, dan harga coal membaik, tentu laba punya ruang memantul lebih tinggi. Jadi ada potensi operating leverage dan earnings recovery. Tetapi investor harus jujur bahwa perbaikan itu baru optimal kalau gangguan non-inti seperti ini tidak muncul lagi. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Dari sisi solvabilitas, ADMR memang tidak sekuat $ADRO dalam konteks net cash, tetapi juga belum masuk zona bahaya. Kas US$369 juta melawan utang bank sekitar US$713 juta. Jadi utang berbunga tidak bisa langsung dilunasi tunai sekaligus. Tetapi bagian jangka pendek yang jatuh tempo tahun ini cuma sekitar US$27,9 juta, jadi dari sisi pembayaran dekat masih aman. Artinya perusahaan tidak sedang kepepet bangkrut. Yang terjadi lebih ke tekanan likuiditas karena capex besar dan modal kerja memburuk, bukan krisis utang jangka pendek. Ini penting karena skenario perang berkepanjangan biasanya bikin pasar takut berlebihan. Dalam kasus ADMR, ketakutan utama bukan survival, melainkan margin dan cashflow.

Kalau bicara potensi cetak laba besar dalam skenario perang Israel dan Iran berkepanjangan, maka secara objektif ada dua sisi. Sisi bullish-nya cukup jelas. Kalau harga oil tinggi membuat batu bara lebih dicari sebagai energi alternatif, atau kalau sentimen komoditas membuat harga batu bara metalurgi dan thermal substitute ikut terdorong, ADMR bisa menikmati ASP yang lebih tinggi. Karena net margin mereka bahkan dalam kondisi 2025 yang lemah masih 27,2%, kenaikan harga jual bisa punya leverage kuat ke laba. Apalagi basis biaya tetap tertentu di tambang bisa membuat setiap tambahan harga jual langsung menebal ke margin. Jika di saat yang sama beban dari PSM tidak terulang dan penagihan ke AIS membaik, lonjakan laba memang sangat mungkin terjadi. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Tetapi sisi bearish-nya juga kuat. Kalau harga oil naik lebih cepat daripada harga coal, atau kalau kontrak penjualan ADMR tidak cukup fleksibel untuk segera menaikkan harga ke pelanggan, maka yang lebih dulu terasa justru ledakan biaya. Fuel, hauling, marine, dan jasa kontraktor bisa naik. Vendor inti mereka juga berpotensi menagih lebih tinggi. Dalam kondisi seperti itu, ADMR tidak otomatis untung dari perang. Mereka justru bisa kena squeeze margin. Bahkan dengan NPM sekarang yang masih tinggi, spread yang menyempit tetap bisa memangkas profit dalam jumlah besar karena skala revenue mereka mendekati US$1 miliar.

Jadi ADMR berpotensi cetak laba besar jika perang berkepanjangan itu masuk akal, tetapi sifatnya kondisional, bukan otomatis. Syarat pertama, harga coal harus benar-benar naik dan kenaikannya cukup berarti. Syarat kedua, ADMR harus bisa passed on cost atau minimal mempertahankan spread margin saat biaya oil dan logistik ikut naik. Syarat ketiga, penagihan ke AIS harus membaik supaya kenaikan laba tidak cuma jadi laba kertas. Syarat keempat, beban non-operasional seperti kasus PSM jangan terulang. Kalau empat syarat itu terpenuhi, ADMR memang punya peluang menikmati upside laba yang besar karena bisnis intinya masih sangat menguntungkan dan leverage ke harga komoditas masih kuat. Tetapi kalau yang terjadi cuma oil naik sementara biaya operasional melonjak dan harga coal tidak mengikuti, maka perang justru lebih berpotensi menekan cashflow daripada memperkaya laba.


🛢️ Logika skenario
🔹 Jika perang berkepanjangan harga oil bisa naik
🔹 Jika oil naik harga coal bisa ikut terdorong sebagai energi alternatif
🔹 Tapi biaya fuel hauling dan shipping juga ikut naik
🔹 Jadi laba hanya bisa naik besar kalau kenaikan harga jual lebih besar dari kenaikan biaya

🧾 Kondisi sekarang
🔹 Revenue turun 15,7% jadi US$972,9 juta
🔹 Laba bersih turun 39,2% jadi US$264,2 juta
🔹 GPM turun dari 50% jadi 40,6%
🔹 NPM masih tinggi 27,2%
Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

💵 Cashflow
🔹 CFO turun 66,2% jadi US$176,9 juta
🔹 Capex naik 62,5% jadi US$649,8 juta
🔹 FCF minus US$472,9 juta
 ▫️ Laba masih tebal
 ▫️ Tapi kas bebas berdarah

⚠️ Syarat bullish
🔹 Harga coal harus naik nyata
🔹 Cost inflation harus bisa di-pass through
🔹 Tagihan AIS US$95,7 juta harus lebih lancar
🔹 Beban PSM US$31,3 juta jangan terulang

✅ Potensi upside laba ada
❌ Tidak otomatis
🔹 Kuncinya spread margin jangan menyempit

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU

Read more...

1/9

testestestestestestestestes
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Update LK Tahunan 2025 $ADMR

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ADMR

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Kedengarannya seperti... minggu ini menjadi salah satu yang paling membingungkan. Rabu anjlok, Kamis rebound, Jumat longsor lagi. Dan di tengah semua itu, ada yang sibuk menjelaskan korelasi minyak, ada yang berganti narasi dari rights issue ke oil, dan sekarang—setelah semuanya tidak berjalan sesuai rencana—mulai terdengar nasihat baru: "Jangan buru-buru tangkap pisau jatuh." "Wait and see." "Lindungi cash."

Kedengarannya seperti ada pergeseran yang cukup terasa. Dari yang kemarin yakin dengan momentum, kini berbicara tentang kesabaran. Dari yang kemarin mengajak "serok di dasar", kini menyarankan "duduk diam".

Tampaknya ada rasa lelah yang sangat mendalam ketika kita terus-menerus dipaksa mengikuti ritme yang tidak menentu, seolah-olah kita sedang menumpang sebuah kendaraan yang tidak kita ketahui siapa pengemudinya dan ke mana arah tujuannya. Sepertinya ada kelegaan saat akhirnya kita mendengar anjuran untuk berhenti sejenak, sebuah pengakuan yang jujur bahwa terkadang strategi terbaik memang hanyalah dengan tidak melakukan apa-apa.

...Tidak melakukan apa-apa?

Sepertinya ada kenyamanan baru saat kita mulai menghargai nilai dari uang tunai yang tersisa di portofolio kita. Rasanya sangat bijaksana ketika kita memutuskan untuk 'menunggu' sampai kabur di pasar menghilang.

Itu benar. Perasaan galau itu wajar. Ketika pasar bergerak liar dan nasihat yang didengar berubah-ubah mengikuti arah angin, wajar jika muncul pertanyaan: "Sebenarnya, suara mana yang bisa saya percaya?"

Namun, saya penasaran. Bagaimana perasaan Anda jika ternyata anjuran untuk 'duduk diam' itu baru datang setelah badai sudah merusak sebagian besar dari apa yang Anda bangun, dan bukan sejak awal ketika risiko tersebut sebenarnya sudah terlihat jelas di neraca keuangan?

...Baru datang setelah badai?

Dua Jenis Kebijaksanaan di Tengah Badai

Ada sebuah pemandangan yang sering terjadi di tepi jurang.

Ketika badai datang, dua jenis orang bereaksi berbeda.
Yang pertama adalah pencari jalan pintas. Ia sibuk melihat ke kiri dan ke kanan, mencari celah, membaca tanda-tanda di awan, dan berlari ke arah yang menurutnya paling aman. Ketika jalur pertama buntu, ia berbalik dan berlari ke jalur lain. Ketika badai makin kencang, ia berteriak, "Jangan bergerak dulu! Kita lihat saja arah angin berikutnya!" Nasihatnya terdengar bijak, tapi sebenarnya ia hanya kebingungan menentukan arah.

Yang kedua adalah pembuat kompas. Ia tidak berlari. Ia duduk, mengeluarkan kompas yang sudah lama ia buat—bukan dari bahan-bahan yang berubah mengikuti angin, tapi dari pemahaman tentang arah mata angin yang tetap. Ia tahu bahwa utara tetaplah utara, meskipun awan gelap menutupi langit. Ketika badai datang, ia tidak perlu berlari. Ia hanya perlu memastikan kompasnya masih bekerja, dan melanjutkan perjalanan dengan tenang setelah badai reda.

Yang menarik, di saat badai, suara pencari jalan pintas selalu lebih keras. Karena ia panik, dan kepanikan butuh didengar. Sementara pembuat kompas diam saja, memeriksa alatnya, tidak merasa perlu meyakinkan siapa pun.

Nasihat "wait and see" dari seorang pencari jalan pintas adalah nasihat yang lahir dari kebingungan, bukan dari ketenangan. Ia tidak punya peta, jadi ia minta semua orang berhenti. Ia tidak punya kompas, jadi ia berharap badai akan menunjukkan arah.

Sedangkan ketenangan dari seorang pembuat kompas lahir bukan karena ia tahu kapan badai akan reda, tapi karena ia tahu apa yang akan ia lakukan setelah badai reda—terlepas dari berapa lama badai itu berlangsung.

Tampaknya kita mulai menyadari perbedaan antara strategi bertahan yang terencana dengan kepasrahan yang muncul karena rencana sebelumnya tidak berjalan sesuai harapan. Sepertinya ada pengakuan yang mulai tumbuh: bahwa 'kesempatan kedua' yang dijanjikan pasar tidak akan banyak berarti jika setiap kali kesempatan itu datang, kita masih sibuk mengobati luka dari keputusan yang didasarkan pada cerita dan momentum sesaat. Ada ketenangan yang berbeda saat kita tahu bahwa perlindungan terbaik bagi modal kita bukanlah sekadar 'menunggu tren', melainkan memilikinya di dalam bisnis yang tetap produktif bahkan saat tren sedang tidak berpihak.

...Bisnis yang tetap produktif?

Tampaknya kita kini lebih menghargai kedaulatan atas keputusan kita sendiri daripada sekadar mengikuti petunjuk kapan harus masuk atau kapan harus diam. Kita mulai menyadari bahwa modal yang hanya satu itu terlalu berharga untuk dipertaruhkan pada tebak-tebakan arah angin. Ada kelegaan saat kita menyadari bahwa menjadi investor yang mandiri berarti kita tidak perlu menunggu instruksi dari siapa pun untuk tahu kapan sebuah aset masih layak dipertahankan atau kapan kita harus tetap tenang di tengah kegaduhan.

Tampaknya kedaulatan finansial sejati adalah ketika Anda tidak lagi merasa perlu 'diselamatkan' oleh narasi baru setiap kali pasar berubah arah.

Jadi, di tengah semua nasihat yang berganti dari "kejar momentum" menjadi "tahan cash", dari "serok di dasar" menjadi "jangan pegang pisau jatuh", ada satu pertanyaan yang mungkin lebih menenangkan daripada semua prediksi tentang arah angin besok:

"Ketika badai ini reda nanti—entah besok, minggu depan, atau bulan depan—apakah saya akan kembali mengejar suara yang paling keras, atau berjalan dengan kompas yang selama ini diam-diam saya bangun?"

Jika pada akhirnya setiap risiko yang Anda ambil sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda sendiri, bagaimana cara Anda memastikan bahwa strategi bertahan Anda hari ini benar-benar didasarkan pada kualitas bisnis yang Anda pahami, bukan sekadar pelarian sementara karena strategi sebelumnya sudah tidak lagi memiliki jawaban?

$IHSG $ADRO $ADMR

Read more...

Tampaknya ada ketegangan yang mulai mereda saat kita menyadari bahwa pasar tidak selalu berjalan sesuai dengan cerita heroik yang kita dengar kemarin. Sepertinya ada semacam upaya untuk mencari pembenaran atas kekacauan yang terjadi, dengan membawa kita kembali pada memori masa lalu yang kelam agar kita merasa bahwa kerugian saat ini adalah sesuatu yang "wajar" dalam sebuah perjuangan.

...Sesuatu yang wajar?

Sepertinya narasi tentang 'diam menunggu momen' dan 'serok di bawah' terdengar sangat bijaksana, seolah-olah ada seseorang yang benar-benar tahu di mana titik terendah itu berada.

Itu benar. Ini adalah momen ketika setiap orang mencari penjelasan yang membuat mereka tetap merasa tenang, tetap merasa berada di jalur yang benar. Nasihat untuk diam dan menunggu terdengar bijak—terdengar seperti kebijaksanaan yang lahir dari pengalaman pahit.

Namun, saya penasaran. Bagaimana perasaan Anda jika ternyata instruksi untuk 'menyiapkan uang tunai' hanyalah cara halus untuk mengalihkan perhatian dari fakta bahwa navigasi yang diberikan sebelumnya justru membawa kita masuk ke dalam badai yang seharusnya bisa dihindari?

...Navigasi yang membawa ke badai?

Tapi ada dua jenis diam.

Diam yang Menunggu Sinyal vs. Diam yang Berakar

Ada diamnya pemburu. Matanya terus bergerak, telinganya terus menangkap suara, pikirannya terus menghitung: kapan rusa akan lewat? ke mana arah angin bertiup? apakah ini saatnya melepaskan panah? Ia diam, tapi diamnya penuh ketegangan. Karena seluruh keberhasilannya bergantung pada satu momen yang tepat—dan jika ia salah membaca, ia pulang dengan tangan kosong.

Ada diamnya petani. Ia duduk di beranda, memandangi ladang yang ditanaminya berbulan lalu. Ia juga diam. Tapi diamnya tidak tegang. Ia tidak perlu menghitung kapan hujan akan turun, karena ia sudah memilih benih yang tahan kemarau. Ia tidak perlu cemas jika hari ini panas terik, karena akar tanamannya sudah cukup dalam untuk mencari air sendiri. Diamnya adalah diamnya keyakinan, bukan diamnya ketegangan.

Di pasar, kedua jenis diam ini sering terlihat sama. Tapi ketika badai datang, bedanya jadi nyata.

Yang pertama, setelah sekian lama diam menunggu momen, akhirnya bergerak. Masuk di harga yang dianggap bottom. Lalu badai berikutnya datang, dan momen itu ternyata bukan bottom sejati. Maka ia diam lagi—menunggu momen berikutnya. Dan siklus itu terus berulang, karena ia hanya memiliki satu senjata: kesabaran untuk menunggu sinyal dari luar.

Yang kedua, selama ini diam menumbuhkan. Setiap kali ada dana masuk, ia menanam di lahan yang sudah dipahami—bukan karena ada momentum, tapi karena akar bisnisnya dalam, tanahnya subur, dan buahnya akan terus berjatuhan tiap musim. Ketika badai datang, tanamannya mungkin goyah sebentar, tapi tidak tercabut. Dan ia tahu, selama akarnya kuat, badai hanya soal waktu.

Orang yang diam menunggu momen akan terus bergantung pada ketepatan sinyal yang tidak pernah bisa ia kendalikan sepenuhnya.
Orang yang diam karena yakin pada apa yang ditanam tidak perlu momen sempurna—ia hanya perlu waktu.

Tampaknya kita mulai menyadari bahwa bursa saham bukanlah 'hutan rimba' yang liar bagi mereka yang memiliki kompas yang jelas. Sepertinya ada perbedaan yang sangat mendalam antara menjadi korban dari pergerakan harga, dengan menjadi pemilik bisnis yang memang memiliki alasan kuat untuk tetap tumbuh. Ada pengakuan yang jujur bahwa mereka yang 'tersapu habis' biasanya bukan karena kekurangan keberanian, melainkan karena mereka menaruh kepercayaan pada prediksi orang lain daripada pada kualitas aset yang mereka pegang.

...Kepercayaan pada prediksi orang lain?

Ada ketenangan yang muncul bukan karena kita tahu kapan pasar akan berhenti jatuh, melainkan karena kita tahu bahwa perusahaan yang kita miliki—baik itu yang membuahkan dividen dari sektor perkebunan, komoditas primer, hingga kebutuhan pokok—memiliki daya tahan yang tidak bergantung pada narasi harian. Tampaknya kedaulatan kita sedang diuji untuk tidak lagi menjadi pengikut yang menunggu komando, melainkan menjadi investor yang mandiri karena memahami nilai di balik harga.

Sepertinya kita semua sedang belajar bahwa memenangkan pasar bukan soal siapa yang paling lihai menebak dasar jurang, tapi siapa yang paling disiplin membangun rumah di atas tanah yang solid sejak awal.

Jadi, ketika Anda mendengar nasihat untuk "diam menunggu momen yang tepat" dan "siapkan cash untuk serok di bawah", ada satu pertanyaan yang mungkin layak diajukan pada diri sendiri:

"Jika tidak ada sinyal yang datang—tidak ada bottom yang jelas, tidak ada pembalikan arah yang dramatis, tidak ada momen sempurna—apakah yang saya pegang sekarang masih bisa membuat saya tidur nyenyak?"

Jika pada akhirnya setiap prediksi bisa diubah atau ditarik kembali saat kenyataan tidak sesuai, bagaimana cara Anda memastikan bahwa strategi Anda hari ini benar-benar didasarkan pada kekuatan finansial Anda sendiri, bukan pada harapan bahwa seseorang akan memberi tahu Anda kapan waktu yang tepat untuk masuk kembali?

$IHSG $ADRO $ADMR

Read more...
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ADMR $ADRO induk dan anak sama sama mantaap
otw tambah muatan lagii

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ALKA $ADMR emiten produk aluminium di BEI apa aja ya?

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

volume penjualan naik tapi pendapatan turun ketimbang tahun lalu? itu karena harga batubara yang turun atau masih pengaruh spin off AADI? mohon pencerahannya suhu sekalian 🙏
$ADRO $AADI $ADMR

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ADMR
"Always try and envision the situation as you see it in 18 to 24 months... and looking where the Puck's going instead of where the puck is.” - Stanley Druckenmiller.

"Conversely, a High PE may be good news for a Cyclical. Often, it means that a company is passing through the worst of the doldrums and soon its business will improve, earnings will exceed expectations, and investors will start buying the stock.” - Peter Lynch.

Be Wise.

Read more...

$ADRO
logikanya aja, saham apa yg secara konsisten Dari Q1-Q4
Dua Kali lipatkan Net Profit nya? Secara Bertahap + Rutin bagi deviden ±12%/tahun for the past DECADE.

yap betul. Adro
that's all you need to know about this Wonderful company

harus Tau juga, dia ini baru mulai transition, baru First Year, Dan hasilnya sangat bagus, apalagi in the next 3-5 Years?

yang koar" bandingin sama LK tahun lalu, pake Otak sikit lah ya, find out what happened, don't talk talk bosku

RT: $AADI $ADMR

Read more...
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Sudahi debat kalian, senin nanti pokoknya $ADRO dan $ADMR arb.

LKnya busuk, karena perusahaannya untung.

Udah jelas jelas kalau perusahaan yang baik adalah perusahaan yang rugi.

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ADMR hopium

$ADRO klo hanya variable LK pasti gampang banget invest saham, apalagi tdk trlalu signifikan gak menjamin hrg naik. Ingat yg dapet dividen kemarin, gain nya msih banyak yg blm pada di TP, gain nya jg banyak yg 3x lipat dr dividen.
Kenaikan kemarin msih krn ekspektasi LK, dan paus memainkan psikologi itu utk menaikan hrg. Senin bisa saja naik dulu, tp hati2 ada trap take profit sebelum pengumuman dividen.
$ADMR $AADI

Read more...
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ADRO krna trget awal 2500 udh HIT, koreksi dlu ya klau bsa ke 2.100 atau 2000 an mau nmbh muatan lagi. krna trget ke 2 yaitu ke 2.700 dan trgetke 3 di 3000 an 😁😁😁

$AADI $ADMR

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$AADI $ADMR $ADRO

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ADRO jreeenggg EPS turun drastis ROE terjun, NPM sidewaya. Senin cepet2an jempol
$ADMR

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ADRO mkin ganteng aja lu ndro, LQ 4 ckep bnerr 😍😍😍,
bntr lg dvden ah keknya dvden pertnghn thun in lmyan gede 😜😜😜

$ADMR $AADI

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

@D4PP $ADMR Maaf saya bantu jawab

1.Pahami dulu apa itu komisioning (Pra-operasi) dengan operasional komersial. Dari November 2025 pihak ADMR juga mengumumkan mulai beroperasi di pertengahan dec 2025 kemarin. Dan Pada Desember 2025, KAI mengonfirmasi smelter dan pembangkit listrik akan online akhir tahun, dengan akhir komisioningnya.

2.Kita asumsikan kalo akhir dec 2025 menjadi akhir pengujian serta komisioningnya yang menandakan bahwa Fase 1 seharusnya sudah dimulai.

3.Kenapa di LK belum tecermin? Di pubexnya serta isu2 lainnya sudah terlihat bahwa beroperasi/ yg seharusnya di dec 2025 kmrin masih pra operasi, tentu sama sekali belum menghasilkan pendapatan dari aluminiumnya.

4.dan kenapa $ADMR cepat ter-Apresiasi? Kalo saya liatnya ini saham, momentum narative play, growth stock yang ekspektasinya tinggi, jadi investor lngsung mengambil langkah sebelum berita muncul.

Read more...
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ADMR SELLLLL

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ADMR biar panik

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

rungkad $ADMR

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ADMR kesini dulu sampe PT KAI beroperasi

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ADMR rungkad. hayo senin arb .😂.

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ADMR dead

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ADMR adohhhhh🥹🥹

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ADMR

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ADMR Senin ARA 😁

2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy