


Volume
Avg volume
ADHI awalnya didirikan pada tahun 1960 sebagai perusahaan pemborong milik Pemerintah Kolonial Belanda dengan nama Architecten-Ingenieurs en Aannemersbedrijf, yang kemudian dinasionalisasi melalui Peraturan Pemerintah No. 2/1960 dan dilebur pada tahun 1961 menjadi P.N. โADHI KARYAโ dengan pengalihan seluruh hak, kewajiban, perlengkapan, kekayaan, dan usahanya. Selanjutnya, pada tahun 1971, PN ADHI KARYA diubah menjadi perusahaan perseroan (Persero) berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 41/1971. Kemudian ADHI menjadi perusahaan konstruksi pertama yang melantai di Bursa Efek Indonesia pada tanggal 18 Maret 2004, yang melatarbelakang... Read More
$JSMR LK Full Year 2025:
Request member bukan di External Comunity Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community menggunakan kode: A38138 https://stockbit.com/post/13223345
JSMR sudah rilis Laporan Keuangan Full Year 2025 dan hasilnya memang bikin dahi berkerut, karena laba bersih turun cukup dalam. Tapi kalau investor berhenti hanya di kalimat laba anjlok, itu justru pembacaan yang terlalu dangkal. Soalnya yang melemah bukan mesin bisnis utamanya, melainkan hasil akhir setelah kena pukulan beban pajak yang melonjak dan hilangnya keuntungan satu kali yang tahun lalu sempat bikin angka laba terlihat lebih tebal. Jadi, ini bukan cerita bisnis tol yang mendadak loyo. Ini lebih tepat dibaca sebagai bisnis yang operasionalnya masih kuat, tetapi bottom line-nya ditekan faktor non-operasional. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Kalau dilihat dari sumber pendapatannya, PT Jasa Marga Persero Tbk (JSMR) masih sangat bertumpu pada pendapatan tol. Pos ini menyumbang Rp 18,15 triliun, naik dari Rp 17,22 triliun pada 2024. Ini tetap jadi cash cow utama. Pendapatan konstruksi tercatat Rp 10,07 triliun, tetapi investor jangan terlalu terpesona oleh angka besar ini karena hampir seluruhnya diimbangi beban konstruksi Rp 10,02 triliun. Artinya, secara ekonomi margin riilnya sangat tipis. Pos ini lebih mencerminkan pencatatan akuntansi proyek dibanding sumber laba yang benar-benar gemuk. Lalu ada pendapatan usaha lainnya Rp 1,65 triliun dari rest area, iklan, dan lini pendukung lain. Jadi struktur labanya jelas, yang benar-benar menopang bisnis inti tetap tarif tol dan arus lalu lintas kendaraan.
Di sinilah hal pentingnya. Secara operasional, JSMR sebenarnya tidak jelek-jelek amat lah. Laba usaha justru naik menjadi Rp 9,64 triliun. Laba bruto juga naik dari Rp 11,31 triliun menjadi Rp 11,78 triliun. Jadi penurunan laba bersih 14,25% dari Rp 5,60 triliun menjadi Rp 4,80 triliun bukan karena bisnis inti memburuk. Penyebab utamanya adalah lonjakan beban pajak penghasilan dari Rp 157 miliar menjadi Rp 1,54 triliun. Di 2024, JSMR juga menikmati keuntungan non-berulang seperti keuntungan kombinasi bisnis bertahap Rp 186 miliar dan diskon pembelian Rp 176 miliar. Ketika efek-efek itu hilang di 2025, laba bersih otomatis terlihat turun. Jadi, yang turun itu hasil akhir setelah faktor pajak dan item non-rutin, bukan kekuatan inti bisnis tolnya. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Kalau lihat ke arus kas, gambarannya kurang lebih sejalan. Arus kas operasi atau cash flow from operations (CFO) turun tipis 4,10% dari Rp 5,90 triliun menjadi Rp 5,66 triliun. Penurunan ini juga bukan karena pengguna tol mendadak sepi atau tidak bayar. Penerimaan kas dari pelanggan tol justru naik dari Rp 17,24 triliun menjadi Rp 18,07 triliun. Bahkan kas neto dari operasi sebelum bunga dan pajak naik ke Rp 11,55 triliun. Yang bikin CFO akhir melemah adalah pembayaran pajak tunai yang melonjak dari Rp 1,25 triliun menjadi Rp 2,53 triliun. Jadi, kas operasional inti sebenarnya masih sehat, tetapi sebagian besar hasil kerja operasional itu tersedot ke pajak.
Masalah besar JSMR justru muncul ketika CFO dibandingkan dengan kebutuhan belanja modal atau capital expenditure (capex). Di sini kelihatan bahwa free cash flow (FCF) JSMR sangat negatif. CFO Rp 5,66 triliun jelas tidak cukup untuk menutup penambahan Hak Pengusahaan Jalan Tol (HPJT) sebesar Rp 12,94 triliun. Artinya, uang operasional yang dihasilkan perusahaan habis, bahkan kurang, untuk membiayai ekspansi. Ini sangat khas bisnis infrastruktur. Jalan tol itu bisnis yang kelihatan enak karena monopoli, tetapi rakus modal. Jadi walaupun operasionalnya kuat, kebutuhan dananya jauh lebih besar daripada uang kas yang dihasilkan dalam satu tahun. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Karena itu, bisnis JSMR tetap reasonable, tetapi bukan berarti ini bisnis yang mudah. Reasonable karena ruas tol yang sudah beroperasi pada dasarnya punya karakter monopoli absolut di jalurnya. Buktinya, penerimaan kas riil dari pelanggan masih besar sekali, Rp 18,07 triliun. Tapi utangnya memang tidak mungkin langsung lunas hanya dari kas atau CFO tahunan. Kas JSMR per akhir 2025 hanya Rp 6,75 triliun, sementara total utang bank jangka pendek dan panjang sudah lebih dari Rp 72 triliun, ditambah obligasi Rp 2,53 triliun. Jadi, model bisnis JSMR memang hidup dengan refinancing, restrukturisasi tenor panjang, dan asumsi bahwa proyek-proyek tol baru pada akhirnya akan ikut menghasilkan arus kas. Selama akses ke pembiayaan tetap terbuka dan traffic tol tetap kuat, model ini masih jalan. Tapi jelas ini bukan tipe perusahaan dengan neraca santai.
Kalau melihat neraca, pertumbuhan aset, liabilitas, dan ekuitas memang menggambarkan pola ekspansi tersebut. Aset naik 7,58% dari Rp 148,71 triliun menjadi Rp 159,99 triliun. Pendorong utamanya adalah kenaikan HPJT dari Rp 132,00 triliun menjadi Rp 140,97 triliun. Ini berarti pertumbuhan aset didorong oleh penambahan proyek tol, bukan oleh kas menumpuk. Selain itu, konsolidasi PT Jasamarga Jogja Solo (JMJ) pada September 2025 juga ikut memperbesar total aset grup. Di sisi lain, liabilitas naik 8,62% dari Rp 89,88 triliun menjadi Rp 97,63 triliun. Ini logis karena ekspansi jalan tol memang dibiayai utang. Utang bank jangka panjang melonjak dari Rp 57,17 triliun menjadi Rp 68,80 triliun. Rasio utang terhadap ekuitas juga naik dari 1,4 kali menjadi 1,5 kali. Jadi aset JSMR memang bertumbuh, tetapi dibayar dengan leverage yang juga makin tebal. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Ekuitas naik 6,00% dari Rp 58,83 triliun menjadi Rp 62,36 triliun. Ini menarik karena terjadi di saat laba bersih justru turun. Banyak orang awam suka bingung melihat situasi begini, padahal secara akuntansi ini sangat wajar. Laba bersih adalah hasil satu tahun, sedangkan ekuitas adalah akumulasi kekayaan bersih yang tertahan di perusahaan. Selama perusahaan masih mencetak laba positif, ekuitas tetap bisa bertambah meskipun pertumbuhan laba dibanding tahun sebelumnya melambat atau turun. Dalam kasus JSMR, perusahaan masih mencetak laba Rp 4,80 triliun. Jadi sangat normal kalau ekuitas tetap naik.
Diskrepansi antara ekuitas yang naik 6,00% dan laba bersih yang turun 14,25% bukan red flag. Justru ini sehat. Yang red flag itu kalau ekuitas naik karena revaluasi aset yang agresif, rights issue terus-menerus, atau tambal-sulam modal untuk menutupi rugi operasional. Pada JSMR, ekuitas naik karena perusahaan masih untung besar secara riil. Memang pertumbuhan ekuitasnya tidak sebesar laba bersih yang dicetak, tetapi itu juga wajar karena ada distribusi keluar. JSMR membagikan dividen total Rp 1,94 triliun pada 2025. Selain itu ada rugi penghasilan komprehensif lain sekitar Rp 203 miliar, lalu ada tambahan setoran modal non-pengendali Rp 872 miliar. Setelah semua arus masuk dan keluar itu dihitung, kenaikan bersih ekuitas menjadi sekitar Rp 3,52 triliun. Jadi bukan berarti ada kejanggalan. Itu hanya menunjukkan bahwa sebagian laba memang dibagikan ke pemegang saham, bukan semuanya ditahan.
Soal piutang, bagian ini justru cukup bersih. Pengguna jalan tol bukan tipe pelanggan yang bisa menunggak karena sistem pembayarannya pakai uang elektronik di muka. Jadi tidak ada cerita pelanggan tol bandel yang bikin laba atau cash flow terganggu. Total pencadangan kerugian hanya Rp 134,3 miliar. Dibanding total aset Rp 159 triliun dan pendapatan Rp 29,8 triliun, angka ini sangat kecil, bahkan di bawah 0,1%. Artinya, risiko piutang macet pada bisnis inti praktis nyaris tidak material. Mayoritas piutang yang belum tertagih justru berasal dari pemerintah, terutama Kementerian PUPR sebesar Rp 494 miliar, serta piutang ke entitas afiliasi atau ventura bersama seperti PT Trans Jabar Tol dan pihak terkait lain. Jadi masalahnya lebih ke birokrasi dan timing pembayaran, bukan karena lawannya kolaps. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Bagian yang lebih menarik justru utang vendor. Dari datanya, memang terlihat JSMR cukup agresif menahan pembayaran ke kontraktor dan konsultan. Ada utang kontraktor jangka pendek Rp 402,9 miliar, utang kontraktor jangka panjang Rp 1,37 triliun, dan beban akrual ke kontraktor serta konsultan sampai Rp 6,25 triliun. Ini menunjukkan bahwa JSMR memakai modal kerja vendor sebagai bantalan likuiditas. Secara praktik, ini bukan berarti ilegal atau ngawur. Dalam bisnis infrastruktur, ini sering terjadi lewat term of payment (ToP) yang panjang atau skema contractor pre-financing (CPF), di mana kontraktor diminta bekerja dulu dan pembayaran penuh dilakukan ketika dana talangan tanah cair atau pinjaman sindikasi turun. Buat laba, strategi ini tidak terlalu menyakiti karena biaya banyak yang dikapitalisasi menjadi aset. Tapi buat likuiditas, ini jelas sangat membantu. Kalau JSMR harus membayar semua vendor cepat secara tunai, ruang napas kasnya bisa langsung sempit.
Dari sisi kompetisi, investor juga harus membaca dengan benar. Di bisnis jalan tol, hampir tidak ada kompetisi langsung di ruas yang sudah dikuasai, karena sifatnya memang konsesi monopoli. Kompetisi yang sesungguhnya justru terjadi saat tender proyek tol baru. Kalau JSMR kalah tender, maka potensi growth masa depan bisa pindah ke pemain lain. Karena itu, strategi utama JSMR bukan perang harga di jalan tol yang sudah jadi, melainkan membangun konsorsium untuk memenangkan tender dan membagi risiko pembiayaan. JSMR menggandeng BUMN konstruksi seperti PT Adhi Karya Tbk $ADHI, PT Pembangunan Perumahan Tbk $PTPP, PT Waskita Karya Tbk, dan mitra lain dalam berbagai proyek seperti PT Jasamarga Jogja Bawen dan PT Jasamarga Akses Patimban. Strategi ini masuk akal karena beban modal proyek jalan tol terlalu besar kalau dipikul sendirian. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Jadi JSMR di 2025 sebenarnya bukanlah perusahaan yang bisnisnya hancur. Laba bersih JSMR turun karena faktor pajak dan hilangnya keuntungan non-berulang, sementara bisnis operasional utamanya masih tetap mencetak uang. Pendapatan tol naik, laba usaha naik, penerimaan kas pelanggan naik, dan ekuitas masih bertambah. Tapi di saat yang sama, JSMR tetap menghadapi masalah klasik infrastruktur, yaitu FCF negatif, utang besar, ketergantungan tinggi pada refinancing, dan likuiditas yang ikut dibantu oleh penundaan pembayaran ke vendor. Jadi hasil 2025 ini tidak pantas dibaca terlalu pesimistis, tetapi juga tidak boleh dibaca terlalu optimis. Bisnis intinya masih kuat, namun struktur keuangannya tetap berat. Itu sebabnya, kalimat paling jujur untuk JSMR bukan sekadar laba anjlok, melainkan laba anjlok di tengah operasional yang masih sehat, tetapi dengan model bisnis yang tetap sangat haus modal dan sangat bergantung pada disiplin pendanaan.
๐ป Laba bersih turun 14,25% jadi Rp 4,80 triliun
๐บ Laba usaha malah naik jadi Rp 9,64 triliun
๐งพ Biang utamanya beban pajak naik dari Rp 157 miliar jadi Rp 1,54 triliun
๐ฐ Mesin Uang
๐ฃ๏ธ Pendapatan tol naik jadi Rp 18,15 triliun
๐๏ธ Pendapatan konstruksi Rp 10,07 triliun, tapi margin tipis karena beban konstruksi Rp 10,02 triliun
๐ช Pendapatan lain Rp 1,65 triliun
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
๐ธ Arus Kas
๐ต CFO turun tipis jadi Rp 5,66 triliun
๐งฎ Penerimaan kas tol tetap kuat, Rp 18,07 triliun
๐ง FCF negatif karena capex HPJT Rp 12,94 triliun
๐ฆ Neraca
๐ฆ Aset naik 7,58% jadi Rp 159,99 triliun
๐งฑ Liabilitas naik 8,62% jadi Rp 97,63 triliun
๐ฑ Ekuitas tetap naik 6,00% jadi Rp 62,36 triliun
๐ Utang besar, sangat bergantung refinancing
๐งพ Piutang macet kecil, tidak material
๐ ๏ธ Likuiditas terbantu penundaan bayar vendor
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/7







Salim Lim Terpantau Memiliki Beberapa Saham
$KBAG 8,45%
EPAC 2,13%
$ADHI 1,67%
$PURA 1,14%
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/7







@Fayola1980 jadi harus bgaimna baru dapat proyek $ADHI ini?harusnya manajemennya melakukan kunjungan ke timur tengah untuk mencari proyek
$ADHI akhirnya saham ini ada akumulasi, dari cek broksum foreign di harga atas, bisa dipertimbangkan untuk masuk
Ini dia salah satu cara saya filter saham agar tetap pede dan nggak gampang panik saat saham turun/market crash. Kuncinya simpel: Ikuti jejak โBig Moneyโ, tapi tetap berpijak pada Valuasi Rasional.
โถ๏ธ Tiga Screener Andalan Saya:
1. Frequency Spike: Deteksi dini saham yang tiba-tiba ramai (lonjakan aktivitas). Cocok untuk pantau momentum.
2. Bandar Accumulation Uptrend: Filter saham yang sedang dikumpul "Big Money" saat tren naik. Kita ikut arus besar.
3. Big Accumulation: Mencari akumulasi masif pada saham dengan fundamental sehat.
โถ๏ธ Dua Ratio "Safety Net" Wajib:
Di setiap screener, saya wajib pasang parameter ini untuk meminimalisir risiko:
1. PE Ratio < 20: Harga tidak kemahalan dibanding laba perusahaan.
2. Book Value > Price: Harga masih di bawah atau mendekati nilai aset bersihnya (PBV rendah).
โถ๏ธ Money Management & Strategi RDN:
Punya screener bagus tapi berantakan di modal itu bahaya. Strategi saya:
1. Multi-RDN: Pisahkan RDN untuk Trading (jangka pendek) dan RDN Investasi (jangka panjang) agar psikologi tidak terganggu fluktuasi harian.
2. Porsi Cash: Selalu siapkan "peluru cadangan". Jangan pernah All-In di satu harga.
3. Average Down Logis: Jika harga turun tapi akumulasi jalan terus & fundamental oke, saya pilih Average Down. Penurunan harga justru jadi "diskon" untuk nambah muatan.
Jadi Kesimpulannya,
Trading jadi nyaman kalau kita tahu "apa" yang kita beli dan "gimana" cara kelola uangnya. Strategi ini bikin saya tetap tenang meski market lagi merah membara. Tentunya masih banyak cara-cara lain yang lebih variatif dan mungkin jauh lebih baik, jadi tetap belajar untuk bertumbuh.
โ ๏ธ DYOR (Do Your Own Research): Screener hanyalah alat bantu. Selalu gunakan uang dingin dan sesuaikan dengan profil risiko masing-masing!
$ITMG $ADHI $KLBF

Lagi nyangkut? Santai duluโฆ
Sebelum mutusin keep hold atau cut loss, coba tarik napas dan tanya ke diri sendiri:
๐ โDulu gue beli saham ini karena apa, sih?โ
Coba jujur dan logis ya:
A. Karena ikut ikutan
B. Karena firasat
C. Karena itung kancing (ganjil = beli)
D. Karena rekomendasi orang lain
E. Karena ramalan zodiak
F. Karena bisikan dukun
G. Karena FOMO + takut ketinggalan
Kalau alasan buy bukan karena data, analisa, dan rencana,
jangan heran kalau sekarang malah nyangkut di harga pucuk dan galau.
๐ Ingat:
Pasar nggak salah. Yang perlu dievaluasi itu keputusan.
โถ๏ธ Follow & Kunjungi profil untuk insight dan postingan bermanfaat lainnya.
Random tag : $INET $ADHI $MNCN
ANALISIS SEROK SAHAM โ $ERAA
Harga Saat Ini : 440
1๏ธโฃ KONDISI HARGA
Harga berada di area tengah setelah pergerakan sebelumnya.
Belum menyentuh zona bawah ekstrem.
Area sekarang cenderung area supply minor, bukan zona serok ideal.
2๏ธโฃ MAPPING ZONA SEROK
Zona Serok 1 (Ringan)
410 โ 425
Area support terdekat.
Cocok untuk cicil 20โ30%.
Zona Serok 2 (Ideal)
370 โ 400
Support kuat sebelumnya.
Riskโreward lebih sehat.
Cocok untuk tambah posisi utama.
Zona Serok 3 (Diskon Bandar)
330 โ 360
Area panic selling / flush.
Entry agresif jika muncul reversal + volume.
3๏ธโฃ TARGET PANTULAN
TP1 : 470
TP2 : 500
TP3 : 540 โ 580 (jika momentum kuat)
4๏ธโฃ STOPLOSS WAJIB
Jika tutup di bawah 320
Struktur rusak โ wajib disiplin cut.
5๏ธโฃ SIMULASI RISK : REWARD
(Contoh Entry Zona Ideal 390)
Risiko ยฑ70 poin
Potensi TP1 ยฑ80 poin
Potensi TP2 ยฑ110 poin
Estimasi R:R
1 : 1,1 sampai 1 : 1,6
Masuk bawah = tekanan psikologis lebih kecil.
KESIMPULAN PASUKAN SEROK
Harga 440 bukan zona terbaik untuk serok maksimal.
Strategi terbaik menunggu ditekan ke 400 โ 370.
Jangan beli karena FOMO naik.
Kita beli saat orang panik dan harga murah.
Yang sering nyangkut beli di atas.
Pasukan Serok hadir beli di bawah, Boss.
Nyangkut disaham apa Boss? Sini aku bantu $ADHI $TOWR
$ADHI makanya tel kemarin dikasih waktu buat keluar tuh keluar. Jangan maruk market lagi sepi gini haaha
KABARBURSA.COM โ Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat pada perdagangan hari ini, Rabu, 25 Februari 2026, setelah naik 41,40 poin atau 0,50 persen ke level 8.322,23 pada Rabu, 25 Februari 2026. Sepanjang sesi perdagangan, indeks sempat menyentuh level tertinggi di 8.373,48 dan terenda...

www.kabarbursa.com

KABARBURSA.COM โ Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat pada perdagangan hari ini, Rabu, 25 Februari 2026, setelah naik 41,40 poin atau 0,50 persen ke level 8.322,23 pada Rabu, 25 Februari 2026. Sepanjang sesi perdagangan, indeks sempat menyentuh level tertinggi di 8.373,48 dan terenda...

www.kabarbursa.com
