THE BEAUTY OF ENCEK GLODOK: THE SERIES (Part 1)

THE BASIC STRATEGIES: A MECHANIC AGAINST THE HUMAN NATURE

Kalau tidak mengerti akuntansi dan bisa membaca laporan keuangan atau paham tentang pola candle stick dan indikator teknikal lainnya, bisa kah kita berinvestasi atau trading saham? Ini adalah sebuah pertanyaan yang sering ditanyakan orang awam yang baru mau memulai “main” saham secara mandiri/dilakukan sendiri.

Jawaban umum dari pertanyaan tersebut biasanya adalah “TIDAK BISA DAN JANGAN DILAKUKAN”, jika elu gak mau mengalami kerugian. Idealnya seseorang yang mau berinvestasi atau trading saham secara mandiri perlu memiliki salah satu pengetahuan tersebut.

Bagi seorang investor, kemampuan akuntansi dan pemahaman akan laporan keuangan adalah sebuah keharusan, karena itu adalah “Bahasa” untuk mereka agar bisa memahami informasi yang diberikan. Serupa dengan itu, pola candle stick dan indikator teknikal lainnya juga merupakan sinyal yang berfungsi sebagai penunjuk arah bagi para trader kemana kira-kira harga sebuah saham akan menunju.

Kalau belum bisa tapi tetap mau berinvestasi/trading saham, sebaiknya tidak dilakukan secara langsung, tapi pasif saja melalui reksadana/ETF. Serahkan urusannya kepada mereka yang memang “ahli” di bidang ini. Untuk yang pasif ini, elu bisa memilih reksadana/ETF yang dikelola secara aktif atau pasif (reksadana/ETF index).

Apakah kalau memilih reksadana/ETF elu udah pasti untung dan lebih baik? Sayangnya, TIDAK ATAU BELUM TENTU UNTUNG DAN LEBIH BAIK.

Terdapat banyak sekali kekurangan dari reksadana/etf aktif yang mungkin akan membuatnya tidak menghasilkan output sesuai yang elu inginkan. Pertama, biaya pengelolaannya besar. Biaya ini bersifat pasti yang akan mengurangi return lu, sementara return lu tidak pasti.

Kedua, cara pengelolaan yang tidak transparan dan sistem insentif atau peraturan yang ada seringkali biasanya tidak memihak ke elu. Di sini, terdapat masalah “principal agent problem” yang parah, yang membuat manager investasi (MI) mungkin tidak akan bekerja untuk kepentingan nasabahnya secara optimal.

Contohnya, di Indonesia ada aturan besaran persentase dana yang boleh dimasukkan untuk tiap saham dan ini membuat MI tidak bebas menerapkan strategi terbaik mereka. Contoh lain, ketiadaan “skin in the game” (ketiadaan dana MI sendiri yang di”pertaruhkan”) mungkin membuat mereka tidak terlalu terbebani dan secara ceroboh mengelola dana nasabahnya, toh itu bukan uang mereka.

Contoh terakhir, kinerja MI juga biasanya di nilai oleh nasabah dalam jangka pendek. Akibatnya, komposisi porto yang dibuat MI biasanya menyerupai Index, agar jika kinerjanya buruk, tidak disalahkan oleh nasabah dan membuat nasabah lari. Evaluasi jangka pendek ini juga bisa membuat mereka malah terlalu aktif gonta-ganti saham untuk mengejar return jangka pendek, karena bonus dan gaji mereka ditentukan oleh kinerja jangka pendek ini.

Atau kalaupun MI nya sebenarnya baik dan ingin berusaha mendapatkan return yang baik, seringkali hal tersebut juga sulit dilakukan, karena aktivitas keluar-masuk dana nasabah yang umumnya berorientasi jangka pendek.

Berdasarkan kelemahan tersebut, banyak reksadana/ETF aktif ini berkinerja buruk dan jarang sekali yang bisa mengalahkan index secara konsisten dalam jangka panjang.

Atau kalaupun reksadana/ETF aktif berkinerja baik dalam jangka panjang, menariknya data yang ada menunjukkan bahwa hal tersebut belum tentu sama terjadi dengan kinerja investasi nasabahnya.

Banyak nasabah, memasukkan uangnya ke reksadana/ETF ketika pasar sedang bullish dan menarik uangnya ketika pasar sedang bearish. Atau mereka tidak sabar menunggu strategi MI-nya berhasil, karena perlu diingat setiap MI yang bisa mengalahkan pasar dalam jangka panjang, pasti ada suatu waktu dimana kinerja mereka lebih rendah dari pasar di jangka pendek

Fakta bahwa banyak reksadana/ETF aktif bekinerja buruk dan lebih rendah dari index ini, telah membuat banyak orang sekarang beralih kepada reksadana index atau ETF index. John Bogle adalah orang yang mempelopori sistem investasi ini.

Dan Warren Buffett juga mengamini pemikiran Bogle ini bahwa ini adalah cara terbaik untuk SEBAGIAN BESAR/KEBANYAKAN ORANG yang ingin berinvestasi saham di pasar modal. Dia bahkan menyarankan kepada keluarganya untuk berinvestasi di reksadana/ETF index ini setelah ia tiada nanti.

Reksadana/ETF index ini dapat mengatasi sebagian besar masalah yang terjadi pada reksadana/ETF aktif di atas. Biayanya murah dan kinerjanya sudah pasti akan sama seperti index. Di sini, nasabah dapat terhindar dari adanya resiko kinerja investasi yang lebih rendah dari rata-rata pasar atau index.

Sayangnya, walaupun dalam jangka panjang kinerja reksadana/ETF index ini baik (liat IHSG dalam jangka panjang arahnya selalu ke atas dan return nya lebih tinggi dari deposito atau asset lain), reksadana/ETF index ini tidak bisa menghilangkan resiko yang kedua, yaitu resiko kinerja buruk yang diakibatkan oleh tindakan nasabah sendiri yang keluar masuk pasar di waktu yang salah.

Karena mengikuti naluri alamiah manusia dari hasil evolusinya, perasaan fear and greed telah membuat banyak investor bertindak mengikuti kerumunan. Mereka masuk pasar ketika bullish, tapi keluar pasar ketika bearish. Banyak dari mereka yang perutnya mules dan menjual sahamnya pada waktu dimana seharusnya mereka membeli/menambahnya. Akibatnya, kinerja investasi mereka seringkali lebih rendah dari reksadana/ETF indexnya sendiri.

Berdasarkan semua penjelasan di atas, berinvestasi/trading saham, baik yang dilakukan secara mandiri sendiri, ataupun pasif melalui reksadana/ETF (aktif dan pasif), seharusnya TIDAK DILAKUKAN oleh orang yang “perutnya lemah”. Bagi orang-orang ini, lebih baik uangnya ditaruh saja di deposito, reksadana pasar uang atau obligasi pemerintah saja.

Sebagaimana pernah disampaikan oleh Peter Lynch: "Everyone has the brainpower to make money in stocks. Not everyone has the stomach. If you are succeptible to selling everything in a panic, you ought to avoid stocks and mutual funds altogether."

Nah, kalau begitu gak usah juga dong bahas “the beauty of encek glodok” dan berinvestasi saham secara mandiri?

Eit, tunggu dulu. Karena tulisan ini sudah begitu panjang, nantikan lagi lanjutan tulisan dengan topik yang sama ini berikutnya.

STAY TUNED DI SINI…TABIK.

NB:
- Tulisan ini hanya iseng dan buat catatan pribadi gue saja. Jika dikira berguna silahkan baca, jika merasa terganggu dan jelek, silahkan skip, block atau unfollow gue.
- Waktu update tulisan ini dilakukan tidak secara regular, tetapi tergantung dari mood dan kesediaan waktu gue.
- Tulisan ini bukanlah ajakan untuk meniru apa yang dilakukan oleh kakdr way. Karena seperti telah ditulis di teaser series tulisan ini, strategy tersebut mungkin hanya cocok untuk kakdr saja, dan tidak untuk orang lain. Tulisan ini diharapkan bisa jadi pelajaran untuk elu dalam mencari strategy investasi/trading saham lu sendiri.

Read more...