Selamat pagi teman2.
Ijin komentar mengenai suatu narasi yang tidak tepat di grup Barito.
Transaksi repo itu tidak bisa margin call, jika tidak ada klausul2 tambahan.
Disclaimer off. Karena teman dari teman saya dulu yang kerja di institusi kerjanya setiap hari ngurus ginian.
Repo tidak bisa margin call, karena biasanya sudah ada 2 ketentuan.
Ketentuan pertama itu mengenai rasio jaminan. Jika rasio jaminan 200%, apabila konglo menjaminkan suatu saham senilai 1T, maka dana yang didapatkan adalah 500M.
Ketentuan kedua mengenai forced liquidation.
Biasanya, forced liquidation ato yang kemarin diviralkan margin call itu terjadi, ketika market value suatu saham sudah di bawah jaminan.
Berarti, jika suatu saham dijaminkan di harga 8.000, rasio jaminan 200%, ketika harga saham tinggal 4.000, harusnya forced liquidation.
Kecuali jaminannya ditambah.
Jaminan ditambah maksudnya?
Ya tinggal kasih lagi barang, di harga 4.000, sebanyak 500M. Berarti total jaminannya adalah 1T, sementara utang yang diberikan 500M. Tidak terjadi forced liquidation.
Kalo misalnya sahamnya turun lagi sampai 2.000, ya tinggal kasih lagi barang, di harga 2.000, sebanyak 500M. Total jaminannya lagi2 jadi 1T. Tidak terjadi forced liquidation.
Jadi sampai kapanpun, suatu saham yang direpo bisa dicegah dari forced liquidation. Tinggal jaminannya aja ditambah terus ampe ganti pengendali.
Kalo tidak dikasih barang lagi gimana?
Jika ada forced liquidation atau margin call, itu artinya pihak yang berutang, dalam kasus ini konglonya sendiri, akan mengamali kesulitan dalam mendapatkan fasilitas repo ke depannya karena reputasinya sudah jelek.
Jadi biasanya dari pada repo nya cair, mending dikasih barang terus.
.
.
.
Lalu narasi kedua yang tidak tepat agar seimbang.
Akan didorong oleh mereka2 lagi, supaya masuk MSCI lagi.
Jawabannya, dalam kondisi seperti ini, tidak mungkin.
Cornering itu cuma berlaku selama barang masih di mereka.
Prinsip utama cornering itu selama barang masih di mereka2 ya harganya suka2 mereka.
Jadi, jika harga udah patah ke bawah, jebol support, artinya barang sudah dibuang ke luar.
Berarti penumpang gelapnya sudah bertambah banyak.
Kalo tujuan cornering itu adalah dibuang ke MSCI, maka bandar akan hitung barang.
Kalo misalnya exit liquidity MSCI nya 10T.
Untuk masuk MSCI butuh harga 8.000, tapi di harga 2.000 penumpangnya 5T, maka di harga 8.000, penumpang nya ada berapa? 20T.
Kira2 ada gak yang mau kerja kalo keluar uangnya 20T, tapi dapat uangnya cuma 10T?
Berbeda dengan ekspektasi kalian, jawabannya, ya, MASIH BISA.
Selama pelaku pasar yang pegang 5T itu semuanya percaya akan ke MSCI.
Jadi dimasukin ke sana nya rame2. Kalo itu masih bisa, dan malah MSCI nya tidak bisa complaint, karena transaksinya beneran organic.
Tapi Anda amati dengan kondisi market saat ini, apakah marketnya bullish?
Apakah marketnya masih tinggi risk appetitenya ke MSCI?
Apakah regulasi MSCI nya sendiri menunjukkan tanda2 menerima permainan seperti ini?
Sama sekali tidak.
.
.
.
Kalo sudah sangkut gimana?
Ya tolong diingat omongan saya yang dulu2 sekali. Ketika semua sahamnya belom masuk MSCI, saya pernah menulis gini.
"saham Pak PP resikonya gosong total, kalo resiko ini tidak bisa diterima, jangan dibeli, masih ada saham2 lain."
Ketika CDIA IPO, saya pernah nulis gini.
"reputasi PP di market itu seperti angsa bertelor emas, selama angsa itu belum disembelih, kita akan terus percaya ke PP"
Dan ketika sahamnya sudah masuk MSCI, tapi masih gas terus, saya pernah nulis gini.
"ada yang bilang CUAN ini main karena IPO anak usahanya di bidang emas, ada yang bilang mau upweighting, ada yang bilang juga masih nyari transaksi repo, semua nya anggep aja cuma kecap, selama harga masih naik terus, ya kita ikuti terus, tapi kalo sudah jebol support, ya diingat2, saham jika sudah masuk MSCI, maka exitnya ke retail".
Dan ketika harganya sudah di bawah ambang batas threshold, saya pernah nulis gini.
"semua saham ada masanya, semua saham ada masanya, tidak ada pesta yang tidak berakhir"
Terima kasih Tuhan udah kasih kita Pak PP selama taun 2024-2026.