Menanti Manisnya Kopi Mayora
Rasanya campur aduk jika memegang saham Mayora Indah ($MYOR) sepanjang tahun 2025 ini, mungkin lebih dominan rasa pahitnya ketimbang manis. Kita sudah sampai di penghujung tahun, dan kalau boleh jujur, kinerja perusahaan selama sembilan bulan pertama ini memang bikin garuk-garuk kepala. Bayangkan saja, di saat penjualan mereka sebenarnya tumbuh hampir 6%, laba bersih yang masuk ke kantong justru menyusut lebih dari 8% dibanding tahun lalu. Ini aneh, kan? Biasanya kalau dagangan makin laku, untungnya ikut nambah. Tapi di sini, uangnya seolah menguap begitu saja, membuat banyak investor ritel seperti kita bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi di dapur keuangan mereka.
Jawabannya sebenarnya klasik, beban biaya yang "menggila". Tahun ini sepertinya jadi tahun ujian berat buat MYOR karena harga bahan baku utama mereka, yaitu kakao dan kopi, sempat terbang tinggi sekali. Kita tahu sendiri MYOR itu rajanya permen cokelat dan kopi instan, kalau harga biji kopi dan cokelat naik, margin keuntungan mereka pasti tergerus habis-habisan. Belum lagi ada masalah beban bunga utang yang melonjak drastis sampai lebih dari 76% tahun ini. Jadi, meskipun mesin pabrik mengepul dan truk distribusi sibuk wara-wiri, uang yang tersisa di ujung hari jadi sangat tipis.
Tapi, jangan buru-buru membuang saham ini dari portofolio, karena ada cerita menarik yang sedang terbentuk untuk tahun depan. Kalau kita perhatikan tren harga komoditas belakangan ini, harga kakao dan kopi mulai menunjukkan tanda-tanda "lelah" dan melandai turun. Ini adalah sinyal yang sangat penting. Logikanya begini, MYOR sudah terlanjur menaikkan harga jual produk mereka ke konsumen, dan jarang sekali ada perusahaan yang menurunkan harga jual saat harga bahan baku turun. Jadi, ketika harga bahan baku nanti turun di 2026 sementara harga jual biskuit dan kopi tetap di atas, selisih keuntungannya bakal melebar signifikan. Inilah yang disebut potensi pesta margin.
Selain itu, kita juga harus melihat kondisi dompet masyarakat kita. Memang daya beli sempat lesu, tapi ada angin segar yang diprediksi berhembus tahun depan. Dengan adanya rencana kenaikan upah minimum dan kucuran bantuan sosial tunai (BLT) dari pemerintah di akhir tahun ini sampai awal tahun depan, roda konsumsi di masyarakat bawah bakal berputar lagi. Produk MYOR itu receh tapi penting, saat orang punya sedikit uang lebih, jajanan seperti Beng-Beng atau Kopiko adalah hal pertama yang mudah dibeli. Penjualan domestik mereka mungkin bisa tumbuh 7-8% tahun depan berkat faktor ini. Jangan lupa juga soal ekspor, karena pasar luar negeri mereka tetap stabil dan terus tumbuh.
Lalu, bagaimana dengan harga sahamnya? Saat ini, pasar sepertinya sedang menghukum MYOR karena kinerja 2025 yang lelet, sampai-sampai harga sahamnya dihargai cukup murah. Valuasi saham ini untuk proyeksi kinerja 2026 berada di kisaran 17 kali, padahal biasanya rata-rata historisnya di atas 20 kali. Ini ibarat kita bisa membeli barang bermerek tapi dengan harga diskon karena kotaknya agak penyok sedikit. Pasar seringkali terlalu fokus pada spion kaca belakang melihat apa yang sudah terjadi, dan lupa melihat kaca depan tentang apa yang akan terjadi.
Saya melihat ini sebagai momen di mana kesabaran kita diuji. MYOR saat ini seperti pegas yang sedang ditekan kuat oleh mahalnya harga bahan baku. Begitu tekanan itu hilang seiring turunnya harga komoditas, pegasnya punya potensi melompat tinggi di tahun 2026 nanti. Laba bersih mereka bahkan mungkin bisa rebound atau memantul naik hingga 15% tahun depan. Jadi, pilihannya apakah mau masuk saat pesta sudah ramai dan harga tiketnya mahal, atau berani masuk sekarang saat tuan rumah masih sibuk bersih-bersih dan menata meja?
Ini bukan rekomendasi jual dan beli. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
$ICBP $CMRY