Internet Murah, Mimpi Valuasi Mewah
Bayangkan sebuah skenario di mana internet kencang bukan lagi barang mewah yang cuma bisa dinikmati warga kota besar atau penghuni apartemen mahal. Selama ini, kita sering terjebak dalam ironi digital, gembar-gembor ekonomi digital yang nilainya ribuan triliun, tapi realitas di lapangan masih banyak rumah tangga yang sinyalnya "senin-kamis" karena tak sanggup bayar langganan serat optik ratusan ribu per bulan. Di sinilah Solusi Sinergi Digital ($WIFI), mencoba masuk dengan strategi yang terdengar nekat tapi masuk akal, jualan internet murah meriah.
Melihat laporan terbaru per November 2025, WIFI tampaknya tidak berminat menantang langsung raksasa seperti Telkomsel Indonesia ($TLKM) atau Indosat di pasar data seluler, apalagi bertarung frontal dengan Indihome di segmen kelas menengah atas. Mereka justru memilih jalan tikus yang ramai lewat produk "Internet Rakyat". Dengan harga langganan cuma Rp100.000 per bulan, mereka membidik lapisan masyarakat yang selama ini cuma bisa mimpi punya WiFi unlimited di rumah. Ini mengingatkan saya pada strategi jualan barang receh, untung per unit tipis, tapi kalau yang beli jutaan orang, gunungan uangnya bisa jadi bukit.
Senjata utama mereka bukan cangkul untuk gali kabel serat optik yang biayanya mahal dan bikin pusing urus izin, melainkan teknologi bernama Fixed Wireless Access atau FWA pada frekuensi 1,4 GHz. Bahasa gampangnya, ini seperti "serat optik udara". Internet ditembakkan dari menara langsung ke modem di rumah pelanggan. Secara teori, ini brilian karena memangkas biaya dan waktu pemasangan secara drastis. Bayangkan tidak perlu lagi ada drama gali-gali tanah di depan pagar rumah tetangga. Namun, tantangan klasiknya tetap sama, stabilitas. Kita semua tahu betapa kesalnya saat hujan deras turun dan sinyal mendadak hilang. Pertanyaannya, apakah teknologi ini cukup tangguh melayani jutaan rumah tanpa ngadat?
Di sinilah menurut saya peran manajemen logistik jadi kunci mati hidup perusahaan, bukan sekadar jualan kecap manis teknologi. Penunjukan Andrew Teh sebagai Direktur Supply Chain baru-baru ini adalah sinyal bagus bahwa WIFI sadar "medan perang" sesungguhnya ada di gudang dan distribusi. Mengirim dan mengelola jutaan modem ke rumah-rumah di gang sempit di seluruh Jawa butuh eksekusi level dewa. Kalau Andrew yang punya pengalaman mendigitalkan gudang sebelumnya bisa menerapkan sihirnya di sini, mesin uang WIFI mungkin benar-benar bisa ngebut. Tanpa logistik yang rapi, target jutaan pelanggan itu cuma akan jadi angka cantik di atas kertas.
Menariknya lagi, ada isu soal potensi akuisisi aset serat optik milik Link Net ($LINK) dari Axiata. Kalau ini kejadian, WIFI bakal naik kelas. Dari sekadar pemain nirkabel yang mengandalkan tiang sewaan, mereka bisa berubah jadi tuan tanah infrastruktur yang lebih serius dengan jaringan serat optik sendiri. Ini bisa jadi katalis ganda, memperkuat sinyal jaringan sekaligus mendongkrak valuasi perusahaan di mata investor yang suka dengan aset fisik. Tapi ingat, belanja barang gila-gilaan seperti ini butuh modal besar. Kita harus tetap waspada menengok isi dompet perusahaan, jangan sampai nafsu ekspansi bikin arus kas jadi berdarah-darah.
Namun, di balik euforia angka-angka fantastis itu, saya melihat risiko yang tak boleh diabaikan. Bisnis telekomunikasi itu kejam. Satu kali saja jaringan down massal, pelanggan bisa kabur dan reputasi hancur dalam semalam. Belum lagi risiko makro ekonomi seperti fluktuasi kurs dolar yang bisa bikin harga perangkat impor melambung. WIFI menawarkan peluang pertumbuhan yang sangat seksi bagi mereka yang percaya pada tesis pemerataan internet murah, tapi seperti semua investasi dengan iming-iming imbal hasil tinggi, risikonya juga bukan kaleng-kaleng.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.