$ACES Haruskah Average Down?
Pertanyaan member bukan External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Ada member Pintar Nyangkut yang nyangkut ACES di harga 495. Dia beli ketika euforia masih tinggi, padahal ACES ini bukan saham kecil yang gampang digerakkan naik turun sesuka hati. Sekarang harga pelan-pelan sudah turun lalu sempat jatuh cukup dalam sampai kisaran 418 setelah sebelumnya pernah dimanjakan pasar di sekitar 830 dalam setahun terakhir. Di titik ini baru muncul kegelisahan klasik apakah lebih baik average-down, pura-pura lupa sambil menunggu, atau sekalian potong luka dan pindah ke saham lain yang lebih hidup. Yang menarik, penurunan harga ini tidak terjadi karena ACES bangkrut atau kehabisan kas, justru neracanya termasuk salah satu yang paling tebal di sektor ritel. Pasar menghukum bukan karena perusahaan hampir tumbang, tetapi karena cerita pertumbuhan yang dulu dijual mahal ternyata tidak terwujud seindah narasi. Jadi posisi nyangkut di 495 ini ibarat memegang bisnis ritel besar yang sehat secara keuangan, tetapi sedang dicap malas tumbuh oleh pasar. Dalam kondisi seperti ini investor sering terjebak antara logika angka dan emosi ingin cepat balik modal. Pertanyaannya, apakah langkah paling masuk akal sekarang adalah average-down, diam saja sambil menunggu katalis, atau justru menerima kenyataan pahit dan mengalihkan modal ke emiten lain. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Dari sisi fundamental, yang dipegang member tadi bukan rongsokan. Secara legal perseroan memang sudah berganti nama menjadi PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk, tetapi bagi pasar tetap dikenali sebagai ACES. Harga pasar ada di sekitar 418, sementara laba per saham untuk 9 bulan pertama 2025 sekitar 33,57. Kalau angka ini dibawa ke proyeksi setahun penuh, kurang lebih menjadi 44,76 per saham. Bandingkan dengan EPS penuh 2023 sekitar 44,63, berarti selama dua tahun terakhir laba hampir tidak bergerak, hanya naik sekitar 0,30%. Di 2024 sempat ada jeda napas ketika laba tahunan naik dari sekitar 763,50 Miliar menjadi 892,04 Miliar, kenaikan kira-kira belasan persen yang cukup membuat pasar kembali percaya diri. Sayangnya momentum itu tidak berlanjut ke 2025. Laba sembilan bulan 2025 sekitar 576,55 Miliar, kalau diannualisasi hanya mengarah kira-kira 768,73 Miliar. Itu berarti potensi penurunan laba sekitar 13,82% dibanding 2024. Buat pasar yang sebelumnya mau membayar harga 830, kombinasi EPS yang mandek dan proyeksi laba tahunan yang turun adalah alasan sangat kuat untuk menurunkan valuasi dengan keras.
Padahal jika hanya melihat neraca, ACES ini seperti brankas yang diletakkan di tengah mal. Per 30 September 2025, kas dan setara kas konsolidasian sekitar 1,82 Triliun, sedangkan total liabilitas sekitar 1,71 Triliun. Secara garis besar, kas saja sudah cukup menutup seluruh kewajiban, bahkan masih menyisakan posisi net cash positif. Utang bank praktis tidak ada, komponen utang terbesar justru liabilitas sewa sekitar 0,92 Triliun yang berasal dari kontrak sewa gerai dan properti ritel. Rasio utang terhadap ekuitas di kisaran 0,26 kali, yang artinya perusahaan tidak menggantungkan hidup pada pinjaman bank. Untuk ukuran peritel besar, ini neraca yang sangat konservatif dan nyaman untuk tidur. Kalau ada krisis ekonomi yang menekan konsumsi, perusahaan dengan struktur seperti ini jauh lebih tahan dibanding ritel yang hidup dari utang bank dan arus kas pas-pasan.
Di sisi arus kas, cerita ACES bahkan lebih menarik. Penerimaan kas dari pelanggan untuk sembilan bulan 2025 sekitar 6,84 Triliun, sementara kas operasi bersih yang tersisa sekitar 959 Miliar. Artinya margin kas operasi sekitar 22,05%. Jika dibandingkan dengan laba bersih sekitar 734,08 Miliar, rasio kas operasi terhadap laba bersih kira-kira 1,31 kali untuk level grup, dan untuk proksi entitas induk sempat mencapai sekitar 2,63 kali. Bahasa kasarnya, setiap 1 Rupiah laba akuntansi diikuti lebih dari 1 Rupiah kas nyata yang benar-benar masuk ke rekening. Ini indikator kualitas laba yang sangat baik. Perusahaan tidak hidup dari laba kertas, tetapi dari uang tunai yang mengalir dari pelanggan. Dari kacamata investor konservatif, kombinasi net cash dan kualitas laba seperti ini adalah mimpi indah.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Kalau begitu, kenapa harga bisa jatuh dari 830 ke 418 dan membuat orang nyangkut di 495 merasa seperti pegangan kursi yang tiba-tiba ditarik dari belakang. Di sini jawabannya ada di sisi persaingan dan ekspektasi. ACES bukan lagi satu-satunya toko peralatan rumah dan gaya hidup yang nyaman didatangi kelas menengah. MR DIY masuk dengan strategi harga lebih agresif, sering kali lebih murah sekitar 15 sampai 20 persen untuk produk serupa. Perkembangan tokonya pun jauh lebih agresif, jumlah gerai mendekati seribu dan ditargetkan tembus lebih dari 1.700 toko dalam beberapa tahun. Skala seperti ini memberi daya tawar luar biasa ke pemasok dan membuat biaya per unit barang lebih rendah. Sementara ACES harus mengimbangi dengan program promosi, diskon, dan perbaikan pengalaman belanja, semua itu memakan marjin. Ditambah lagi serangan e-commerce dan marketplace yang menjual produk sejenis dengan perang harga dan subsidi ongkir. Akibatnya, walaupun penjualan konsolidasian ACES pada 2024 naik dari 7,62 Triliun menjadi 8,58 Triliun, laba bersih di 2025 kembali tertekan. Pasar melihat grafik top line naik, tetapi bottom line mulai melemah, dan di situlah kepercayaan terhadap narasi growth mulai luntur.
Belum selesai di situ, ada satu bab lain yang sering luput dari perhatian investor ritel, yaitu dinamika pihak berelasi. ACES berada di bawah payung Kawan Lama Group. Pemegang saham pengendali utama adalah PT Kawan Lama Sejahtera, dengan figur Kuncoro Wibowo di kursi presiden komisaris. Banyak entitas dalam grup yang diklasifikasikan sebagai perusahaan dalam pengendalian yang sama. Praktiknya, arus bisnis dan keuangan dengan pihak berelasi ini tersebar di hampir semua lini mulai dari pembelian barang, sewa properti ritel, sampai piutang dan utang pihak berelasi. Per 30 September 2025, piutang pihak berelasi naik dari sekitar 12,17 Miliar di akhir 2024 menjadi sekitar 98,80 Miliar. Lonjakan ini berarti ada porsi kas ACES yang mengalir ke entitas lain dalam grup dan sementara diparkir dalam bentuk piutang. Selain itu liabilitas sewa kepada pihak berelasi juga besar, karena banyak gerai berada di properti milik grup yang sama. Bukan berarti otomatis merugikan, tetapi struktur seperti ini membuat pemegang saham publik harus ekstra kritis. Kelebihan kas memang ada di ACES, tetapi arah aliran kas di dalam grup bisa membuat nilai tambah tidak sepenuhnya jatuh ke pangkuan investor publik.
Sekarang kita tarik semua ini ke level valuasi. Di harga 418, dengan EPS proyeksi sekitar 44,76, PER ACES berada di kisaran 9,34 kali. Nilai buku per saham sekitar 380,39 sehingga PBV sekitar 1,10 kali. Kalau dibandingkan dengan masa ketika ACES diperlakukan sebagai saham growth, PER bisa bermain jauh di atas 15 kali, bahkan menyentuh kisaran dua puluhan ketika cerita ekspansi dan SSSG masih sangat seksi. Hari ini pasar tidak mau lagi membayar premium seperti itu. Price to Sales berada di kisaran 0,83 kali, EV to Sales sekitar 0,82 kali karena posisi net cash. Harga 418 juga berarti sekitar seperempat harga saham sebenarnya merupakan kas bersih, kas per saham sekitar 106,27 sementara total liabilitas per saham sekitar 99,86. Secara teori value investing murni, kombinasi net cash, kualitas laba tinggi, dan valuasi di bawah PER 10 kali adalah paket yang menggoda. Namun pasar tidak hanya menilai safety, tetapi juga prospek pertumbuhan. Lemahnya growth membuat saham seperti ACES mudah terjebak dalam label value trap, bisnis aman tetapi harga jalan di tempat.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Buat member yang nyangkut di 495, dilema terbesar sering bukan di angka, melainkan di kepala. Secara matematis, jika investor awalnya punya misalnya 10 lot di 495, total modal sekitar 495.000. Kalau kemudian menambah 10 lot lagi di harga 418, total saham menjadi 20 lot dengan total modal sekitar 913.000, sehingga rata-rata harga turun menjadi 456,50. Dengan satu aksi average-down, jarak ke harga sekarang menyempit cukup banyak. Kalau suatu saat harga kembali misalnya ke 540, dari posisi rata-rata 456,50 masih ada ruang cuan yang lumayan. Tetapi average-down juga artinya menambah eksposur ke saham yang sama. Kalau ternyata beberapa tahun ke depan laba betul-betul stagnan dan harga hanya berputar di kisaran 380 sampai 450, investor justru makin terjebak lebih dalam. Di sinilah average-down sering berubah dari strategi rasional menjadi pengikat psikologis yang membuat investor enggan mengakui kesalahan awal.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Cara paling waras adalah memisahkan tiga hal safety, growth, dan kebutuhan pribadi. Dari sisi safety, ACES sangat kuat. Neraca net cash, kas besar, utang bank nyaris nihil, kas operasi jauh di atas laba akuntansi, dan bisnis ritel rumah tangga cenderung bertahan walaupun ekonomi melambat. Sulit membayangkan ACES tiba-tiba kolaps. Dari sisi growth, situasinya jauh lebih rumit. Persaingan dengan MR DIY dan e-commerce membuat ACES harus rela menukarkan sebagian marjin untuk mempertahankan volume penjualan. Manajemen berusaha melawan lewat rebranding, konsep toko Next-Gen, dan penguatan lini brand seperti Azko dan Krisbow, tetapi hasil ini belum tercermin penuh di angka laba 2025. Dibutuhkan waktu beberapa tahun untuk menilai apakah strategi transformasi ini benar-benar mengangkat kembali ROE dan pertumbuhan laba. Sementara dari sisi kebutuhan pribadi, ada investor yang butuh uang tunai dalam setahun, ada yang siap memegang saham bertahun-tahun. Itu tidak bisa diseragamkan.
Bila investor bertipe pencari growth cepat, jujur saja ACES di 418 bukan kandidat ideal. Perusahaan ini lebih mirip obligasi ritel yang punya kas besar dan potensi dividen, dengan peluang rerating kalau suatu saat pasar kembali menghargai kualitas neraca. Namun untuk mengejar pergerakan harga tajam dalam waktu singkat, banyak emiten lain yang menawarkan kombinasi momentum dan berita menarik. Untuk tipe investor ini, cut loss terukur di kisaran minus belasan persen bisa dibenarkan, selama modal yang dibebaskan benar-benar dipindahkan ke saham dengan prospek pertumbuhan laba yang jelas, bukan berpindah ke gorengan siklus yang akhirnya juga membuat nyangkut lagi. Yang berbahaya adalah cut loss hanya karena emosi, tanpa rencana portofolio yang lebih baik setelah keluar.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Sebaliknya, bagi investor yang nyaman dengan gaya value, ACES di level sekarang mulai masuk zona menarik. PER di bawah 10 kali, PBV sedikit di atas 1, posisi kas bersih, dan bisnis yang sudah matang tetapi masih menghasilkan NPM sekitar 11,79% di sembilan bulan 2025, itu profil yang jarang di pasar yang banyak berisi emiten kas tipis dan utang menumpuk. Untuk tipe ini, menahan posisi di 495 tidak masalah selama porsi ACES di portofolio tidak kelewatan besar. Average-down bisa dipertimbangkan, tetapi idealnya disiplin menunggu dua hal. Pertama, harga mendekati nilai buku di sekitar 380 sehingga margin of safety semakin tebal. Kedua, laporan keuangan berikutnya, terutama Q4 2025 dan sepanjang 2026, menunjukkan peningkatan laba bersih dan kas operasi yang tidak terus turun. Kalau kedua syarat ini terpenuhi, average-down bukan sekadar menurunkan angka minus, tetapi betul-betul menambah paparan di saat probabilitas pembalikan kinerja lebih tinggi.
Di tengah semua itu, ada juga cara pandang bandar atau trader yang suka memanfaatkan bandul emosi pasar. Dari sudut pandang ini, ACES di sekitar 418 dengan net cash dan valuasi murah punya lantai harga yang cukup jelas. Turun sampai jauh di bawah nilai buku akan berat selama neraca masih sekuat sekarang. Setiap kali pasar terlalu pesimis dan menggiring harga mendekati 380, itu berpotensi menjadi area akumulasi untuk skenario swing menengah. Ketika sentiment sektor ritel membaik, atau ada kabar dividen besar, atau laporan keuangan menunjukkan perbaikan marjin, harga berpeluang kembali diperdagangkan di PER 12 sampai 15 kali. Dalam skenario seperti itu, target harga teoretis berada di kisaran 537 sampai 671. Bukan cerita pasti, tetapi cukup logis untuk trader yang paham membaca siklus benci sayang pasar terhadap saham defensif.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Pada akhirnya posisi nyangkut di ACES harga 495 tidak otomatis salah, tetapi juga tidak otomatis aman. Yang keliru adalah kalau investor tidak jujur pada diri sendiri tentang alasan tetap bertahan. Kalau bertahan hanya karena gengsi tidak mau mengakui salah, itu berbahaya. Kalau bertahan karena setelah melihat angka neraca, arus kas, dan valuasi, investor menilai bahwa risiko turunnya laba sudah cukup dibayar oleh harga murah sekarang, itu jauh lebih bisa dibenarkan. Bagi saya pribadi, dengan profil ACES yang sekarang, langkah paling rasional untuk investor yang tidak butuh uang dalam waktu dekat adalah menahan posisi, mengurangi kebiasaan cek harga setiap menit, dan baru mempertimbangkan average-down bila dua kondisi terpenuhi harga turun mendekati nilai buku dan laporan keuangan mulai menunjukkan sinyal pertumbuhan laba dan kas operasi yang pulih. Sampai momen itu tiba, ACES boleh diperlakukan sebagai brankas di pojok portofolio, bukan mesin penggandaan uang kilat, sambil investor mencari peluang lain yang lebih agresif untuk memuaskan hasrat spekulatif di saham berbeda.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
$MDIY $MAPI
