imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$SONA LK Q3 2025: Valuasi Lui Vitong

Kalau kita ingin bicara valuasi SONA (PT Sona Topas Tourism Industry Tbk), hal pertama yang harus disadari adalah ini bukan sekadar saham ritel atau pariwisata biasa. Ini perusahaan dengan dua wajah yang sama-sama kuat. Wajah pertama, bisnis operasionalnya tumbuh lagi setelah era pandemi. Wajah kedua, neracanya seperti brankas kosong dari utang, tapi penuh uang tunai, dan dikunci oleh lisensi-lisensi kelas premium yang tidak banyak perusahaan bisa pegang. Jadi ketika orang melihat SONA di harga 2.510 rupiah, yang sebenarnya dibeli bukan hanya toko dan penjualan, tapi juga akses dan hak eksklusif yang tidak bisa digandakan kompetitor. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

External Comunity Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community menggunakan kode: A38138 https://stockbit.com/post/13223345

Dari sisi angka, SONA memegang kas 671,30 miliar rupiah per Q3 2025 YTD. Kalau dipecah per lembar saham, ini setara 1.013 rupiah. Artinya, 40% dari harga saham 2.510 rupiah itu sebenarnya adalah uang tunai yang tersimpan, bukan asumsi masa depan, bukan goodwill, bukan tebakan proyeksi. Perusahaan ini juga tidak punya utang berbunga sama sekali. Nol. Tidak ada kewajiban cicilan bank, tidak ada risiko bunga naik, tidak ada ancaman refinancing. Di saat banyak emiten ritel bergelut dengan utang dan margin, SONA duduk di posisi paling aman yang bisa dibayangkan.

Laba bersih Q3 2025 YTD setelah diannualisasi mencapai 79,78 miliar rupiah, yang jika dibagi ke 662,4 juta saham, menghasilkan EPS 120,45 rupiah. Kalau dihitung PER, memang terlihat 20,84 kali. Buat sebagian orang, ini tampak mahal. Tapi menilai SONA murni dengan PER sama saja seperti menilai bank hanya dari jumlah ATM, padahal aset utamanya ada di modal dan likuiditas. Di SONA, nilai intinya bukan cuma laba, tapi juga kas dan hak lisensi. Karena itu, jika kita geser lensa ke rasio yang lebih menggambarkan daya mesin bisnisnya, hasilnya lebih menarik. EV/EBITDA di 6,88 kali, Price to CFO 7,83 kali, dan Price to FCF 8,95 kali. Artinya, jika kita pisahkan uang tunai dari perhitungan dan hanya menilai operasional, SONA sebenarnya tergolong murah. Bisnisnya menghasilkan kas kuat, dengan capex rendah (sekitar 26,61 miliar rupiah annualized), sehingga sebagian besar kas operasional berubah menjadi arus kas bebas. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Namun ada pertanyaan besar. Kalau neracanya sangat kuat, kenapa PBV-nya 2,39 kali? Kenapa investor masih mau bayar 2,39 kali nilai bukunya? Jawabannya ada di hak yang tidak tercatat di kolom jumlah aset yaitu lisensi dan akses eksklusif. SONA memegang lisensi DFS Singapore Venture (grup LVMH) selama 50 tahun sejak 2011, termasuk hak memakai logo DFS, akses rantai pasok barang mewah, serta fasilitas kredit sampai 90 hari. DFS bukan vendor biasa. Ini pintu gerbang ke ekosistem merek premium dunia. Tanpa ini, SONA hanya akan jadi toko bandara biasa. Dengan ini, SONA menjadi duty free retailer yang legit dan tidak tergantikan.

Selain itu, SONA juga memegang lisensi WH Smith hingga 2029, sudah menjalankan 19 gerai, dan biaya franchise-nya sendiri naik dari 3,73 miliar rupiah menjadi 6,31 miliar rupiah, yang secara implisit menunjukkan aktivitas bisnisnya makin padat, bukan semakin layu. Di sisi lain, SONA juga membayar biaya konsesi bandara 126,02 miliar rupiah di Q3 2025 YTD, naik dari 99,92 miliar rupiah periode sebelumnya. Ini bukan sekadar beban. Ini pajak untuk akses trafik manusia paling premium di Indonesia. Konsesi tidak dibayar kalau tidak ada penjualan. Makin besar konsesi, makin besar penjualan yang lewat di toko mereka. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Lalu apakah SONA mahal atau murah di 2.510 rupiah? Ini tergantung sudut pandang. Secara konservatif, valuasi ideal PBV 1 kali ada di 1.049 rupiah, PER 10 kali ada di 1.204 rupiah. Dengan kacamata skeptis, harga sekarang terlihat premium. Tapi dengan kacamata aset tersembunyi, hak eksklusif, kas melimpah, dan zero debt, 2.510 rupiah masih bisa dijustifikasi sebagai harga sebuah franchise bandara bermerek global, bukan sekadar retail. Kalau pun dinilai dari payback period, laba akrual butuh 20,8 tahun untuk balik modal. Tapi dari arus kas operasi, perusahaan bisa balik modal dalam 7,8 tahun. Dari arus kas bebas, hanya butuh 8,95 tahun. Artinya, kualitas kas SONA jauh lebih kuat daripada kualitas laba akuntansinya.

Risiko terbesar SONA bukan di neraca, bukan di margin, bukan di lisensi, tapi di alokasi modal. Kas 671 miliar rupiah kalau hanya diparkir di deposito 2,25% sampai 6,75% akan perlahan kehilangan nilai secara riil. Jika manajemen tidak mengembalikan modal lewat dividen, buyback, atau ekspansi ritel di luar Bali (yang saat ini menyumbang 84,1% revenue), maka uang itu bukan jadi sumber kekuatan, tapi sumber frustrasi investor. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Pada akhirnya, valuasi SONA adalah duel antara angka dan hak istimewa. Angkanya tidak jelek, bahkan efisien di level operasional. Tapi hak eksklusifnya jauh lebih menentukan harga wajarnya dibanding sekadar laba bersih. SONA bukan saham pertumbuhan agresif, bukan juga perusahaan murah meriah. SONA adalah perusahaan dengan moat perizinan, lokasi, dan akses premium di jalur turisme, yang saat ini sedang dinilai oleh pasar dengan pertanyaan besar apakah manajemennya mau bergerak ofensif atau terus nyaman duduk di atas tumpukan kas. Dan jawaban itu yang nantinya akan menentukan apakah 2.510 rupiah terlihat mahal, atau justru terlihat murah di masa depan.

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx

Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU

Read more...
2013-2025 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy