$TAXI Reborn?
Ketertarikan saya sama emiten ini awalnya cuma gara-gara notifikasi keterbukaan informasi di web IDX. Waktu itu disebut ada kerja sama dengan RAB Rekan Anak Bangsa, anak usahanya $GOTO. Dari situ saya mulai ngulik lebih dalam, bahkan sempat beli sahamnya juga. Tapi sekarang udah nggak pegang lagi karena saya khawatir soal kuorum yang bisa ribet kalau free float-nya terlalu besar.
Pas paparan publik bulan Desember, saya ikut hadir dan sempat nanya langsung ke manajemen. Mereka bilang semua utang lama udah beres, pool operasional udah ditutup, dan armada taksi udah dijual semua. Sekarang yang tersisa cuma beberapa bus buat di sewakan.
Dirutnya juga cerita kalau ke depan mereka mau fokus ke taksi listrik dengan sistem bagi hasil sama pemilik mobil. Bahkan sempat nyeletuk, “Kalau Bapak Ibu punya mobil listrik dengan spek sesuai armada kami, bisa kerja sama bagi hasil.” Jadi konsepnya lebih ke open platform daripada punya armada sendiri.
Nah yang menarik, malam ini habis saya nonton Frankenstein di Netflix, muncul notifikasi di Stockbit. Isinya TAXI kerja sama pengelolaan kendaraan sama Indomobil National Distributor, anak usahanya $IMAS. Saya kaget juga karena waktu itu yang dipresentasikan itu BYD M6, jadi saya kira bakal eksklusif di situ. Ternyata nggak. Mereka justru makin terbuka ke berbagai merek, dan bisa kerja sama sama grup sebesar Indomobil, yang artinya masih ada kepercayaan dari pemain besar di industri otomotif.
Kalau saya lihat, dengan market cap sekitar Rp160 miliar, mereka cuma perlu laba sekitar Rp16 miliar buat nyentuh PER 10. Tapi jujur aja, urusan ngejar angka itu buat saya udah PR sekunder. Jalannya udah jelas, tinggal lihat kelanjutannya di keterbukaan informasi atau pubex berikutnya, entah dari pihak IMAS atau TAXI sendiri. Yang paling krusial sekarang justru soal kepemilikan pengendali. Selama belum ada PSP baru yang solid, sulit berharap banyak aksi korporasi bisa jalan lancar, karena dengan jumlah investor individu sebanyak itu, urusan kuorum aja udah jadi tantangan besar.