imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Sekilas masalah study tour, ragam pungutan sekolah, dll ini hanya isu lokal yang tidak ada dampak signifikannya ke ekonomi negara.

https://cutt.ly/arrxCRcQ

Tapi yang seperti ini sudah jadi kebiasaan menahun dan dinormalisasi.

Sekolah negeri dan swasta dari TK sampai tingkat SMA berlomba-lomba mengadakan study tour dengan ragam judul acara, jauh-jauh jalannya sampai nginep-nginep.

Lulusan sekolah TK sekarang sudah pake wisuda-wisudaan, perpisahan, dll, yang mana sekolah narikin duit jutaan rupiah dari masing-masing murid.

Belum lagi narik duit setiap ekskul, setiap kegiatan (latihan kepemimpinan, OSIS, dll), setiap praktek olahraga misalnya tiket masuk kolam renang atau sewa GOR badminton, yang semestinya cuma berapa duit, tapi ditarikin dari murid melebihi dari yang semestinya.

Kegiatan praktek tiap mata pelajaran juga jadi ladang cari duit. Harus beli bahan, modul, buku, atau materialnya secara kolektif lewat guru atau sekolah, yang kadang sengaja dimahal-mahalin.

Dan masih banyak lagi.

Walaupun sekolah harusnya udah gratis, tapi pungutan-pungutan itu kalau ditotalkan sudah lebih dari iuran resmi sekolah (SPP).

Padahal sekolah sudah banyak dapat bantuan operasional dari pemerintah pusat dan daerah dengan anggaran triliunan rupiah. APBN dan APBD itu alokasi terbesar kan buat pendidikan.

Tapi kalau nunggak iuran atau tidak bayar pungutan, maka ijazah ditahan di sekolah.

Alhasil orang tua yang kurang mampu harus pinjam sana sini buat bayar ragam pungutan itu, bahkan rela utang berbunga tinggi (bank keliling, rentenir, pinjol) biar anaknya tetap bisa sekolah dan tetap bisa ikut kegiatan, tidak malu dan ketinggalan dengan anak-anak lain.

Kalaupun masih mampu dan tidak pinjam duit, ragam pungutan itu tentu lebih produktif kalau dipakai untuk belanja rumah tangga yang penting, atau memberi kursus ekstra bagi anak-anak di luar sekolah sesuai minat dan bakatnya.

Apalagi yang udah kena jerat bunga tinggi, gimana ekonomi mau tumbuh, gimana konsumsi masyarakat mau meningkat.

Duit triliunan kalau dihitung efek sampingan dan turunannya, tentu berdampak besar ke PDB.

Kasus yang diangkat Gubernur Jabar KDM ini juga menjadi bukti kalau korupsi itu sudah jadi mental yang mengakar kuat ke bawah, bukan cuma elit dan pejabat di atas seperti kasus Pertamax oplosan baru-baru ini.

Mental korup masih nyaman ada di benak para tenaga pendidik. Maka mau jadi apa murid-muridnya kalau tenaga pendidik malah kasih contoh yang tidak baik.

Semoga langkah Gubernur Jabar ini bisa segera memperbaiki tata kelola pendidikan.
Jadi gak ada alasan lagi sekolah dan guru bilang kekurangan uang untuk operasional, dan tak ada alasan lagi narik pungutan yang aneh-aneh dari murid.

Pimpinan daerah lain diharapkan berani mengambil langkah yang sama, dan pemerintah pusat pun perlu dukung langkah ini.

$BJBR $SSIA $ULTJ

Read more...
2013-2025 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy